Langkah mondar-mandirnya terhenti saat pintu di depannya dibuka oleh seseorang dari dalam. Danis mendongakkan kepalanya yang sejak tadi hanya tertunduk. Sesuai dugaannya, adalah Fahri yang membuka pintu tersebut karena lelaki itu sebelumnya masuk lebih dulu untuk memberitahu Rea atas kedatangannya. “Masuk!” Fahri menggerakkan kepalanya. Jantung Danis mendadak berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Dia mengintip sedikit ke balik punggung Fahri untuk melihat Reanya. Danis menarik napasnya sejenak sebelum menghembuskannya dengan perlahan. Danis membawa langkah kakinya menuju Rea saat Fahri memberi jalan padanya. Dengan canggung dia menatap seseorang yang menjadi candu bagi rindunya itu. Mata bertemu mata, Danis dan Rea mengunci satu sama lain tatapan itu. Seolah mengerti, semua orang ya

