Hari ini Sella memutuskan untuk ke rumah keluarganya. Mengingat mereka lah orang yang memberi tahunya kehidupan sang kakak, ia merasa perlu mendekatkan diri pada mereka lagi. Karena ia yakin, mereka tahu banyak soal kehidupan Sella sebelumnya.
“Mama…” Sella tersenyum lebar begitu pintu dibuka, menampakkan sesosok wanita paruh baya yang ia kenal.
Mama Ratna berdiri dengan dress satin biru dan rambut yang digelung rapi. Ia menatap Sella dengan tatapan bingung, meski akhirnya menyambut kedatangan Sella.
“Kamu kok nggak ngabatin dulu kalau mau datang?” suaranya datar tapi tajam. “Biasanya kamu bilang dulu.”
Sella terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana. “Maaf, Ma. Aku agak sibuk di rumah. Tadi cuma pengin nengok aja.”
Mama Ratna berjalan masuk tanpa menjawab, dan Sella mengikuti di belakang. Dari arah tangga terdengar suara langkah cepat, disusul suara manja yang memekakkan telinga.
“Kak Sellaaaa!”
Rasty, adik tirinya, berlari kecil sambil membawa ponsel di tangan. Wajahnya dipoles make up meski ia hanya berada di rumah. Ia langsung duduk di sebelah Sella dan memamerkan layar ponselnya.
“Lihat deh! Ini tas yang lagi banyak dibicarakan, Kak. Limited edition banget. Cuma diproduksi tujuh puluh buah di seluruh dunia. Harganya cuma dua ratus tiga puluh juta, loh! Lucu banget, kan, Kak?”
Sella menatap sekilas. Dalam pikirannya, uang ratusan juta bukanlah jumlah yang sedikit untuknya. “Iya, lucu. Bagus.”
Rasty memutar tubuhnya menghadap ke arah Sella. "Kakak nggak ada rencana beliin buat aku satu?"
Sella menggaruk tengkuknya. Meski ia tahu, lemarinya dipenuhi barang-barang mewah, tapi ia yakin ia mendapatkan semuanya dari uang Dimas.
"Kakak mana ada uang sebanyak itu, Ras? Itu sampai ratusan juta loh..."
“Pas-pasan? Kakak kan tinggal sama suami kaya! Kak Dimas itu direktur perusahaan besar. Masa beli tas aja nggak bisa?”
Mama Ratna, yang duduk di seberang, ikut bicara pelan tapi menekan. “Iya, Sayang. Mama juga heran. Bulan ini Mama belum kamu beliin apa-apa. Biasanya kan kamu bawain sesuatu.”
Tatapannya berpindah ke tangan Sella yang kosong. “Sekarang kamu datang tangan kosong begini? Mama kecewa, loh.”
Ucapan itu menusuk ke dalam hati Sella. Sella memaksa tersenyum, padahal hatinya mencelos.
“Maaf, Ma. Aku nggak sempat belanja. Tadinya mau bawain sesuatu, tapi belum sempat keluar rumah.”
Mama Ratna berdeham pelan. “Sibuk atau pelit, sih? Dulu kamu nggak begini, Sella. Dulu kamu royal banget. Apa Dimas udah nggak ngasih uang bulanan? Nggak mungkin kan? Kamu tahu sendiri, setelah papa kamu nggak ada, omzet perusahaan menurun. Uang dari perusahaan cukup buat kebutuhan sehari-hari aja. Kamu sih enak, sekarang jadi istri orang kaya. Lalu Mama sama Rasty? Kamu nggak malu kalau Mama sama Rasty kelihatan susah?”
Pertanyaan itu membuat Sella terdiam. Ia ingin menjelaskan, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan belum tahu bagaimana sistem hidup Sella yang dulu berjalan. Ia adalah Salsa yang kini ada di tubuh Sella. Ia tidak tahu cara meminta uang dari pria seperti Dimas.
Lagi pula, apa iya dia harus melakukan itu? Apakah Sella yang asli dahulu juga melakukannya?
Ia hanya tersenyum canggung. “Ya… Dimas lagi banyak urusan. Kami jarang bisa ngobrol santai berdua. Aku juga nggak enak minta-minta terus.”
“Ya ampun, Kak!” seru Rasty cepat. “Ngapain nggak enak? Kakak tuh istrinya, bukan orang asing. Kalau aku jadi Kakak, aku udah minta mobil baru sekalian.”
Mama Ratna ikut mengangguk. “Rasty benar. Kamu jangan kelihatan bodoh, Sayang. Suami kamu punya segalanya. Kamu itu harus bisa manfaatin posisi kamu.”
Kata manfaatin itu membuat Sella menegang. Ada rasa panas di dadanya, bukan karena malu, tapi karena muak.
