Weekend adalah saat yang paling ku tunggu-tunggu. Walau aktivitasku cenderung monoton di weekend, yaitu kalo nggak jalan-jalan sama Tiara ya palingan tidur, tapi ini selalu lebih baik dari pada duduk berjam-jam di kantor dengan kepala pusing. Tapi berhubungan hari ini aku sangat malas dan lelah, maka opsi jalan-jalan dengan Tiara kuhapuskan. Aku akan tidur seharian –kalau bisa.
Kenapa aku berkata seperti itu? Karena aku yakin semuanya nggak selalu sesuai rencana. Selalu ada hal-hal tak terduga yang menyelinap dalam rencana khusus yang sudah kubuat. Seperti yang terjadi sekarang. Aku hanya ingin tidur, tapi Mama datang dan mengomel tentang rencana perjodohanku yang sudah terancam batal lagi.
Kalau seperti ini sih pusingnya nggak jauh beda dengan aku duduk seharian di kantor.
“Masih bisa makan kamu, huh?”
Nah kan, judesnya keluar. Aku langsung menghentikan tanganku yang ingin menyuapkan nasi ke mulut.
“Aku laper, Mi. Masa iya gara-gara perjodohan batal terus aku nggak boleh makan lagi.” Aku mencoba membujuknya. “Aku makan dulu ya, abis itu kita ngobrol lagi tentang itu. Gimana, okay?”
“Ya udah, makan yang kenyang. Abis ini kamu hutang penjelasan ke Mami!”
Penjelasan apalagi sih, Mi? aku mendengus dalam hati. Semuanya sudah aku jelaskan dengan baik. Kehilangan perempuan yang baru calon aja marahnya luar biasa banget. Perasaan dua bulan lalu nggak sampe kayak gini deh. Di kasih jampi-jampi apa sih sama calon yang yang sekarang.
Tadinya aku memang berencana makan, tapi bagaimana bisa makan kalau Mami duduk di sebelahku dan menunggui aku makan. Mami bener-bener niat buat dengerin penjelasan yang sebenarnya aku pun nggak tahu mau menjelaskan apa.
“Mi, ngapain sih di sini? Arisan sana, atau urusin Tiara atau apalah. Jangan mantengin aku kayak gini.” Ujarku dengan agak sebal. Aku meletakkan sendok berisi nasi yang tak jadi aku suapkan.
“Mami nggak bakal pergi ke mana pun sampe kamu kasih Mami penjelasan. Mami nggak ada jadwal arisan terus Tiara juga lagi main sama Mbok Yem. Mami bakal nunggu kamu buat jelasin semuanya!”
Aku memijat keningku. “Penjelasan apalagi sih, Mi?” aku sedikit frustasi sekarang.
“Kenapa perjodohan ini bisa batal, Al?” Wajah Mami tampak frustasi banget. Segitu pentingnya kah calon yang sekarang sampe kayak begini?
“Aku udah jelasin semuanya, Mi. Dia mungkin emang nggak mau nikah sama aku.”
“Nggak mungkin, Al. Mami sama keluarganya udah sepakat.”
“Ya kan kalian yang sepakat, bukan anaknya. Siapa tahu dia udah ketemu sama cowok yang dia sukai?” Aku mencoba membawa Mami pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Pasti kamu ngelakuin sesuatu kan sama dia? Hayo, ngomong sama Mami, Al. Pasti kamu udah lakuin sesuatu sampe anaknya kolega Mami sama Papi jadi nolak.”
“Kok Mami malah nuduh aku kayak gitu?” Tanyaku marah. Kok aku dituduh-tuduh kayak anak tiri sih.
“Kamu juga ngelakuin itu sama Viona kan? Mantan calon dua bulan lalu!”
Aku menggaruk tengkukku kasar. “Gini, Mi. Aku akuin kalo aku memang bikin hal buruk sama Viona... Tapi aku nggak ngelakuin hal aneh-aneh buat calon yang sekarang. Bener, Mi.” Aku menegaskan.
Mami menatap mataku intens. Aku tahu kalo dia masih menaruh curiga. Jujur saja, aku memang melakukan sesuatu pada calonku yang sekarang. Tapi hanya sedikit, benar-benar sedikit. Kalau dibandingkan dengan si Viona, ini sih murni karena aku ingin mengetes dia saja. Kejadian dengan Viona karena aku bener-bener belum mau dijodohkan, jadi memang usahaku untuk membuatnya batal ya agak menjengkelkan banget. Tapi mau bagaimana lagi, perempuan itu mungkin memakan umpanku dan nggak bisa menerima apa yang kukatakan. Aku bisa apa kalau dia memang ingin mundur saja?
