Bab 27 Jangan Disebut

1217 Words
“Kalian lagi ada masalah ya?” Tris kontan melirik arah Kevin yang tengah memangku gitar bersandar pada sisi tempat tidur. Petikan gitarnya telah berhenti. Tenggelam dalam permainan di ponsel membuat Tris tidak sadar sudah cukup lama sahabatnya terdiam memperhatikan dia. Kini Kevin tampak menginginkan sebuah jawaban. “Maksudnya?” Tris berusaha membagi fokus antara mendengarkan Kevin dan permainan. “Kalian, lo sama Sajaka ada masalah apa?” “Masalah? Kagak ada masalah.” Tris mengendikkan bahu acuh. Perhatiannya kembali pada layar ponsel. Barusan avatar miliknya kehilangan nyawan. Sebuah u*****n terdengar pelan keluar dari mulut seorang Tris. “Gue ngerasanya kalian lagi ada masalah.” “Lo pengen banget gue sama Sajaka ada masalah? Nanya itu mulu, kayak lagi mastiin sesuatu.” “Nggak gitu juga maksudnya. Beberapa hari terakhir gue ngerasa tiap kita kumpul, sikap kalian berdua rada beda dari biasa. Kayak ada sesuatu yang cuma terjadi sama kalian.” Tris berdecak. “Nggak ada. Perasaan lo aja itu. Sikap gue biasa aja. Kalau iya kita ribut juga karena masalah apa? Gue sama dia nggak berada di jalan yang sama, jadi kecil kemungkinan buat ribut.” Kevin mengangguk-angguk. Mungkin benar itu semua hanya perasaan saja. Kedua temannya ini hanya pernah perang dingin waktu kecil. Saat Sajaka si murid baru tiba-tiba lebih unggul dari anak langganan nilai terbaik di sekolah, Tris. Habis masa kanak-kanak, mereka berteman baik hingga kini, bahkan sampai membentuk band bersama. Mereka disatukan oleh satu kesukaan yang sama, yakni musik. “Nggak berkaitan sama Sadina juga, ‘kan?” tanya Kevin lagi setelah beberapa lama terdiam. Pada detik nama itu masuk ke dalam telinga. Pikiran Tris seketika buyar. Ia kehilangan konsentrasi dan berakhir game over. Padahal tinggal sedikit lagi ia menyelesaikan pertandingan kali ini. Tris menghela napas berat. “Kenapa pake bawa-bawa cewek itu?” Kini sepenuhnya perhatian Tris tertuju pada Kevin. Nada bicaranya agak rendah dan terdengar tidak menyukai pembahasan mereka. Bagi Kevin ini sangat aneh karena biasanya Tris jarang marah. Tris tipe orang yang ahli mengendalikan emosi, cenderung tidak terlalu ambil pusing dengan masalah yang ada. Bila Tris mendadak kesal saat membicarakan hal kecil, pasti hal itu punya arti tersenditi baginya. “Kenapa lo marah?” Kening Kevin mengerut. “Gue nggak marah.” “Lah itu? Lo rada ngegas barusan. Bikin curiga aja kalau sebenarnya lo ada apa-apa sama Sadina.” Tris menghela napas kasar. “Gue ngegas karena kesel diajak ngobrol lagi main. Kalah gue barusan gara-gara lo ngajak ngobrol mulu. Lo juga aneh tiba-tiba ngebahas ginian padahal semuanya juga berjalan kayak biasa. Aneh lu, nggak suka lihat hidup orang tenang.” Mata Kevin menyipit, tidak langsung percaya perkataan mustahil Tris. Mana ada ceritanya konsentrasi Tris buyar karena sebuah obrolan biasa. Kecuali kalau orang yang tengah mereka bicarakan punya cerita dengannya. Ditambah lagi Tris jadi bicara panjang lebar, padahal dari dulu Tris paling irit bicara dan pasti suka sekenanya. Bukan tanpa alasan Kevin membahas hal ini secara mendadak di kamar Tris pula. Mereka harusnya mengerjakan lagu baru untuk perlombaan cipta lagu, tetapi ia menyadari ada yang aneh dalam persahabatan mereka. Suasana dalam acara kumpul mereka menjadi canggung. Terutama Sajaka, paling jelas menghindari Tris. Sudah dua kali dalam rencana pertemua, Sajaka bertanya lebih dulu apa Tris akan datang atau tidak. Lebih mengherankan juga, setiap tidak disengaja nama Tris disebut dalam obrolan, Sajaka seakan malas mendengar nama sahabtnya sendiri, “Nggak usah bawa-bawa orang yang nggak lagi sama kita.” “Gelagat lo mencurigakan, Tris.” Kevin geleng-geleng kepala. Ucapan Kevin itu bukan hanya tertuju pada Tris, tapi juga Sajaka. Sebab kedua sahabatnya mencurigakan. “Elu tuh yang mencurigakan!” Tris melempar bantal tepat pada wajah Kevin. “Apa-apa dicurigain.” kesalnya beranjak dari ujung tempat tidur. Perkataan Kevin menghentikan langkah Tris sebelum berhasil menyentuh gagang pintu menuju luar. Tris dibuat tertetegun. “Kalaupun iya memang ada sesuatu antara lo, Sajaka, dan Sadina, itu nggak salah. Kita tahu perasaan Sajaka gimana ke cewek itu, tapi apa yang kita tahu nggak bisa menghalangi perasaan sendiri kalau seandainya lo suka sama Sadina.” Tris menoleh ke belakang memperlihatkan tatapan mata tajam yang seakan siap mengiris-iris Kevin menjadi beberapa bagian. “Ini kalau seandainya, Tris. Seandainya, perasaan suka kan suka datang tiba-tiba sama orang yang nggak diduga juga. Mungkin elu, gue, Bagas tiba-tiba tertarik ke Sadina suatu hari nanti, mungkin aja kan? Mana Sadina manis banget anaknya. Bikin orang yang baru pertama kali ngobrol sama dia langsung sayang. Jadi perasaan lebih ke Sadina itu nggak salah.” “Tapi menurut gue itu bakal salah,” sanggah Tris di luar perkiraan. “Ha?” “Gue udah kenal dia sebelum ketemu langsung. Itu karena sering denger cerita Sajaka yang setiap ada kesempatan nyeritain tentang Sadina dan hampir bikin gue bosen bukannya penasaran. Waktu ketemu langsung gue merasa udah sangat mengenal dia. Kalau dipikir-pikir, mungkin gue tertarik ke dia karena semua cerita orang yang suka sama dia dari lama.” Habis itu Tris kembali balik badan dan memutar handle pintu. Keberadaan Tris hilang dari dalam ruangan, menyisakan Kevin yang ternganga. Pengakuan Tris mengakibatkan gempa berskala kecil dalam kepala Kevin. Ia tidak menyangka sahabatnya ini bisa mengutarakan perasaan terdalam. Dan yang makin membuat Kevin hilang akal adalah kebenaran dugaannya sendiri tentang perasaan Tris pada Sadina. Pertanyaannya, apa Sajaka sudah mengetahui hal ini? Bahwa sahabatnya sendiri menyukai seseorang yang ia sayangi? Tidak. Kevin tidak boleh bertindak gegagabah menanyakannya langsung pada Sajaka. Ia harus mencari tahu lebih dulu. Ini masalahnya cukup serius. Berkaitan dengan persahabatan dari kecil dan sebuah band. Jangan sampai keduanya hancur dalam satu kali pukulan. *** “Ngobrolin apa tadi sama Tris?” “Ngobrolin kamu,” jawab Sadina enteng, mengabaikan kernyitan di dahi Sajaka. Mereka tengah berada di kafe tidak jauh dari sekolah. Duduk saling berhadapan di sebuah meja di lantai dua. Katanya Sajaka sering mendengar teman-temannya membicarakan tempat nongkrong baru dekat sekolah. Makanya ia mengajak Sadina ke sini. “Aku serius, Din.” Wajah Sajaka berubah muram. Sendok es krim yang tengah mengambang di udara siap masuk ke dalam mulut pun kembali mendarat di mangkuk. “Aku juga serius, Jaka .... Aku dan Tris memang ngomongin kamu. Tadi aku di lobi sendirian, kan? Terus kebetulan Tris lewat sana, habis dari ruang teater katanya. Tris nanya, kenapa aku duduk sendirian di lobi. Aku jawab lagi nungguin kamu rapat dulu sama OSIS. Tris nemenin aku duduk di lobi sampai kamu muncul. Tris—“ “Sadina,” sela Sajaka pelan. “Ya?” “Udah cukup nyebut nama Tris-nya.” Sajaka mengusap es krim di sudut bibir Sadina dengan lembut. Perlakuan tidak terduga dari Sajaka ini seketika membuat Sadina mematung. Sadina terbelalak, bahkan hampir lupa cara bernapas. "Aku nggak suka kamu nyebut cowok lain waktu kita lagi berdua gini. Iya, aku percaya kok kamu cuma ngobrol untuk sekadar basa-basi aja kan sama dia?" Sadina mengangguk kaku. Sekarang ia tidak beda jauh dengan tingkah robot yang diperintah. Benar-benar efek dari perlakukan Sajaka berlangsung cukup lama. "Ta-tapi, Jaka--" "Hm?" Sadina mendadak kehilangan keberanian ketika Sajaka mendongak, tepat menubruk tatapannya. "Ada apa?" Sajaka tersenyum tipis. Merasa lucu Sadina diam terus. "Kamu jangan marah sama Tris--hm ... maksudnya teman kamu itu, ya?" Diamnya Sajaka memunculkan deg-degan parah. Takutnya Sajaka malah memarahinya setelah ini. Sadina bingung kenapa Sajaka jadi bersikap begini. Pada sahabatnya sendiri pula. "Kalau Sadina yang minta, aku pasti nurutin " Sajaka kembali memakan es krim yang setengahnya telah mencair. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD