(BUKAN) Bulan Madu

1296 Words
Jadwal penerbangan pesawat yang berubah secara tiba-tiba menghancurkan rencana yang sudah Hasna Renata susun. Entah apa masalahnya, Hasna jadi naik pesawat maskapai lain dengan jadwal yang molor sehari kemudian. Tidak ada yang menjelaskan alasan termasuk biro perjalanan. Keanehan yang berikutnya, tiket suaminya tetap berjalan semestinya di pesawat yang sama, sementara tiketnya berubah dan berganti pesawat. Apa yang terjadi? Hasna pun tidak tahu. Akhirnya, suaminya naik pesawat tanpa Hasna dengan alasan hotel dan restoran yang sudah dipesan tidak bisa dibatalkan dan Hasna pun tidak masalah jika suaminya jalan terlebih dahulu. Pada akhirnya, dia tersadar kalau bulan madunya akan hancur jika dia menerima keputusan pergantian jadwal ini. Hasna pun berusaha untuk mencari bantuan dari Taufik, sahabatnya. Dia berhasil mendapatkan tempat duduk dengan pesawat yang berbeda, tetapi hanya berselang satu jam dari jadwal semula. Semua itu dia rahasiakan. Hasna tutup mulut terkait jadwal penerbangan terbaru dan membiarkan suaminya tahu kalau dirinya akan tiba besok. Dia menyimpan itu sebagai kejutan untuk suaminya. Lagi pula, siapa yang mau melewatkan bulan madu mereka? Tampaknya tidak ada yang mau melewatkan bulan madu untuk pasangan baru. Suaminya, Arya Mahendra berasal dari keluarga terkemuka di Jakarta Selatan. Rambutnya hitam legam dan berkilauan jika terkena sinar matahari dan otot yang kekar membuatnya tampak seperti pria paling dikejar di daerah itu. Umurnya sudah tiga puluh tahun, tetapi dia sudah dikenal sebagai pria yang lemah dengan wanita. Namun, Hasna, di usianya yang baru dua puluh lima tahun telah jatuh cinta pada pesonanya. Dua tahun berpacaran membawa mereka ke pernikahan. Kembali ke pesawat. Hasna sudah duduk di kursinya bersampingan dengan pria yang bernama Kean Rinaldi. Hasna tahu namanya karena sempat melihat tas di atas sana dengan nama itu. Tebakannya mungkin benar. "Mau ketemu klien?" tanya Hasna yang mencoba untuk mencairkan suasana. "Ya, ada yang mau deal sebentar lagi," jawab Kean seperlunya. "Wah. Hebat. Selamat, ya!" kata Hasna menyikapi. "Kamu bekerja di perusahaan mana?" Kembali Kean menjawab tanpa menoleh ke arah Hasna. "Saya tinggal di Kemang." "Aku tinggal di Pondok Indah," jawab Hasna yang kegirangan. Betapa senangnya dia karena tempat tinggal mereka berdekatan. “Omong-omong. Namamu siapa?” Kean baru menoleh ke samping dan mengulurkan tangan, lalu disambut oleh Hasna dengan ramah. “Nama saya Kean.” “Aku Hasna,” jawabnya. Kemudian, mereka kembali asyik dengan pembicaraan. Obrolan mereka tidak membahas masalah pribadi sampai akhirnya Hasna pun tertidur. Saat pesawat mendarat, Kean menepuk bahunya dengan lembut. Mereka pun berpisah. Hingga akhirnya Hasna turun dari taksi dan semakin terkejut saat melihat Kean yang turun di hotel yang sama persis dengannya. Hasna mulai curiga kalau kehadiran Kean bukan sekadar urusan bisnis. Pilihan lokasi dan penginapan mengisyaratkan sesuatu yang lebih pribadi. Tempat ini bukan untuk bisnis. Apakah benar pria ini datang untuk bisnis? "Ini kunci Anda, Nyonya. Pasangan Anda sudah masuk tadi," kata si petugas itu memberitahunya sambil menyodorkan kartu akses. "Suami saya!" tegas Hasna sekaligus mengoreksi. "Dia suami saya dan ini bulan madu kami!" Ekspresi petugas itu berubah masam. Namun, tidak ditanggapi apa-apa oleh Hasna yang langsung berjalan ke arah lift. Kebetulan berikutnya, Kean juga ikut ke lift yang sama. Lift itu sunyi, Kean turun lebih dulu karena kamarnya di lantai lima, kamar 502. Dia meninggalkan Hasna sendirian di lift dengan senyuman. Sampai akhirnya dia tiba di lantai kamarnya, dia mencari-cari ruangan dengan nomor yang sama sesuai kartu akses. Kemudian, dia tempelkan kartu itu dan pintu terbuka. Kamarnya gelap. Hasna menyalakan lampu dan menyisihkan koper di pojok ruangan. Ingin sekali Hasna menjelajahi kamar ini, tetapi rasa rindu terhadap sang suami membuatnya tak sabar bertemu. Diam-diam, ia mendorong pintu kamar tidur, harap-harap suaminya sudah tidur. Namun, kamar itu masih terang dan akhirnya Hasna mengangkat tangan. "Kejutan! Aku sudah datang!" seru Hasna. Memang, suaminya ada di tempat tidur, di bawah seprai. Sayangnya, ada dua pasang kaki keluar dari sana dan salah satunya adalah seorang wanita. "Arya." Ekspresi Hasna berubah. Suaminya menutupi wajah wanita itu agar Hasna bisa melihatnya. Hati Hasna mencelus saat amarah memuncak. Dia menerjang seprai, tetapi