Dea berlari menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa saat ini, ia bahkan tak mengindahkan lagi tanggapan dan tatapan orang-orang sepanjang jalan tadi. Ia tak lagi memusingkan penampilannya yang terlihat sangat berantakan saat ini; rambutnya acak-acakan, gaunnya yang kotor, dan make up-nya yang luntur. Hingga, langkahnya terhenti saat hak sepatu yang ia kenakan patah dan membuat tubuhnya sontak terjatuh di atas aspal. Seluruh tenaganya yang tersisa telah habis ia gunakan untuk lari dari gedung terkutuk itu. Air matanya luruh begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang ikut luruh. Lututnya saat ini bahkan tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya dan beban hatinya. Saat ini wanita itu bukan hanya merasakan sakit pada fisiknya, tetapi batinnya pun juga merasakan sakit yang lebih besar.

