- LEO? -

2083 Words
Di halaman belakang rumah, saat ini Devanka sedang berbaring di kursi panjang dan kebetulan kursi itu cukup lebar sehingga Zevanya pun juga bisa duduk di samping Devanka yang saat ini sudah siap untuk di obati oleh Zevanya.   Tangan Zevanya mulai mengompres dengan hati – hati beberapa luka memar di wajah Devanka.   “ Maaf ya kalau nanti agak sakit. “ Zevanya sudah mewanti – wanti sejak awal agar Devanka tidak marah padanya jika nanti ketika sedang di obati lukanya sedikit menimbulkan rasa sakit. “ Kamu harus kuat menahan jika nanti ada rasa sakit yang tak terduga. “ Imbuhnya.   Devanka diam saja tak merespon.   Zevanya sedikit membungkukkan tubuhnya agar lebih leluasa mengobati Devanka yang saat ini berbaring, hal itu membuat wajahnya Zevanya jadi sedikit mendekat ke arah Devanka. “ Kalau tidak segera di bersihkan dan di kompres, nanti luka memar ini bisa terinfeksi.  “ Ungkap Zevanya terlihat begitu fokus bagai seorang perawat sedang mengobati pasiennya.   Sejak tadi Devanka berusaha untuk tidak perduli apa yang Zevanya katakan dan memandang ke arah lain karena tak ingin menatap wajah Zevanya tetapi matanya secara refleks bergerak begitu saja mengarah tepat kehadapan gadis yang sedang fokus mengompres memar di wajahnya. Di saat yang bersamaan, ternyata mata Zevanya juga ikut melirik ke arah Devanka.   “ Ada apa, dev? “ Zevanya menghentikan sejenak aktivitasnya. “ Apa ada yang ingin kamu katakan? “   “ Tidak ada. “ Devanka kembali membuang pandangannya tak ingin menatap Zevanya.   “ Baiklah. “ Zevanya kembali melanjutkan kegiatannya.   Tangan Zevanya beralih untuk mengompres bagian sudut bibir Devanka, namun tiba – tiba saja Devanka meringis kesakitan. “ Aww! “ secara refleks Devanka menepis kasar tangan Zevanya yang masih menempel di wajahnya. “ Dasar bodoh! Tidak bisakah kamu pelan –pelan mengompres dibagian luka bibirku! “ tanpa merasa iba, Devanka mendorong tubuh Zevanya hingga terjatuh duduk di rerumputan halaman rumahnya.   “ Ma—mafkan aku, dev. “ Zevanya jadi ikut meringis sambil memegangi punggung belakangnya. “ Bukankah tadi sudah aku katakan kamu harus menahan jika nanti ada bagian yang sakit ketika di kompres. “ Zevanya bergegas untuk berdiri meskipun masih menanggung rasa nyeri.   D@da Devanka naik turun dengan nafas memburu dan gigi bergemertak karena masih merasa kesal ketika Zevanya menekan bagian lukanya cukup kencang. Emosional yang tumbuh pada diri Devanka memang mudah sekali meledak – ledak sehingga terkadang dia sendiri tidak dapat mengontrolnya.   “ Kamu pasti sengaja melakukan itu untuk balas dendam karena kemarin sudah aku kurung di kamar mandi! “ serunya menuduh Zevanya. Lelaki itu malah berfikiran kalau Zevanya melakukan itu sebagai bentuk balas dendam atas perbuatannya kemarin. Entah apa yang ada difikiran Devanka tetapi yang pasti lelaki itu suka sekali memperbesar masalah kecil yang dilakukan secara tidak sengaja.   Rasanya, bukan Devanka jika segala sesuatu berjalan normal dan semestinya.     “ Tidak, dev! “ Zevanya mendekati Devanka dengan tangan yang masih memegang kain untuk mengompres. “ Kamu jangan berfikiran buruk seperti itu. Aku tidak tahu jika luka yang aku tekan tadi menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. “ Zevanya menjelaskan dengan sedikit panik karena takut akan di hukum lagi oleh Devanka atas kesalahan yang dia perbuat tadi.   “ Alasan! “ Balas Devanka yang tetap merasa tidak percaya.   Zevanya berniat untuk duduk kembali di pinggir kursi tetapi mata Devanka melotot tajam ke arahnya, seolah – oleh memberi isyarat bahwa Zevanya tidak diperkenankan untuk duduk kembali disampingnya.   “ Biarkan aku mengobatimu lagi, dev. “ Ucap Zevanya berusaha untuk tetap bersikap ramah meskipun dalam hati menggerutu kesal karena lelaki itu selalu saja marah – marah kepadanya.   “ Tidak perlu! “ tolak Devanka bernada ketus, ia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Zevanya sendirian.   “ ARRGHH!! “ Zevanya menghentakkan kakinya kesal, ia lempar kain yang sejak tadi berada digenggamannya ke tanah. “ Manusia tidak tahu terima kasih! “ Zevanya berdecih, ia ingin sekali mencekik Devanka sampai lelaki itu kehabisan nafas tetapi… sayangnya dia belum memiliki nyali untuk melakukan itu.   **   Hari sudah mulai sore, ini saatnya Zevanya untuk pulang. Dia mencari – cari keberadaan Devanka hanya untuk sekedar berpamitan kepada lelaki itu karena jika tidak, pasti nanti dia akan kena omel.   Zevanya melongok ke dalam kamar lelaki itu tetapi dia tidak menemukan keberadaan Devanka. “ Kemana monster itu? “ Zevanya kembali menutup pintu kamar Devanka.   Rumah Devanka yang terlalu besar membuat Zevanya kebingungan harus mencarinya dimana, ketika Zevanya ingin turun kebawah, ia tak sengaja berpapasan dengan Leo.   “ Hai? “ sapa Leo dengan ekspresi datar.   “ Leo? “ Zevanya tersenyum. “ Apa kabar? “   “ Baik. “   “ Aku jarang melihatmu dirumah ini, Leo. Pasti Devanka memberikan kamu tugas ke luar terus ya? “ tanya Zevanya mendapat anggukan dari Leo.   “ Kenapa kamu masih disini? “ Leo melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. “ Bukankah ini sudah jam pulang? “   “ Ya, memang ini sudah waktunya pulang. Tapi, aku harus berpamitan dulu kepada Devanka. “ Terangnya. “ Apa kamu melihat Devanka? Sejak tadi aku mencarinya tetapi belum juga menemukannya. “   “ Tuan Devanka ada di atap rumah. “ Jawab Leo yang tahu dimana keberadaan lelaki itu.   “ Di atap rumah? “ Zevanya terheran – heran, mengapa lelaki itu berada di atap rumah. Dia pun bertanya kepada Leo. “ Ngapain dia atap? Apa dia…” Kali ini wajah Zevanya mendadak terlihat sumringah. “ Apa dia ingin bunuh diri? “ tanya nya tanpa terasa sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Sepertinya dia akan senang sekali jika Devanka menghilang dari dunia. “ Semoga saja itu benar – benar terjadi! “ serunya.   Leo tersenyum tipis. “ Apa kamu menginginkan tuan Devanka mati? “ Mendapat pertanyaan seperti itu dari Leo, seketika membuat senyuman yang tadi sempat terukir di wajah Zevanya pun memudar dan sekarang Zevanya jadi merasa takut kalau Leo akan mengadu kepada Devanka atas apa yang sudah dia katakan tadi karena biar bagaimanapun, Leo adalah orang terdekat Devanka.   “ Um…” Zevanya mengusap leher belakangnya dengan perasaan gugup. “ Leo, tolong jangan bilang pada Devanka apa yang tadi aku katakan ya. “ Pesannya.   “ Kamu tenang saja. “ Leo tersenyum.   Zevanya ikut tersenyum. “ Terima kasih, Leo. “   “ Sama – sama. “   “ Oh iya, aku penasaran sekali. Memangnya, apa yang Devanka lakukan di atap rumah? apa dia sedang membenarkan genteng yang bocor? “ pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Zevanya. “ Ah, tapi tidak mungkin. Rumah megah seperti ini pasti tidak mungkin pakai genteng. “ Imbuhnya.   Leo tertawa sebentar mendengar Zevanya bertanya tetapi akhirnya gadis itu menjawab pertanyaanya sendiri.   “ Atap rumah yang aku maksud adalah Rooftop, bukan seperti yang kamu fikirkan yaitu tuan Devanka yang berada di atas genteng. “ Kata Leo membuat Zevanya jadi cengar – cengir karena malu.   “ Di atas atap rumah ini ada lapangan dan itu salah satu tempat favorite tuan Devanka untuk menghabiskan waktu. “ Jelas Leo mengejutkan Zevanya.   “ La—lapangan? “ Dia terkejut karena selama bekerja di rumah ini Zevanya tidak pernah tau kalau ada lapangan di bagian paling atas rumah Devanka. “ Keren banget! “ Zevanya terlihat takjub. “ Baiklah, antarkan aku kesana. “ Ucapnya yang tak sabar ingin melihat seperti apa lapangan di atap rumah.   “ Oke. “   Mereka berdua pun berjalan menuju ruangan yang berada di bagian paling ujung lantai dua. Leo pun menghentikan langkahnya di depan ruangan itu.   Zevanya ikut berhenti melangkah tepat di belakang Leo, ia memandang sekelilingnya dengan bingung karena tidak menemukan keberadaan tangga menuju lantai tiga.   “ Leo, dimana letak tangganya? Aku tidak melihatnya sama sekali disini? “ Zevanya bertanya – tanya sambil celingak – celinguk masih berusaha untuk mencari letak tangga tersebut karena saat ini yang ada di dekatnya hanya sebuah ruangan.   “ Disitu, Zee. “ Leo menunjuk ke arah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.   Zevanya menatap bingung pintu ruangan itu. “ Apa tangga menuju lantai atas ada di dalam ruangan itu? “   “ Ya. “ Leo membuka pintu yang tidak terkunci itu, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. “ Ayo masuk. “ Ajaknya tetapi Zevanya masih berdiam diri didepan pintu karena dia merasa ragu untuk masuk ke dalam.   Hal yang membuat Zevanya enggan untuk masuk ke dalam karena dia berfikir kalau saat ini Leo sedang membohonginya dan berniat ingin melakukan sesuatu yang buruk kepadanya atau mungkin saja Leo disuruh oleh Devanka agar memancing dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu dan jika sudah berhasil, maka Zevanya akan dikurung di dalam ruangan itu.   Ada banyak sekali fikiran negatif di dalam otak Zevanya mengingat Devanka lelaki yang sangat kejam yang mampu melakukan apapun sehingga membuat Zevanya harus merasa was – was kepada Leo karena sekali lagi Zevanya tegaskan bahwa Leo adalah orang terdekat alias kepercayaan Devanka. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau Leo akan menyakitinya, apalagi jika itu perintah dari Devanka sudah pasti Leo akan menurutinya.   “ Kenapa kamu diam? “ Leo berjalan mendekati Zevanya. “Apa kamu takut? “   “ Kamu tidak sedang membohongiku, kan? “ Zevanya bertanya untuk memastikan.   Seketika, Leo pun mengangguk faham dan langsung mengerti bahwa gadis dihadapannya saat ini menaruh rasa curiga dan tak percaya kepadanya. Leo sendiri tidak masalah atau pun merasa tersinggung pada Zevanya karena menurutnya kekhawatiran yang Zevanya alami saat ini adalah perasaan yang wajar, apalagi setelah mengingat bahwa gadis itu beberapa kali mendapat perlakuan buruk dari Devanka.   “ Apa aku terlihat sedang berbohong? “ Leo menatap Zevanya dengan serius membuat Zevanya jadi sedikit gugup. “ Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi kamu tenang saja , Zee. Aku memang Bodyguard tuan Devanka tetapi bukan berarti aku akan menyakitimu seperti yang biasa tuan Devanka lakukan. “ Tegasnya mencoba untuk meyakinkan gadis malang yang selalu mendapatkan siksaan dari Devanka Ulpio.   Dapat Zevanya lihat dari mata lelaki itu tidak menunjukkan adanya kebohongan. Akhirnya, Dia pun mencoba untuk membuang rasa curiga yang sempat muncul terhadap Leo, apalagi setelah mengingat lelaki itu pernah menyelamatkan hidupnya dari siksaan Devanka.   “ Ayo. “ Leo kembali masuk ke dalam ruangan itu dan kali ini Zevanya mengikutinya.   Ketika sudah berada di dalam ruangan itu, mata Zevanya berkeliling mencari – cari letak tangga yang disebutkan oleh Leo berada di dalam ruangan, tapi pada kenyataanya Zevanya tidak juga menemukan keberadaan tangga itu karena saat ini yang terlihat di dalam ruangan hanyalah barang – barang bekas yang tertata rapih serta lemari tua berukuran besar dan tinggi yang di dalamnya terdapat buku – buku tersusun secara sistematis.   “ Leo? Kamu sudah menipuku! “ seru Zevanya ke arah Leo yang baru saja menutup pintu ruangan itu rapat - rapat. “ Aku tidak menyangka kalau kamu membohongiku seperti ini! Seharusnya tadi aku tidak percaya begitu saja kepadamu! “ Suara Zevanya terdengar gemetar karena rasa takut mulai menyeruak dalam dirinya.   Leo berjalan santai mendekati Zevanya yang kini melangkah mundur karena panik dan cemas kalau Leo akan berbuat sesuatu padanya.   BUKK…   Punggung Zevanya membentur lemari tua yang berada dibelakangnya sehingga dia tidak bisa lagi melangkah mundur, sementara Leo kini sudah semakin dekat ke arah Zevanya.   “ Sial! “ Zevanya berdecak sebal karena keberuntungan tidak pernah berpihak kepadanya akhir – akhir ini. Dia tidak bisa menghindar lagi dari Leo karena sudah tidak ada celah lagi bagi dirinya untuk melarikan diri.   Zevanya mengantupkan kedua tangannya sambil memohon dengan wajah memelas agar mendapat belas kasihan dari lelaki itu. “ Leo, tolong jangan lakukan apapun padaku! “Mata Zevanya sudah berkaca – kaca. Apalagi yang bisa dia lakukan selain memohon ampun dan menangis.   ” Aku percaya bahwa kamu orang baik, jadi tolong jangan sakiti aku, Leo! “ Zevanya terus saja meminta belas kasihan dari Leo tetapi sepertinya lelaki itu tidak perduli dan kini sudah berdiri dihadapan Zevanya dengan jarak yang sangat berdekatan.   “ Zee…” Tiba – tiba saja kedua tangan Leo memegang pundak Zevanya dan menarik tubuh gadis itu yang sejak tadi bersandar di lemari, kini jadi semakin mendekat ke hadapan Leo.   “ Leo, apa yang ingin kamu lakukan? “ Zevanya bertanya dengan sedikit memundurkan wajahnya agar menjauh dari hadapan Leo.   “ Apa kamu takut? “ Seulas senyuman tipis selalu saja Leo tunjukkan. Perlahan Leo memajukkan wajahnya mendekati wajah Zevanya yang berusaha menghindar dari pandangannya.   “ Le—Leo, tolong jangan macam – macam! Apakah ini semua perintah dari Devanka? “ tentu saja ini menjadi pertanyaan yang sangat penting bagi Zevanya karena rasanya aneh jika Devanka menyuruh Leo untuk berbuat seperti ini kepadanya.   “ Tentu saja tidak. “ Balas Leo semakin mendekati wajahnya ke hadapan Zevanya, sementara gadis itu berusaha untuk menutup wajahnya agar Leo tidak menciumnya.   “ Tidak! jangan Leo! Lepaskan aku! jika Devanka tahu soal ini, pasti dia akan membunuhmu! “ Zevanya berusaha memberontak.   Zevanya ingat betul apa yang Devanka katakan padanya saat itu bahwa Devanka tidak akan membiarkan siapapun menyentuh bahkan menyakiti dirinya, lalu apakah Leo masih tetap berani melanjutkan aksinya? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD