Aku dan Elena melanjutkan aksi nekat kami dan memilih jalan kaki saja menuju desa. Toh, tak ada alat transportasi lain ke desa kami selain berjalan kaki dan harus kuakui, perjalanan ini akan sangat melelahkan!
"Aaron," panggil Elena pelan di sela-sela langkah kaki kami pulang ke desa. Ekspresi gadis itu terlihat cemas. "Apa tak apa pergi sendirian seperti ini tanpa ditemani orang dewasa?"
Aku langsung meringis mendengar pertanyaan itu. Jika dipikir-pikir sekali lagi ... apa yang Elena katakan itu ada benarnya juga.
Seharusnya tadi aku membangunkan mereka semua dan pulang bersama ke desa, agar dalam perjalanan kami semua akan aman dan tidak perlu merasa takut berada di dalam hutan gelap yang menakutkan. Tapi lihat perbuatanku ini! Aku malah bertindak ceroboh dan malah menempatkan Elena ke dalam bahaya.
Aahh, Aaron! Rasanya aku ingin memaki diriku sendiri, tapi itu bukan sesuatu yang baik.
"Aaron, a-aku takut."
Elena menempel padaku dan ingin sekali rasanya menyahuti perkataannya itu dengan, "Jangan takut, aku ada di sini untukmu, Len." Kemudian aku akan tersenyum manis seolah tak ada sesuatu yang perlu ditakuti. Tapi yang terbersit di benakku hanyalah, "Ya, Elena. Aku juga sangat takut!"
Ini sangat memalukan.
Rasa-rasanya seperti ada yang mengawasi kami dari dalam gua. Gua adalah sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa gua itu harus cukup besar sehingga beberapa bagian di dalamnya tidak menerima cahaya matahari; namun dalam penggunaan umumnya, pengertian gua itu juga cukup luas, termasuk perlindungan terhadap batu, gua laut, dan lain-lain.
Ah, di saat kami melewati gua kecil di dekat sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, aku teringat dengan salah satu "dongeng" yang Nenek ceritakan.
Ini tentang Echidna, dia adalah makhluk dari mitologi Yunani, sering digambarkan sebagai perempuan setengah ular yang tinggal di dalam gua.
Bayangkan, tubuh atasnya manusia dan bawahnya adalah ular, meliuk-liuk di tanah sembari mendesis dengan wajah manusianya. Hiiy!
Bersama suaminya Typhon, Echidna melahirkan berbagai jenis mahluk mengerikan yang muncul dalam mitologi Yunani, karena itu Echidna mendapat sebutan Mother of all Monsters atau Ibu Para Monster.
Echidna dan Typhon pernah berperang melawan dewa-dewa olympus, namun kalah. Typhon kemudian disegel dibawah gunung Etna. Sementara Echidna dan anak-anaknya dibiarkan lepas untuk menjadi tantangan bagi para pahlawan Yunani berikutnya. Namun pada akhirnya Echidnya dibunuh oleh Argus Panoptes, titan bermata seratus.
"Err, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan, Len. Tak ada apa-apa di hutan ini. Lagipula ... malam ini terang."
Buru-buru aku mengalihkan pandangan, sebab aku juga tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Paling tidak, aku bisa menenangkan Elena dan rasa takut yang ada di dalam diriku. Elena mengangguk patuh dan aku malah mensyukurinya dalam hati. Aku kemudian menggandeng tangan sahabatku yang kini sudah bisa berjalan normal tanpa perlu kubimbing lagi.
Kami berdua berjalan bersebelahan menelusuri jalan setapak yang sebelumnya telah kulewati bersama keluarga. Berbekal ingatanku yang bisa dikatakan tajam, aku pun nekat membawa Elena melangkah perlahan menuju jalan pulang kami ke desa Birdben, melalui jalan itu.
Suasana hutan yang semula senyap, seperti tak ada kehidupan mendadak menjadi sedikit ramai. Pasalnya, beberapa ekor burung gagak terbang mengitari kami dan hinggap di pepohonan yang akan kulewati bersama Elena.
Burung-burung hitam tersebut mulai mengeluarkan suara yang mengerikan. Persis seperti sebelumnya, saat pertama kali aku dan keluargaku memasuki hutan terlarang ini.
Aku sedikit menarik pergelangan tangan Elena—karena takut—dan memaksanya untuk lebih cepat dalam melangkah. Aku tidak ingin diganggu makhluk mengerikan.
"Ada apa, Aaron?" Elena angkat bicara. Aku meliriknya dan kemudian tersenyum lebar. Mencoba meyakinkannya jika kami akan baik-baik saja. Perasaanku sudah tidak enak sedari tadi.
