“Baiklah, kali ini apa yang akan kalian saksikan adalah barang terakhir dari kami … yang paling indah akan selalu disimpan untuk terakhir.”
Pria bertopeng badut berucap sumringah ke seluruh penjuru ruang yang diisi oleh orang-orang bersetelan mahal di setiap bilik kecil, menilik dari balik teropong di tangan mereka ke arah dimana sosok yang dimaksud si pembawa acara menaiki panggung.
Setiap mata memandang gadis bersurai pirang nyaris platina berkilauan ditimpa redupnya kemilau lampu panggung. Kulit porselen yang bersih, dan jangan lupakan iris ruby menyala menjadikan gadis terakhir di acara pelelangan b***k ⸻ satu-satunya permata yang bersinar di atas tumpukan sampah.
Dan penawaran pun dimulai, si pria bertopeng badut tersenyum lebar kala para pelanggan setianya menawar dengan harga tinggi. Suasana semakin meriah karena setiap orang berlomba mendapatkan hidangan penutup dari acara malam itu, beda halnya dengan si gadis berambut platina yang menatap nyalang tanpa rasa takut. Tubuhnya penuh carut marut karena luka sayat serta cambukan. Ia merasa begitu kotor karena gaun berwarna putih tipis nyaris tak dapat menutupi setiap bagian tubuhnya.
Manik saga si gadis menatap intens sekeliling, memperhatikan satu-persatu para aristokrat biadab yang berani membelinya bak sebuah barang. Hingga pandangannya jatuh pada sepasang iris keemasan di salah satu bilik, gadis itu sangat mengetahui siapa pemilik iris itu. Mereka bertukar pandang cukup lama. Tetapi pandangan mereka terputus kala si pembawa acara tiba-tiba saja telah memukul palu, “Satu juta keping emas, gadis rubi ini terjual dengan harga satu juta keping emas!”
Terkejut?
Tentu saja, andaikan saja dirinya dapat bersuara ia telah berteriak dan meronta. Sialnya, tenggorokannya hancur, bahkan tangannya diikat kencang dengan rantai besi yang dikaitkan dengan sebuah tiang menciptakan ruam ungu kemerahan di sekitarnya.
Terlalu larut dalam benaknya ia tak sadar bahwa dirinya telah ditarik turun dari atas panggung. Ia meronta hingga tubuh semampainya beberapa kali terjungkal⸻si gadis bersurai platina berusaha sekuat sisa tenaganya agar tidak dibawa pergi oleh para pria berotot yang tampak bak seorang petinju.
Sia-sia, bagaimanapun tenaga seorang gadis muda sepertinya sama saja dengan seekor lalat. Ia dapat melihat baik lelaki atau perempuan muda, digiring bagaikan hewan ternak melewati lorong gelap yang panjang, raut ketakutan dan pasrah adalah ekspresi yang tampak terukir di wajah mereka, membuatnya semakin merasa panik.
Kepanikan kian melandanya kala melihat seorang pria bertubuh gempal sedang berdiri di ujung lorong. Pria itu tersenyum sangat lebar, bahkan ia bisa membuat kedua ujung bibirnya robek.
“Menakjubkan! Terima kasih kau yang terbaik memang!” seru si pria gempal sembari memeluk tubuh bintang dari acara pelelangan yang diadakannya malam itu, sementara si gadis memberontak hingga kepalanya membentur dagu si pria gempal yang telah menatapnya nyalang penuh kemarahan. Tetapi, tatapan itu berganti dengan senyum mengerikannya tadi saat sosok pria berambut merah-kecoklatan berjalan menghampiri mereka.
“Lord Frederic D’Ryvon, sebuah kehormatan bagi saya dapat menyenangkan hati anda dengan permata kecil milik saya,” ujar si pria gempal yang telah mengambil alih rantai dari tangan salah satu anak buahnya. Frederic tak segera menjawab ucapan pria di hadapannya, yang tak lain adalah pemilik sekaligus penyelenggara pasar b***k.
Iris rubi si gadis mendelik, tiba-tiba saja pria bernama Frederic itu melumat bibirnya posesif. Bahkan ia dapat merasakan sebuah tangan mulai meremas bokongnya. Tak hanya sampai di sana, sebelah gundukan kenyalnya mulai diraba pelan, b*****h!
Tak ingin berserah diri, gadis itu meronta sekuat tenaga hingga akhirnya pria di hadapannya melepaskan pagutan pada bibirnya, dan tersenyum menjijikan. Gerald hanya menggeleng tak habis pikir pada salah satu pelanggan tetapnya itu, baron Frederic Van Moran⸻pria berhidung belang yang memiliki hasrat bagaikan binatang liar. Ia kerap membeli b***k perempuan darinya untuk dijadikan pelampias hasrat beringasnya. Sebenarnya, Gerald cukup menaruh simpati karena gadis secantik permatanya itu jatuh di tangan Moran. Sayang sekali, uang adalah juri yang menentukan kepada siapa barang miliknya akan dipindahkan.
“Bagaimana jika anda melakukannya di ruangan yang biasanya?” tawar Gerald dengan senyum miring, entah apalagi yang ditawarkan oleh si babi licik. Tawarannya berhasil mencetak senyum menjijikan Frederic lainnya.
“Ini kuncinya, my Lord.”
“Tambahkan saja nanti ke dalam tagihan, akan kuminta butlerku untuk menyiapkannya.”
Sebuah kunci berwarna emas baru saja diberikan ke tangan sang baron, begitu pula dengan rantai yang membelit kedua tangan si gadis.
Tidak! Dirinya tak ingin berakhir sebagai seorang pemuas nafsu pria tak beradab sepertinya!
Dan seolah mendapatkan kekuatan entah dari mana, gadis bersurai platina itu melompat dan memberikan sebuah tendangan saat merasakan pegangan di rantainya mengendur. Tepat sasaran, kakinya berhasil membuat sang baron terjungkal dan menubruk tubuh gempal Gerald.
“Kejar gadis itu!”
Berlari secepat kilat, si gadis bersurai platina melewati setiap anak buah Gerald sembari memegangi rantai yang membelit tangannya. Tapi, keberuntungannya berhenti saat tubuhnya bertubrukan dengan seseorang. Ia mengaduh kesakitan karena merasa seolah baru saja menabrak sebuah tiang berjalan, pandangannya terpaku pada sosok yang ada di hadapannya.
Si pria bermanik emas!
“Tertangkap kau! Dasar bocah, tidak tau diri kau baru saja menyakiti salah satu pelanggan terpentingku!”
Gadis itu merasakan lehernya tercekik saat Gerald mencengkram leher dan menarik tubuhnya kasar, iris ruby si gadis kembali jatuh pada sosok pria di hadapannya yang hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat seolah tengah bertanya ‘butuh pertolongan?’
Mengapa para pria begitu menyebalkan, apakah ia perlu jawaban jika raut wajahnya saja telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa dirinya memerlukan sebuah bantuan. Seandainya tenggorokannya bisa bersuara ia pasti sudah berteriak meminta tolong.
Lupakan pertolongan, gadis itu benar-benar membenci setiap apa yang terjadi pada dirinya. Ia bersumpah akan membalaskan dendam luka dan deritanya, menarik paksa mereka yang telah berani menjebloskannya ke dalam jurang kesengsaran.
Ketika kematian mendatanginya dan ia berkesempatan hidup di kehidupan yang selanjutnya, ia pastikan untuk membalas mereka satu persatu jauh lebih menyakitkan.
Cairan bening mulai membasahi pipi porselen si gadis, bayangan ketakutan akan siksaan yang jauh lebih mengerikan dan dijadikan alat pemuas nafsu si Baron hidung belang menghantuinya.
“Tunggu …”
Sebuah suara husky menginterupsi si pria gempal bersama anak buahnya, keduanya bahkan tergagap beberapa kali saat menyadari siapa yang baru saja berbicara, “D-Duke Vladmire!”
Pria beriris keemasan dengan surai sekelam langit malam kini berdiri tepat di hadapan Gerald beserta anak buahnya, sementara keduanya dilanda kecemasan luar biasa hingga tanpa sadar menenggak saliva mereka. Membungkukkan setengah badan secara terpatah-patah, kemana larinya para pedagang b***k yang beringas tadi?
“Aku menginginkan gadis itu,” ujar sang duke lugas dan jelas. Mengerjap beberapa kali si pria bertubuh gempal menggaruk pipinya yang tak terasa gatal, bagaimanapun gadis bermanik rubi ini telah menjadi milik orang lain ia tak lagi berhak memutuskan hal itu.
Tanpa menanti jawaban dari sang pemilik pasar b***k, pria bermanik keemasan telah mengambil paksa rantai yang semula berada di tangan Gerald. Mengerjap beberapa kali, si gadis tampak cukup kebingungan akan tingkah laku sang duke. Gerald hendak protes karena tindakan sewenang-wenang pria itu, namun ia memilih menahan mulutnya berucap saat sosok pria berambut coklat-kemerahan tengah berjalan dengan langkah terseok-seok.
“T-tunggu! Dia milikku!” seru Frederic tidak terima, sang baron tampak kacau. Rambutnya seolah baru saja diterpa topan, dan wajahnya memerah dengan sedikit jejak cairan kental merah di bawah sudut hidungnya.
“Aku telah membelinya terlebih dahulu! Satu juta keping emas! Aku telah menghabiskan satu juta keping emas untuk jalang itu!!”
“Kalau begitu … akan kuberikan seratus juta keping emas padamu sebagai gantinya apa itu cukup?”
Gerald terperangah, rahangnya baru saja lepas karena mendengar tawaran si pria bersurai kelam. Seratus juta keping emas bukanlah jumlah yang sedikit, jika ia tahu begitu sejak awal seharusnya sudah ia tawarkan saja pada sang Duke.
Namun, tidak bagi Frederic yang merasa baru saja kalah telak karena menerima tendangan si gadis dari pelelangan. Harga dirinya sebagai seorang bangsawan baru saja dijatuhkan, sehingga pria itu masih tetap teguh untuk meminta kembali si gadis.
“Sudah kubilang, jalang ini milikku!” Frederic mengambil paksa rantai dari tangan sang Duke, sayangnya apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Gerald beserta anak buahnya jelas mengetahuinya, mereka bahkan segera bersimpuh memohon ampun. Sementara Frederic tetap berdiri menantang.
“Dasar bodoh.”
“Arggghhh …”
Setiap orang di sana yang mendengar jerit suara putus asa pria berambut coklat-kemerahan itu bergidik ketakutan, raut pucat pasi telah terukir saat melihat pemandangan tubuh sang baron hancur berkeping-keping meninggalkan bercak noda kemerahan di dinding dan lantai. Tubuh Gerald bergetar hebat ketika sebuah kantong berisikan kepingan emas dilempar tepat di wajahnya, tanpa berani mendongak pria itu lebih memilih untuk tetap menunduk dalam.
“Sudah kubilang, seharusnya dia sadar dengan siapa dia berbicara, dasar sampah.”
“Baiklah, aku akan membawa apa yang menjadi milikku.”
Iris rubi si gadis melihatnya dengan jelas, sosok pria tampan nan rupawan tengah mengulas senyuman miring dengan manik keemasan yang menyala. Ia meneguk salivanya ketika tangan pria itu membawa tubuh penuh lebamnya ke dalam rengkuhan sang duke. Baiklah, setelah melihat tontonan barusan si gadis berambut platina yakin bahwa ia baru saja menerima sebuah uluran tangan seorang iblis.