"Sudah punya istri sesempurna Kak Sella, dia masih main belakang sama wanita lain di jam kerja seperti ini? Benar kata maminya Kak Sella. Laki-laki itu benar-benar berengsek," batin Sella.
Dua netra itu saling beradu tatap ketika keduanya menemukan keberadaan satu sama lain.
Dimas menjadi pihak yang lebih dulu membuang muka. Ia kembali meminum kopinya dengan damai, diselingi beberapa obrolan dengan seorang wanita di depannya.
Wanita itu - Natasha, tertawa kecil, menyelipkan helaian rambutnya ke telinga. Sella bisa dengan jelas melihat bagaimana jemari perempuan itu sesekali menyentuh lengan Dimas, seolah mereka begitu akrab.
"Dia bisa tersenyum begitu manis di depan orang lain?" jemari Sella yang tersembunyi di balik meja mengepal kuat. Tatapannya terasa panas, penuh kebencian, namun tak sanggup ia alihkan.
"Hey, kamu kenapa bengong?" sahabatnya, Tari, menepuk lengan Sella pelan.
Sella tersentak. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, menatap cangkir kopi yang sudah setengah dingin di depannya. "Nggak. Aku cuma..." ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Tari, sebenarnya aku pengin tanya sesuatu. Selama ini, aku pernah cerita apa aja ke kamu soal rumah tanggaku?"
Tari menatapnya bingung. "Kok aneh, ya? Baru kemarin kita ketemu di salon, kamu masih cerita gimana sikap Dimas ke kamu. Emangnya kenapa nanya kayak gitu sekarang?"
"Jawab aja dulu," desak Sella, suaranya terdengar kaku.
Tari menghela napas. "Ya, kamu biasanya ngeluh. Katanya Dimas itu nggak pernah peduli. Kalau pulang kerja, langsung masuk kamar kerja. Jarang makan bareng. Terus... kamu juga pernah bilang kalau dia pasti punya perempuan lain di luar sana. Ada beberapa orang juga yang kamu curigai ada main sama Dimas."
Sella membeku. Jadi benar, prasangka itu bukan hanya datang dari dirinya sendiri. Kakaknya, Sella yang asli, ternyata juga pernah meyakini hal yang sama.
Tari kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu berbisik, "Jujur aja deh, Sel. Kamu ngikutin dia, ya? Makanya milih resto ini buat ketemuan sama aku."
Ternyata Tari juga sudah menyadari keberadaan Dimas dengan seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka.
"Ngikutin?" Sella memalingkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi. "Enggak. Aku cuma kebetulan aja milih tempat ini."
Tari menaikkan sebelah alis. "Kebetulan? Padahal ini bukan tempat yang biasa kamu pilih. Eh, tapi serius, kalau beneran dia selingkuh, kamu harus punya bukti. Jangan cuma nuduh. Laki-laki kayak Adimas Mahawira bisa dengan mudah ngebalikkan keadaan kalau kamu cuma pakai omongan tanpa bukti konkret."
Kata-kata itu menusuk Sella. Buktinya? Apa lagi yang perlu dibuktikan kalau pemandangan di depan mata sudah sejelas ini? Dimas duduk santai bersama seorang wanita cantik, tertawa seakan tak punya beban.
Ia menoleh lagi ke arah meja di ujung ruangan itu. Dimas terlihat mencondongkan tubuh, mendengarkan Natasha dengan serius. Senyum tipis pria itu terukir sekali lagi, sebuah senyum yang tak pernah Sella (atau bahkan Kak Sella) terima di rumah.
Perlahan, perutnya melilit. Dadanya terasa panas.
"Tari..." suara Sella bergetar. "Kalau memang benar dia punya perempuan lain, berarti semua yang selama ini aku pikirkan nggak salah, kan? Dia memang nggak pernah mencintaiku. Dia hanya... menunggu waktu untuk lepas dari aku."
Tari menatap sahabatnya itu dengan iba. "Bukannya aku sudah sering bilang ke kamu buat berhenti berharap sama dia? Udah nyaris mustahil dia buka hati buat kamu. Tapi kamu sendiri yang selalu bilang kalau kamu bakalan menaklukkan dia."
Sella terkekeh pelan, getir. "Aku?"
Ia menunduk, menatap permukaan meja yang kosong. Suara tawa Natasha dari kejauhan terasa seperti cambuk yang menampar wajahnya. Jadi, Sella sendiri yang memilih untuk bertahan meski ia selalu disakiti oleh Dimas? Sebesar itu kah rasa cinta Sella yang asli pada Dimas?
"Dia... benar-benar berengsek."
Tari menghela napas panjang. Ia sudah terbiasa dengan perubahan suasana hati Sella ketika mereka memergoki Dimas sedang bersama wanita lain.
"Sudahlah, Sel. Kamu mau berbuat seperti apa juga dia tidak akan peduli. Stop berpikir kalau dia akan merasa bersalah ketika kamu bongkar perselingkuhannya. Dia malah... pasti akan semakin menantang dan menunjukkan padamu kalau dia bisa... dia menang di atas kamu."
Sella kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya penuh dendam. "Kau memang pria berengsek, Dimas. Aku pasti akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk laki-laki berengsek sepertimu."
Seolah merasakan sorotan matanya, Dimas tiba-tiba menoleh lagi. Kali ini tatapan mereka bertemu lebih lama. Ada sesuatu di mata pria itu - dingin, menusuk.
Jantung Sella berdegup kencang. Ia menahan napas. Tidak, ia tidak boleh terlihat goyah di hadapan pria itu. Maka dengan sisa keberanian yang ia punya, Sella menatap balik dengan penuh kebencian.
Dimas mengangkat cangkir kopinya, meneguk isinya pelan tanpa mengalihkan pandangan. Seolah menantang, seolah berkata bahwa ia sama sekali tak peduli dipergoki istrinya sendiri.
"Sel... ayo pindah tempat. Aku nggak enak kalau dia sampai nyadar kamu ngeliatin terus," bisik Tari cemas.
Sella menggeleng. "Biar saja. Aku ingin dia tahu, aku melihat semuanya."
Tari terdiam. Ada keteguhan yang asing di wajah sahabatnya kali ini. Bukan sekadar istri yang cemburu, tapi seseorang yang menyimpan amarah dalam-dalam.
Saat Natasha tertawa lagi, menepuk lengan Dimas dengan manja, Sella merasakan bara di dadanya semakin membesar. Tangannya bergetar di atas meja, menahan diri agar tidak bangkit dan langsung menampar mereka berdua di depan umum.
Namun, tepat sebelum ia kehilangan kendali, Dimas kembali memalingkan wajahnya. Ia mengucapkan sesuatu pada Natasha, lalu menutup percakapan dengan senyum sopan.
Pria itu bangkit berdiri. Tubuh tingginya tegak, penuh wibawa. Sebelum berjalan menuju kasir, ia menoleh sekali lagi dan kali ini, tatapan itu menghujam Sella begitu dalam, seolah menembus ke dasar hatinya.
Sella tersentak, buru-buru menunduk. Tari menelan ludah, ikut merasakan ketegangan yang aneh.
Ketika akhirnya suara langkah Dimas menjauh, Sella menggertakkan gigi. "Aku bersumpah, Tari. Aku akan membuatnya menyesal sudah menghianatiku."