Pertanyaan Elena hilang begitu saja dari pikiran ketika langkah kami dicegat oleh segerombolan makhluk kerdil yang aneh. Sontak aku dan Elena menghentikan langkah.
Mereka sedang membelakangi kami berdua, apa mereka tak menyadari kehadiran kami? Paling tidak, aku berharap mereka tak berbalik dan menakuti kami. Aku memperhatikan punggung mereka sambil mengernyit jijik, terutama saat melihat makhluk bertelinga runcing itu membungkuk dan mulai menggaruk-garuk tanah dengan kuku panjangnya.
Persis seperti kucing yang menggali tanah sebelum buang kotoran dan setelah beberapa detik berlalu—hampir satu menit penuh —aku masih belum sadar dengan situasi yang kami hadapi.
"Hei, makhluk aneh yang jelek! Menyingkirlah dari jalanku!" seruku sambil menaikkan nada suara dengan sedikit keras. Ada jarak sekitar dua meteran di antara aku dan beberapa makhluk bertubuh sedikit bungkuk ini. "Cepatlah minggir!"
Aku kembali berteriak agar perhatian mereka terhadap gundukan tanah itu menjadi teralihkan dan hanya boleh terfokus padaku. Di lain hari di masa depan, aku akan sangat menyesali perbuatanku saat itu.
Seharusnya setelah melihat kesempatan merapikan diri dari para makhluk kerdir berkuasa, aku dan Elena buru-buru pergi dan mencari tempat perlindungan sementara. Namun bodohnya aku, mengapa aku justru melempar batu ke arah mereka dan membuat mereka marah?
"A-Aaron ... a-apa yang akan mereka lakukan sekarang?"
Pertanyaan Elena semakin membuatku bergetar, terutama saat makhluk-makhluk itu berhenti bergerak dan berhenti mengais tanah yang ada di depan mereka.
"A-a ... me-mereka ... mereka ... me-mereka adalah ...." Layaknya seseorang yang kehilangan kemampuan berbicara, aku tiba-tiba saja berbicara terbata-bata. Lidahku mendadak kelu, ini tentu bukan karena aku yang tidak bisa berbicara dengan normal, tapi ini memang karena aku sangat ketakutan dengan sosok yang akan menangkap kami hidup-hidup.
Sebab, salah satu dari makhluk-makhluk bertubuh pendek itu menoleh ke arahku dan Elena, yang kemudian disusul lagi oleh yang teman-temannya yang lain. Aku meneguk saliva dengan susah payah. Ini gawat.
"A-Aaron," bisik Elena, ia mulai menangis. "A-aku takut ...."
Ya, Elena ... aku juga takut dan aku sadar dengan situasi aneh itu setelah melihat beberapa dari mereka mulai menyeringai dan menampakkan gigi-gigi taring yang tajam dan kotor.
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menarik tangan Elena dengan cepat, dan menyeretnya untuk pergi dari sana. Kami harus segera pergi dari sini!
***
Hahhhh! Hhh! Sampai kapan!?
Sampai kapan aku harus berlari?!
Aku sudah tak sanggup lagi membawa kedua kakiku ini berlari! Rasanya begitu berat, telapak kakiku terasa sakit dan angin malam yang kuterjang terasa menusuk kulit.
Rasa-rasanya seperti dikejar Bigfoot dengan kakinya yang panjang dan besat! Bigfoot adalah makhluk yang masih menjadi misteri hingga saat ini, mereka dilaporkan telah ditemukan di daerah Kanada dan Amerika Utara sejak abad 19-an. Dari jejak kakinya diperkirakan beratnya mencapai 400 kg.
Bigfoot dikenal juga dengan nama Sasquatch, itu adalah nama hewan legenda yang beredar di Amerika Utara. Bigfoot kadang diciri-cirikan sangat besar, dengan bulu-bulu menutupi seluruh tubuh, dan orang percaya bahwa makhluk ini dapat ditemukan diseluruh dunia dengan nama-nama yang berbeda, seperti Yeti di Tibet dan Nepal, Yeren di China dan Yowie di Australia.
Yah, walau mereka sama, hanya daerahnya saja yang berbeda. Yeti yang disebut sebagai Manusia Salju Liar telah menjadi legenda di daerah Himalaya. Dari dahulu sampai sekarang banyak cerita orang yang hilang di daerah pegunungan Himalaya, dipercaya mereka telah diculik oleh Yeti.
Aku pernah menemukan sebuah foto yang diambil pada tahun 1925, N. A. Tombazzi melaporkan telah melihat hewan besar mirip manusia 300 yard dari Sikkim. Walaupun banyak yang telah melapor melihat yeti, tidak ada bukti yang menunjukan bahwa dia sungguhan ada. Daerah tempat terlihatnya yeti sangat curam dan landai sehingga sulit diadakan investigasi.
Andai aku memiliki kaki sepertinya, mungkin aku dan Elena sudah bisa berlari menerjang hutan ini dengan lebih cepat. Apalah dayaku yang hanya seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, kekuatan fisik tak ada, tapi sangat penakut.
Oh, Tuhan, aku takut sekali. Tolong selamatkan kami, selamatkan aku dan Elena dari tempat ini.
***
"Cepat, Len! Kita harus lari lebih cepat!" Aku memberi perintah kepada sahabatku, meneriakinya untuk menambah laju kecepatan kami. Bukan aku saja yang saat ini berlari tergesa-gesa. Di sebelahku ada Elena, sahabatku sejak kecil. Aku membawanya ikut serta dalam pelarian ini, lari dari "mereka" yang begitu mengerikan. Tak bisa kutebak apakah mereka masih ada di belakang dan berlari mengejar kami.
Hahh ... hahh ... harus bagaimana lagi ini?! Sendi-sendi di kakiku seperti mau lepas! Tapi aku tak bisa berhenti sekarang! Aku lelah dan haus!
"Ayo lari lebih cepat lagi, Len!" Aku menarik tangan Elena lebih kuat, aku bahkan tak sadar telah meremas pergelangan tangan mungilnya.
"Tu-tunggu, Aaron!" Gadis itu meringis kesakitan, entah karena perbuatanku yang terus menarik tangannya atau karena batu-batu kecil yang menusuk telapak kaki. Aku tahu sepertinya aku terlalu kasar dengannya, tapi aku benar-benar panik sekarang, dan indra pendengaranku seolah ditulikan! Aku tak memedulikan apa pun lagi selain tujuan kami yang ingin kembali ke desa.
"Kita harus cepat atau mereka akan menangkap kita!" Aku sangat panik, bahkan aku tak berani menoleh ke belakang.
Aku dapat mendengar dari derap langkah kaki mereka yang semakin dekat; pastilah makhluk-makhluk bergigi tajam itu semakin mendekatiku dan Elena. Tangan yang kurus dan hanya berbalut kulit kehijauan itu sebentar lagi akan meraih kami berdua, menangkap kami hidup-hidup. Di sini, di hutan ini—jauh dari kedua orang tua kami.
Aku ketakutan dan memilih mengeratkan genggamanku pada Elena. Dia pun sama halnya denganku. Kami saling menggenggam dengan erat. Tubuhku tak bisa berhenti gemetar sejak tadi, ditambah lagi fakta di mana Elena tak bisa berhenti sesenggukan sedari tadi setelah sempat merengek kesakitan. Semua itu berhasil membuatku frustrasi mendengarnya!
Andai saja orang-orang bodoh yang kami tinggalkan itu tidak pingsan di sana, mungkin saja aku dan Elena masih bisa pulang ke rumah dengan selamat sekarang bersama mereka ....
Argh, bodoh! Apa yang kupikirkan?! Ini justru lebih baik daripada harus mati bersama para pengikut ajaran sesat yang saat ini sedang sekarat di tengah hutan!
Untuk sesaat, aku bahkan lupa jika di antara mereka ada anggota keluargaku.
Tak peduli seberapa jauh desa tempat tinggalku dengan posisi kami saat ini, aku dan Elena harus segera mencapainya. Kami masih terus berlari, tak peduli dengan suasana hutan yang mencekam dan sangat gelap ini. Intinya kami berdua harus pulang!
Jujur saja, aku benci gelap! Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka yang tidak terlihat oleh mata. Bahkan, jika aku bertemu dengan mereka saat ini dengan suasana yang mengerikan seperti yang sedang kualami ini, sudah kupastikan besok aku akan ditemukan tak sadarkan diri karena syok!
Segala sesuatu yang terjadi pada malam ini membuatku gila!
"Akh!" Elena terpekik sesaat sebelum jatuh tersungkur ke depan, kakinya tersangkut di akar pohon yang sedikit menyembul keluar dari dalam tanah. Dan sialnya, aku tadi lupa memperingatkannya.
"Kau tak apa, Len?!" tanyaku cepat. Aku panik sendiri, sebab bisa saja makhluk itu sudah berdiri di belakang kami. "Ayo, Len, kita harus cepat kembali ke desa!"
"Hanya di sanalah kita berdua bisa aman!"
Buru-buru aku membantu gadis bersurai emas itu berdiri. Jantungku terus saja berdegup kencang setiap detiknya, yang kupikirkan hanyalah cara agar bisa kembali ke desa, ini masalah hidup dan mati! Aku benar-benar tidak ingin ditangkap oleh makhluk yang mengerikan itu.
"AARON! MEREKA DATANG!"
Elena berteriak tepat di depan telingaku. Sial, aku lengah. Makhluk-makhluk hijau berkepala botak itu sudah berhasil menemukan kami berdua. Aku dengan cepat meraih tangan Elena yang sempat terlepas dariku, dan segera menyeretnya untuk kembali berlari bersama. Lagi-lagi aku tak peduli dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.
"HUAAA!"
Aku dan Elena jatuh bersamaan disusul dengan pekikan nyaring dari sang gadis, langkah kami kembali terhenti. Di saat genting dan menegangkan seperti ini, mengapa kemalangan selalu menghampiri? Kami berdua bahkan jatuh bersama-sama, perlu waktu untuk berdiri dan kembali melanjutkan pelarian kami. Tentu saja, waktu semakin cepat berlalu dan mereka dengan segera akan menangkap kami.
"AARON! TOLONG!"
"ELEN!" seruku panik. Sial, aku kecolongan! Mereka menangkap Elena!
Aku berusaha meraih Elena yang terus saja berteriak minta tolong. Siapa yang bisa mendengarkan teriakan itu di tengah hutan!? Teriakan seperti tadi hanya bisa menarik beruang menuju kemari!
Namun saat itu ... bayanganku bersentuhan dengannya. Di bawah sinar bulan yang menyinari malam gelap tanpa bintang ... aku melihat mereka. Dengan kedua mataku sendiri.
Makhluk-makhluk itu menarik kaki Elena, namun gadis kecil bersurai emas itu melakukan perlawanan. Karena tak berdaya melawan makhluk tersebut, akhirnya Elena pun pasrah saat makhluk-makhluk kecil itu membawanya masuk ke bagian hutan yang paling dalan.
"Tidak! Jangan pergi Elena! Elena kembali!" Aku berteriak sambil terus berusaha mengikuti sahabatku yang tubuhnya diseret tanpa belas kasihan oleh segerombolan makhluk yang hidup dalam kegelapan.
Aku bisa melihat tatapan Elena berubah menjadi kosong. Kini, dia terlihat seperti wadah tanpa jiwa.
Betapa takutnya Elena dengan sang goblin, makhluk yang dipanggil oleh orang-orang di desaku sebagai bentuk dari perlindungan kutukan dalam sebuah ritual pemujaan yang gila dan sesat.
"ELEN! ELENA!"
Aku berusaha menjangkau tangan mungil sahabatku, tak lagi memikirkan rasa sakit di telapak kakiku yang tertusuk ranting pohon. Aku harus menolongnya!
"Tolong aku, Aaron!" Elena menangis histeris. Namun aku yakin, aku bisa menyelamatkannya! Bertahanlah sedikit lagi, Len!
Senyumku mengembang, sedikit lagi. Sedikit lagi tanganku berhasil menggapainya ....
"Akh!" Lagi-lagi aku melakukan hal konyol, aku tak memperhatikan langkahku, hingga membuatku kembali tersandung akar pohon.
"AAAROON!!!"
Aku bangkit dan berusaha mengejar Elena kembali. Gadis itu terus berteriak dalam derai air matanya. Namun, sisa tenaga yang kumiliki membuatku tertinggal jauh darinya. Elena semakin tertelan oleh kegelapan hutan.
"ELEENNN!!!" pekikku histeris. "TIDAK ELEN! KEMBALIII!"
"KEMBALIKAN ELENA PADAKUUU!!!"
Hhh ... hhh! Aku semakin panik. Mustahil aku bisa mengejarnya dengan keadaanku saat ini. Tidak! Ini semua belum berakhir. Aku segera berbalik badan, dan memutuskan untuk kembali menuju desa sama seperti sebelumnya.
Aku tak peduli jika harus meminta tolong kepada para penduduk desa itu untuk mencari sahabatku, aku hanya ingin Elena diselamatkan.
"Maafkan aku, Elen!" Aku menyeka mataku yang basah. "Maafkan kebodohanku ini!"
Sial, aku mulai menangis. Aku sangat memalukan. Apakah aku masih memiliki keberanian untuk menatap Elena dengan keadaan lemah seperti ini?
Apakah aku gagal menyelamatkan sahabat baikku?
Aku menggosok mataku dengan cepat, tapi ada satu hal pasti yang masih saja mengganjal pikiranku saat memilih pergi meninggalkan hutan dan juga Elena yang dibawa oleh segerombol makhluk bernama Goblin.
Itu ... adalah saat di mana kumelihat wajah ketakutan Elena yang berlinang air mata.
Sungguh, aku tidak akan pernah bisa melupakannya.