“Jangan ngomong kalo kamu mau balikan sama Alika-Alika itu? Awas aja kalo berani balikan sama dia, Alvaro.” Ujar Mami dengan tegas. Alika adalah mantan –itupun kalau bisa disebut mantan- yang baru kuputuskan dua bulan lalu. Alika jugalah yang membuat Mami langsung menjodohkan aku dengan siapapun yang menurutnya pantas. Karena di mata Mami, Alika ini bener-bener nggak sesuai dengan standar yang ada.
Mami merasa kalau Alika adalah perempuan yang hanya menginginkan uangku saja. Dan bodohnya aku –menurut Mami- karena selalu menuruti kemauan Alika tanpa pikir panjang. Mami bilang kalau hubungan kami nggak punya masa depan. Dan aku pun membenarkannya karena selama ini kami hanya menjalani hubungan yang datar-datar saja. Tidak ada perasaan menggebu-gebu maupun ungkapan cinta. Jujur saja, awal mula aku tertarik pada Alika hanyalah karena dia yang menarik perhatianku saat di klub. Sebenarnya bukan hanya perhatianku, tapi perhatian semua pria. Dan karenanya aku tertantang untuk menaklukkannya. Dan ketika semua itu sudah berhasil ya sudah. Alika hanyalah Alika yang terlihat biasa saja.
“Nggak, Mi. Astaga. Kepikiran aja nggak, tapi kok Mami malah ngungkit-ngungkit dia sih.”
“Ya abisnya kamu jengkelin kayak gini. Percaya deh, Al, jodoh Mami ini lebih baik dari Alika-Alika itu.”
Aku percaya seratus persen. Tapi ya mau bagaimana lagi?
“Mami udah suka banget sama calonmu yang sekarang. Mami pengennya kamu tetep nikah sama dia, Al.”
“Mi, nggak baik kalo maksain kehendak. Kalo memang aku sama dia berjodoh, pasti kami bersatu kayak apapun. Kalo Mami mau jodohin, cari yang memang single. Jangan cari yang udah punya pacar. Bisa aja nantinya dia nerima perjodohan ini cuma karena kepatuhannya terhadap orangtua. Aku nggak mau menikah dengan perempuan seperti itu. Kami nggak akan bahagia. Cuma menyiksa diri masing-masing.”
Entah dari mana aku bisa mendapatkan kalimat-kalimat itu. Benar-benar nggak terduga. Sepertinya dijodohkan dan terus gagal membuat aku sedikit lebih bijak.
“Aduuh, terus gimana dong? Jadi, kamu gagal nikah lagi, dong?” Mami kelihatan frustasi, tapi mau bagaimana lagi?
“Nggak usah stres-stres, Mi. Santai aja. Rileks, rileks.”
“Kamu batal nikah lagi, gimana bisa Mami rileks, hah?”
Inilah efek terlalu nafsu menjodohkan. Aku sebagai target perjodohan saja biasa saja ketika gagal lagi, tapi kenapa Mami yang bertugas mencomblangkan yang pusing setengah mati? Mungkin karena Mami berharap terlalu tinggi.
“Gimana kalo Mami ke Bogor aja? Susulin Papi terus kalian di sana aja dulu selama beberapa hari. Itung-itung liburan pendek. Gimana?” Aku mengusulkan sesuatu yang cocok untuk melupakan harapan Mami yang terlalu tinggi pada calon menantunya tersebut.
“Terus Tiara gimana?” Kayaknya Mami mulai tergiur deh. Aku tersenyum menenangkan.
“Tiara titipin aja ke tempat Tante Inggrid. Dia kan juga neneknya, pasti nggak akan keberatan menampung Tiara selama beberapa hari.”
“Mami pikirin lagi deh.”
Dalam hati aku berdoa semoga saja Mami memang menyetujuinya. Dengan begitu dalam beberapa hari aku akan hidup dengan sangat tenang. Mami nggak ada, Tiara juga nggak ada, dan perjodohanku batal. Aku bisa bernafas dengan lega.
TBC