Ponsel Devanka berdering dan ternyata itu adalah panggilan masuk dari Toni. Dia beranjak duduk untuk mengangkat telepon, sedangkan Zevanya buru – buru mengusap air matanya agar Devanka tidak bertanya – tanya kenapa dia menangis karena Zevanya sendiri akan bingung untuk menjawabnya. “ Oke, saya akan bukakan pintu. “ Devanka menutup telepon, ia melirik Zevanya yang nampak terlelap padahal gadis itu hanya pura – pura saja memejamkan matanya. Devanka segera turun dari kasur, lalu dia berjalan menuju pintu keluar karena Toni sudah menunggu di depan sana. “ Ini tuan, obat dan buburnya. “ Toni menyerahkan kantong plastik berisi apa yang tadi Devanka pesan. “ Sama siapa kamu kesini? “ tanya Devanka. “ Leo, tapi dia menunggu dibawah. “ Jawabnya. “ Kalau sudah tidak ada yang diperlu