Namun, ia hanya tersenyum samar, menunduk. “Iya, Ma. Nanti aku coba omongin baik-baik sama dia.”
Setelah beberapa jam berbasa-basi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam yang terasa seperti sindiran, Sella akhirnya diajak Rasty keluar makan.
Mobil Rasty berhenti di sebuah kafe mewah di pusat kota. Tempat itu tampak mahal, bahkan untuk sekadar makan siang.
Rasty langsung memesan beberapa menu mahal tanpa melihat harga.
“Kak, Kak. Aku tuh lagi kepikiran mau tukar mobil. Mobilku udah kelihatan tua banget. Teman-teman pada ganti ke keluaran terbaru. Aku malu kalau masih pakai yang lama.”
Sella menatapnya datar. “Mobil kamu baru dua tahun, kan?”
“Iya, tapi udah nggak keren. Aku pengin ganti bulan depan aja.” Rasty meneguk jusnya santai, lalu melirik Sella. “Kakak bantu ya? Sekalian aja minta sama Kak Dimas.”
Sella tercekat. “Apa?”
“Ya minta uang lah. Kakak kan gampang, tinggal manja dikit pasti dikasih.” Ucapan itu diikuti tawa kecil yang membuat darah Sella naik ke kepala.
Ia menarik napas pelan, mencoba menahan diri. “Ras, Dimas itu bukan tipe yang gampang aku mintain uang. Aku juga nggak pengin terus-terusan minta. Aku bisa cari sendiri nanti. Sisihin dari jatah yang dia kasih. Atau kalau kamu dan Mama memang kekurangan, biar nanti aku cari kerja di luar.”
Rasty memutar bola mata. “Kak, Kakak kok jadi gini sih? Cuma mobil loh. Lima ratus sampai delapan ratus juta juga dapat. Bagi Kak Dimas itu bukan uang besar kok.”
Sella menatapnya lama, mencoba mencari sedikit empati di wajah adiknya itu. Namun, yang ia lihat hanya kekeras kepalaan.
“Ras, nggak semua hal harus diukur dari uang. Aku memang istrinya. Tapi kamu sama Mama bukan tanggung jawab dia,” ucapnya pelan tapi tegas.
Rasty mendengus. “Ya ampun, sejak kapan Kak Sella jadi sok bijak gini? Biasanya Kakak yang paling heboh ngomongin barang branded, loh. Kakak sendiri yang selalu kasih ini itu ke aku, kan?”
Sella menelan ludah. Sekali lagi, itu adalah bayang-bayang masa lalu Sella yang tidak ia kenal. “Mungkin aku udah capek,” ujarnya akhirnya. “Capek hidup buat hal-hal kayak gitu.”
“Ya udah, kalau Kakak nggak mau bantu, nggak usah sok suci juga,” balas Rasty dengan nada meremehkan. “Tapi jangan salahin Mama kalau kecewa sama sikap Kakak lagi nanti.”
Ucapan itu seperti tamparan. Sella hanya terdiam, menatap meja dengan pandangan kosong.
“Bentar ya, aku ke toilet,” katanya akhirnya, berdiri dengan langkah pelan. Begitu pintu toilet tertutup, napasnya langsung terhempas berat.
Ia bersandar di dinding, menatap bayangan dirinya di cermin. “Jadi begini, ya, hidupmu dulu, Kak…” gumamnya lirih. “Selalu dikelilingi orang yang hanya menghitungmu dari berapa banyak uang yang kamu bawa.”
Senyumnya getir. “Tapi sekarang aku yang harus tanggung semuanya.”
Ia menatap wajahnya di cermin sekali lagi, sebelum akhirnya ia keluar dari toilet dengan kepala sedikit tertunduk. Makan siang itu berjalan hening sampai selesai. Begitu pulang, ia hanya diam di mobil sepanjang jalan, berpura-pura menatap pemandangan kota padahal pikirannya kosong.
Saat sampai di rumah dan pintu tertutup di belakangnya, Sella menjatuhkan tas ke sofa, menghela napas panjang, lalu menatap ke arah tangga yang menuju kamarnya.
Wajah Mama Ratna dan Rasty terus terbayang di kepala. Ia merasa, beban di dadanya terasa semakin berat setelah bertemu mereka tadi.
"Aku pikir mereka tulus menyayangi Kak Sella, selalu memperlakukan Kak Sella dengan baik. Tapi ternyata, mereka juga ada maunya?"
Dengan langkah pelan, ia naik ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. “Aku nggak tahu sampai kapan bisa terus jadi dia, tanpa ada yang curiga kalau aku bukan Kak Sella yang sebenarnya,” bisiknya lirih.
Kehidupan Sella ternyata jauh dari apa yang ia kira. Sangat berbeda dengan kehidupan normalnya sebagai anak dari kalangan menengah atas yang menikmati kehidupan seperti kebanyakan orang di sekitarnya.