Apa ini?

1554 Words
Deru mesin motor ojek online itu berhenti tepat di depan sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil. Amindita Kirana turun dari ojek online itu, merapikan rok span hitamnya yang sedikit kusut setelah seharian bergelut dengan jadwal padat di kantor Ararya Group. Ia menyerahkan helm, kemudian tak lupa mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu berbalik menuju rumah kontrakannya. "Terima kasih Pak." "Sama-sama Mbak. Jangan lupa bintang limanya ya, Mbak," ucap ojol tersebut dengan senyum yang penuh harap selayaknya bapak ojol. "Siap. Pak." Amindita kembaki melangkah. Namun, sedetik kemudian langkah kakinya mendadak terhenti tepat di depan halaman rumah kontrakannya. Matanya menyipit, melihat sebuah kendaraan yang tak asing baginya. Kendaraan mewah yang kontras dengan lingkungan sederhana dan jauh dari kata mewah. Dan ia tau siapa pemilik mobil itu. "Bukannya itu... Lalu untuk apa beliau mampir ke rumahku?" gumam Amindita. Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap terparkir angkuh tepat di depan pagar kayu rumahnya yang mulai lapuk. Sinar lampu jalan yang temaram memantul di atas kap mobil itu, menciptakan kilatan yang menyilaukan. Ia mengenal mobil itu, sangat mengenalnya. Itu adalah kendaraan pribadi milik sang penguasa Ararya Group. Praditya Ararya Aryatama. Atasannya. "Ada apa lagi ini? Apa aku membuat kesalahan?" gumam Amindita, jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Jika ini urusannya dengan pekerjaan, bosnya itu bisa menghubunginya lewat telepon, atau setidaknya bicara bicara saat mereka berada di kantor tadi. Apa ada yang salah dengan pekerjaannya? Semoga saja tidak. Apa ada pertemuan mendadak? Tapi sepertinya tak ada. Karena jadwal sudah terselesaikan dengan baik. Tapi semakin dipikirkan semakin aneh saja. Praditya bukan tipe orang yang mau mengotori sepatu mahalnya dengan menginjak aspal gang yang becek seperti ini. Dengan kakinya yang berat, Amindita semakin melangkah maju menuju pintu rumahnya yang terbuka lebar. Dari dalam, ia mendengar suara berat yang sangat familiar—suara yang biasanya memberikan perintah mutlak di ruang rapat, kini terdengar dingin di ruang tamunya yang sempit. "Assalamualaikum, Ayah?" Amindita melangkah masuk menyapa pria paruh baya yang duduk menghadap pintu utama. Di sana, di atas kursi kayu jati tua, ayahnya—Bapak Brotoatmojo—duduk tertunduk lesu dengan wajah pucat pasi. Di hadapannya, Praditya Ararya duduk dengan tubuh tegapnya, menyesap teh di cangkir plastik murahan seolah itu adalah wine mahal yang biasa dia minum. Setelan jas navy-nya membuat ruangan itu terasa sesak oleh aura kekuasaan. "Ah, sekretarisku sudah pulang rupannya," ucap Praditya pelan, matanya yang tajam menatap Amindita dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sangat tidak efisien menggunakan ojek di jam rawan seperti ini, Amindita." "Tuan Praditya... apa yang membawa Anda ke rumah saya?" suara Amindita berusaha tetap stabil meski diliputi kebingungan. Praditya tidak menjawab. Ia melirik Pak Broto yang tampak gemetar. "Bapak ingin menjelaskannya sendiri, atau saya yang harus memulainya?" "Ada apa ini Yah?" Amindita semakin dibuat bingung. "Nduk..." Pak Broto menatap Amindita dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan Ayanh. Ayah... memiliki pinjaman besar pada keluarga Ararya." Kening Amindita berkerut. Ia menoleh cepat ke arah Praditya, lalu kembali pada ayahnya. "Gimana bisa Ayah?" Amindita kembali menatap penuh tanya pada Praditya yang hanya menaikkan satu alisnya. "Ayah, sejak kapan Ayah mengenal Tuan Praditya? Bagaimana bisa Ayah berurusan dengan beliau… sementara aku tidak pernah tahu apa-apa? Apalagi aku yang setiap hari bekerja di bawah perintahnya. Tapi aku bahkan tidak tahu Ayah mengenal atasanku sendiri?” Pak Broto menunduk semakin dalam, jemarinya saling menggenggam kuat di atas lutut. “Sudah lama, Nduk… sebelum kamu bekerja di perusahaan beliau. Waktu ibumu sakit keras. Ayah sudah mencoba ke mana-mana. Bank menolak, saudara tak sanggup membantu. Satu-satunya yang memberi jalan adalah keluarga Aryatama.” Nama keluarga itu terasa asing dan berat sekaligus. “Bapak dulu bekerja di bawah naungan perusahaan lama, lalumenggunakan dana jaminan dari perusahaan itu untuk pengobatan almarhum ibumu dulu,” lanjutnya dengan suara patah. “Dan ternyata… itu dicatat sebagai piutang pribadi. Sekarang, Ayah harus membayarnya." Dunia Amindita seolah berputar. Dinding rumah kecil itu terasa bergerak untuk menghimpitnya hingga udara seakan menghilang. “Berapa, Yah?” tanyanya lirih, nyaris tak terdengar. Praditya bergerak pelan. Ia membuka tas kulit hitamnya, mengeluarkan sebuah map dokumen bersegel resmi, lalu meletakkannya di atas meja kecil yang bergoyang. “Dua belas miliar rupiah, Amindita,” ucapnya datar. “Termasuk bunga dan denda keterlambatan selama lima tahun terakhir.” Sunyi. Amindita menatap angka di atas kertas itu. Tangannya bergetar hebat. Dua belas miliar. Jumlah yang bahkan tak sanggup ia bayangkan, apalagi bayar. Matanya perlahan terangkat pada Praditya. “Jadi…” suaranya pecah, “selama ini Tuan sudah tahu siapa saya?” Tatapan pria itu tak goyah. Dalam dan tak terbaca. “Saya tahu,” jawabnya singkat. Dan untuk pertama kalinya, Amindita merasa bukan hanya hidupnya yang runtuh—melainkan juga seluruh kepercayaan yang ia bangun setiap hari di kantor megah itu. Amindita merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dua belas miliar? Bahkan jika ia bekerja sebagai sekretaris selama tiga kehidupan pun, ia tidak akan sanggup melunasinya. "Ayahmu menandatangani dokumen ini dengan sadar," lanjut Praditya, ia berdiri dan melangkah mendekati Amindita. Aroma parfum sandalwood yang maskulin dan mahal kini mengepung indra penciuman Amindita. "Besok, pengadilan akan menyita sisa aset ayahmu yang nyatanya tak ada yang bisa diambil, dan jalan satu-satunya, Ayahmu akan menebusnya di balik jeruji." Ucapan itu mampu membuat Amindita menegang. "Ti—tidak Tuan, saya mohon." Amindita seketika memohon, melupakan harga dirinya. "Saya akan mencicilnya. Tolong jangan bawa Ayah saya." "Mencicilnya? Sampai kapan Amindita?" Ada tawa ejekan di sana. "Sampai lunas Pak. Atau, saya akan melakukan apapun yang Tuan minta. Saya juga tidak apa jika tidak digaji selama saya bekerja Tuan." Amindita terus berusaha meyakinkan bosnya itu. Praditya berdiri tepat di depan Amindita. Ada seringai sebelum ia merunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Amindita, suara yang hanya bisa didengar oleh wanita itu. "Saya tidak butuh uang recehmu, Amindita. Tapi saya meminta hal lain darimu. Bagaimana?" Praditya menatap lekat bola mata yang bergetar milik sekretarisnya itu. "Saya butuh kesembuhan yang hanya bisa saya dapatkan darimu." Praditya menarik diri, "Datang ke penthouse saya jam delapan malam ini. Jika kamu terlambat satu menit saja, saya pastikan ayahmu akan tidur di lantai semen penjara besok pagi." Lanjutnya, lalu berbalik, melangkah keluar tanpa menoleh lagi, tanpa berpamitan meninggalkan Amindita yang jatuh terduduk di lantai, hancur di bawah beban hutang dan harga diri yang mulai terancam. "Nduk...," suara Pak