suaminya dan wanita itu terlalu cepat untuk mencegah. Hasna pun terhuyung mundur sampai terjatuh. Dia sedikit melihat koper yang tergeletak di lantai. Hasna tidak bisa salah menilai, ada kotak sepatu hak emas, tas Gucci dan Hasna bisa melihat koper dengan nama yang sangat Hasna kenal, Julia Renata. Hasna baru bisa paham dengan semua hal ini. Mulai dari pesta pernikahan yang banyak keanehan, ekspresi adiknya di acara pernikahan yang tidak begitu senang, tiket pesawat yang batal sendiri tetapi suaminya tidak. Hasna mulai percaya semua itu ada hubungannya dengan Julia. Namun, mengapa Julia bisa melakukan semua itu? Hasna saudaranya. "Oh. Kalian sedang berbulan madu juga rupanya?" Hasna berusaha bersuara tanpa bergetar. Dia menyembunyikan rasa terkejut dan sakit hatinya sebisa mungkin. “Kenapa baru sekarang aku tahu? Kenapa kalian selingkuh seperti ini?" Siapa yang bisa tahan melihat kenyataan kalau suaminya selingkuh dengan adiknya sendiri? Tidak ada yang bisa menahan sabar pastinya. Orang paling sabar saja pasti akan marah. Arya langsung mencari celana dalamnya dan kemudian mendekati Hasna. Tangannya menyentuh pipi Hasna, tetapi pria itu malah menamparnya. Hasna semakin bingung dengan keadaan sekarang. Bukankah seharusnya Hasna yang marah? Mengapa jadi Arya yang menampar pipinya? Mengapa jadi Arya yang marah? "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu akan datang?" tanya Arya dipenuhi yang frustrasi. "Kamu yang buat kita jadi kaget. Apa itu tadi? Asal masuk kamar sembarangan tanpa ketuk pintu. Apa maksudmu datang lebih awal tanpa bilang-bilang?" Hasna pun menggelengkan kepalanya, tanda dia semakin tidak mengerti dengan suaminya. "Kalian berdua gila sudah gila.” Rasa sakit hati semakin menguasai dan akhirnya pelupuk mata Hasna mulai basah. "Nikmati bulan madu kalian di hotel. Saat kita bertemu nanti, surat cerai akan menunggu. Ini akan menjadi pernikahan terpendek dalam sejarah yang pernah ada.” Sebelum Hasna bisa pergi, suara Arya menghentikannya. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Ini kesalahan, Hasna. Kamu wanita yang aku cinta! Bilang sama dia, Julia!" Sayangnya, Julia malah berkata yang sejujurnya. "Dia bilang dia hanya mencintaiku dan dia memilihmu karena kamu bisa melahirkan anak laki-laki bermata biru. Menurutmu apa bisa kamu menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak Arya? Kami sudah berpacaran selama delapan bulan dan aku mencintainya. Kalau kamu mau menceraikannya, nanti aku yang akan memberinya anak-anak bermata biru cantik yang tidak bisa kamu berikan,” kata Julia menjelaskan. Arya pun tersenyum. "Kamu bukan pilihan yang buruk, Julia. Kamu cantik, anggun, lebih seksi, dan matamu indah. Hasna kuno dan tidak memamerkan bentuk tubuhnya. Selain itu, kamu juga memiliki semua yang tidak Hasna punya, apalagi kamu lebih muda dan lebih patuh." "Serius? Kamu malah ingin menikah dengan adikku?" Hasna semakin tidak percaya mendengarnya. "Aku tidak bilang begitu, tetapi ayahku memberikan posisi tertinggi di perusahaan sebagai hadiah pernikahan. Aku akan memiliki wewenang dalam dua tahun dan butuh seseorang yang sesuai dengan kriteria sebagai presiden masa depan, seseorang yang selevel denganku, Hasna. Mari kita pikirkan, Julia lebih cocok daripada kamu. Dia lebih unggul, bahkan di ranjang.” Arya mengakhiri percakapan dengan melirik Julia di ranjang. Arya bukan hanya selingkuh, tetapi memperlakukannya sebagai objek yang dapat digantikan. Di mana dua tahun hubungan mereka? Di mana pria yang dicintai Hasna? Tidak ada yang lain selain kekecewaan. Lelah dan terhina, Hasna akhirnya mengambil barang-barangnya dan pergi. Dia berpegang teguh pada sedikit harga diri yang tersisa. Hasna memutuskan untuk kembali ke bandara. Namun, penerbangan paling awal akan ada besok siang. Hasna jadi tidak bisa pergi ke mana pun. Penerbangan tidak tersedia, hotel juga penuh. Menjelang pukul dua pagi, dia pergi ke sebuah bar yang ada di sana. Dia menenangkan pikirannya dengan minuman yang dia suka. Sambil bersandar di bar, dia mencari pelipur lara dalam kelupaan. Dari kejauhan, Hasna melihat mata hijau yang dia kenal. Dia berusaha mendekat, tetapi tersandung dan jatuh. Kean bergegas ke menghampiri dan membantunya berdiri. "Minumlah bersamaku," pintanya sambil berpegangan erat pada lengan Kean. "Minumlah bersamaku, Kean atau aku akan minum dengan siapa saja yang tidak aku kenal. Aku harus melupakan segalanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD