Di atas Sofa, tubuh Tina bergelinjang hebat kala bibir Casias menjelajah liar leher sang model hingga ke belahan dad*.
"AHĤH ... yess. I want more, Cas. Hmmp, I miss you," lenguh Tina nikmat seraya menjambak rambut Casias.
Birah* Casias pun terpancing dan melakukan manuver menindih tubuh aduhai Tina.
Namun, saat matanya terbuka, Casias berhenti berkedip. Seolah ada permainan sihir, Tina dalam sekejap menjelma menjadi Elara.
El ....
"Sentuh dan jamah tubuhku, Cas. Bagaimana pun aku adalah istrimu."
Kalimat yang pernah Elara ucapkan itu kembali terulang. Pernah ada dimana momen Elara dan Casias terbawa suasana panas saling cumb* dan Elara memohon agar bisa berc*nta dengan Casias.
Namun, Casias menolaknya. Bukan karena tubuh Elara, ia hanya tak yakin pada saat itu. Tapi sekarang, justru ucapan Elara menggema bagai ilusi yang lebih menggairahkan. Padahal, saat ini ia sedang mencumb*i cinta pertamanya.
"Cas ... kenapa berhenti?" tanya Tina terdengar kecewa berat saat Casias menarik mundur tubuh atletisnya.
"Ini sudah larut. Pulanglah."
Tina meraih tangan Casias yang baru saja berdiri.
"Apa karena istrimu? Bukankah kau janji akan selalu menungguku setahun yang lalu? Pernikahanmu hanya perjodohan, bukan?" Tina mengambil sikap berdiri, mensejajarkan diri dengan Casias. "Aku akan menunggumu kali ini. Aku tau kau masih mencintaiku dan aku tidak akan kemana-mana. Aku resmi berkiprah di tanah air." Tina kembali memeluk tubuh mantan kekasihnya itu.
Sementara itu, tak ada sanggahan yang keluar dari mulut Casias, tapi di sisi lain hatinya mulai tak yakin untuk sekedar mengangguk setuju.
Sial! Mengapa rasanya sulit sekarang! Finasalisasi perceraian dengan Elara besok dan wanita yang kau inginkan telah kembali. Ayo katakan kau juga menantikannya, Cas, batin Casias terjerat dilema hebat.
"Pulanglah dulu. Aku lelah. Kita akan bicarakam ini nanti, hmm?!" ucap Casias berlainan dengan hati.
Kau tidak boleh bersikap agresif, Tina agar Casias tidak muak. Aku akan mengalah kali ini dan datang lagi. Akan kupastikan menjadi Nyonta Langford segera.
"Baiklah, beristirahatlah, Sayang. Kita akan bertemu lagi." Tina mengecup bibir Casias singkat dan lalu pergi.
Namun, sepeninggalan Tina. Casias malah dengan cepat mengeluarkan ponsel san men-dial nomor Elara.
Entah mengapa, hatinya gelisah dan ingin menghubungi sang istri kontraknya itu. Sayangnya, beberapa kali dihubungi, Elara sama sekali tak menjawab panggilan Casias.
Di sisi lain.
PLAK!
Elara melayangkan tamparan pada pria di hadapanya karena geram, telah bersikap arogan, menuduhnya keji tanpa bukti yakni menjadi wanita bersuami yang berselingkuh dengan adiknya.
"BRE*NGS*K!" umpat sang pria tak terima. "You have no idea who am I!" geramnya angkuh dengan penekanan nada.
"Kau yang brengse*k! Seenaknya menghina orang tanpa bukti. Dan satu hal, Tuan! Aku tidak takut dengan siapapun selama aku benar!"
DEG!
Wow! Dia bernyali juga. Tak pernah ada sebelumnya yang berani menantangku! batin sang pria geram sekaligus kagum.
"Dia benar, Kak! Maaf meskipun kita keluarga, tapi kau keterlaluan kali ini," timpal sang adik memihak Elara.
"Diam, Ash! Atau semua fasilitasmu akan kublokir!" ancam sang kakak pada adiknya bernama Asher Winston.
Seketika, Asher gelagapan diiringi nyali yang menciut.
Tanpa melepaskan pandangan dari Elara, pria itu menelpon seseorang untuk masuk ke ruangan serupa ruang VIP di Club Malam tersebut.
Tak lama, salah satu bodyguard yang tadi menggiring Elara masuk ke dalam, membawa sebuah alat canggih tab berukuran 10 inci dan menyodorkannya pad asnag pria. Jemarinya mulai berkutat menggeser layar tab tersebut.
Mau apa dia? batin Elara.
"Tandatangani perjanjian ini lalu pergilah dengan cek sesuai nominal disana dan jangan pernah memunculkan diri lagi atau akan tau resikonya!"
Tak langsung protes, atensi Elara malah tertarik sejenak untuk membaca isi tulisan di dalam tab yang disodorkan sang pria.
Namun, betapa terkejutnya ia, kala yang dibacanya adalah sebuah perjanjian NDA (Non-Disclousure Aggrement) atau perjanjian rahasia berupa dokumen pengikat secara hukum.
Setau Elara, NDA digunakan untuk menutup 'mulut' orang yang bisa menyebabkan potensi skandal. Biasanya selebritis atau publik figur yang bayak melakukan hal tersebut untuk menjaga image mereka.
"What the hell is this?!" Elara tercengang seraya mengalihkan tatapan tajam ke arah Asher. "Apa mungkin kau selebritis yang takut terkena skandal? Tapi, aku tak pernah mendengar namamu atau rupamu di medsos?!"
Asher terkekeh sepontan mendengar ucapan polos Elara. Sementara sang kakak terlihat memutar bola matanya dengan malas.
"Apa yang lucu?! Setauku hanya seleb atau publik figur yang sering menggunakan NDA," protes Elara kesal pada Asher.
"Ekhem, maaf. Bukan maksudku mengejek. Apa kau masih mengikuti berita di televisi atau medsos Nyonya ..."
"Namaku Elara," sahut Elara menginformasikan namanya.
Hmm, Elara.
Pria beraut dingin itu mengulang nama Elara dalam hati, sementara Asher bertanya sekali lagi pertanyaan yang sama. Namun, kali ini, ia meminta Elara memperhatikan dengan seksama rupa sang kakak yang masih berdiri tegap di depannya. "Apa wajah kakakku terlihat familiar bagimu?"
Elara pun melakukan apa yang diminta Asher, menatap wajah pria yang dimaksud dengan seksama. Tanpa ia sadari, kedua mata mereka saling tatap intens.
Wajahnya memang terlihat tidak asing, tapi dimana aku melihatnya? Aku hanya membuka medsos untuk hiburan menonton DraCin dan scroll menu masakan.
Otak Elara mencoba mengingat-ingat lagi.
"Ch! Rupanya kau tidak terkenal, Kak," ledek Asher.
"Diam kau!" sentak sang kakak pada Asher.
"Baik-baik. Kalau begitu apa kau kenal nama Robert Winston? Belakangan namanya sedang trending!"
"Robert Winston ... calon walikota?!" celetuk Elara terkesiap.
Asher pun membenarkan bahwa kakaknya adalah calon kandidat walikota terpilih yang digadang akan maju di pemilihan umum yang akan dihelat tak lama lagi.
Sial!
Elara mengumpat sesal dalam hati, rasanya ia ingin mencabut kata-kata beraninya beberapa saat yang lalu. Tangannya bahkan menampar pipi calon orang nomor satu di ibu kota.
Berurusan dengan satu keluarga konglomerat saja sudah membuatnya muak dan rumit, apalagi dengan pria powerfull seperti Robert.