Broto pecah, parau saat tau apa yang terjadi dengan putrinya. Beliau beranjak dari kursinya, bersimpuh di hadapan Amindita, mencoba meraih tangan putrinya yang berkeringat dingin "Maafkan Ayah. Maaf jika Ayah buat kamu hidup seperti ini. Tidak apa jika Ayah harus membayar semuanya, Nduk. Apa yang dia katakan padamu jangan didengar. Ayah akan membayarnya." Amindita masih terpaku, matanya menatap pintu yang baru saja dilewati Praditya, seolah pria itu meninggalkan jejak kegelapan di sana. Ia merasakan jemari ayahnya yang gemetar menggenggam tangannya. "Ayah akan cari cara lain. Besok Ayah akan menemui teman-teman lama, atau Ayah mencoba meminta waktu. Apapun, Amindita... Tapi tolong jangan dengarkan apapun dari pria itu," lanjut Pak Broto dengan nada memohon yang memilukan, ia tau jika pria tadi sudah mengatakan hal yang membuat putrinya terdiam seperti ini. Amindita perlahan menunduk, menatap wajah ayahnya yang kini dipenuhi kerutan penyesalan. "Cari cara bagaimana, Yah? Dua belas miliar bukan uang yang bisa kita dapatkan dengan meminjam pada teman. Mereka akan mengambil Ayah besok pagi. Ayah sudah berumur, Amindita nggak mau terjadi hal buruk sama Ayah." "Biar! Biar Ayah yang menanggung hutang Ayah sendiri!" Sergah Pak Broto frustrasi, air matanya kini luruh membasahi tangan Amindita. "Jangan korbankan dirimu untuk menebus kesalahan Ayah. Ibumu di sana tidak akan tenang melihatmu menjadi alat untuk penebusan hutang ayah dan ibu." Mendengar kata 'Alat penebusan', jantung Amindita berdenyut nyeri. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang berserakan di lantai rumahnya yang kusam. Ia membantu ayahnya berdiri, menuntun pria paruh baya itu untuk kembali duduk di kursi jati mereka. "Ayah dengar Dita," ucapnya dengan nada yang mendadak tenang, namun sangat tegas. "Dita tidak akan menjadi p*****r. Dita tidak akan membiarkan Tuan Praditya menyentuh Dita begitu saja hanya karena selembar kertas hutang." "Tapi dia memintamu datang ke pada-nya bukan? Malam-malam begini, Nduk! Apa lagi tujuannya kalau bukan itu?" Amindita mengusap sisa air mata di pipinya, matanya kini memancarkan kilatan yang berbeda—sebuah tekad yang beradu dengan nekat. "Jika dia menginginkan Dita, maka dia harus membayar dengan harga yang setimpal. Bukan dengan uang, tapi dengan janji di depan Tuhan." "Maksudmu?" Pak Broto tertegun. "Dia ingin menjerat Dita dalam dosa, tapi Dita akan menariknya ke jalur yang sah. Dita tidak akan melangkah ke rumah itu tanpa membawa syarat yang akan mengikat leherku seumur hidup." Amindita menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia hanya punya waktu satu jam. "Ayah jangan khawatir. Dita tetap putri Ayah yang memegang teguh ajaran Ibu. Jika Tuan Praditya ingin Dita, dia harus menjadikan Dita istrinya. Hanya itu satu-satunya cara Dita masuk ke rumah itu tanpa mengkhianati harga diri keluarga kita." Amindita bangkit, ia tidak lagi tampak seperti wanita yang hancur. Ia berjalan masuk ke kamar, mengambil sebuah mukena dan Al-Qur'an kecil yang selalu ia bawa, menyimpannya di dalam tas. Ia bersiap menghadapi sang predator, bukan sebagai mangsa yang pasrah, melainkan sebagai lawan yang akan memberikan skakmat di tengah ranjang manipulasi. "Dita berangkat, Yah. Doakan Dita... agar Allah menjaga lisan dan kehormatan Dita malam ini." Amindita melangkah keluar, menutup pintu rumahnya rapat-rapat, dan membiarkan ojek yang ia pesan membawanya menuju menara kaca tertinggi di kota itu—tempat di mana seekor serigala sedang menunggunya dengan lapar. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD