Perjuangan Rindra Melawan Kegelapan

1014 Words
Angin berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan kayu lapuk dari reruntuhan vila tua tempat Rindra dan Naura terperangkap. Malam itu begitu pekat, seolah cahaya bulan pun enggan menembus kegelapan yang menyelimuti mereka. Naura berusaha mendekati Rindra, tubuhnya setengah terbuka, hanya tertutup kain tipis yang nyaris meluncur dari bahunya. Tapi yang membuat Rindra semakin waspada bukanlah penampilannya, melainkan tatapan matanya. Mata Naura yang biasanya penuh kelembutan kini dipenuhi warna kelam, pupilnya melebar, seolah bukan dia yang mengendalikan tubuhnya. Di balik Naura, sosok wanita bergaun hitam berdiri, senyum tipis di wajahnya yang pucat. Rambutnya tergerai panjang, bergerak seolah tertiup angin yang tak terasa di dunia ini. Dialah Dewi Kegelapan. "Rindra... Kenapa kau melawan !!?" Suara Dewi Kegelapan berbisik dalam pikirannya, halus namun menusuk seperti belati. "Naura telah menjadi milikku. Lihatlah dia... begitu indah, begitu menggoda. Tidakkah kau menginginkannya !?" Bisik Dewi Kegelapan. Rindra mengepalkan tangan. Nafasnya berat, tubuhnya terasa panas, bukan karena keinginan, tapi karena pengaruh kekuatan hitam yang mulai merayapi pikirannya. Dia tahu ini bukan Naura yang sebenarnya. Ini adalah permainan licik Dewi Kegelapan, mencoba menjeratnya dalam ilusi, memaksanya menyerah pada dorongan yang bukan berasal dari dirinya sendiri. “Naura… Sadarlah.” Rindra berbisik, suaranya serak karena menahan dorongan yang terus menekan. Naura tersenyum tipis, bibirnya bergerak pelan, hampir menyentuh telinganya. “Aku sudah sadar, Rindra. Aku ingin ini. Aku ingin kau…” Tangannya terangkat, menyentuh d**a Rindra, mengelusnya perlahan. Rindra mengejang, bukan karena sentuhannya, tapi karena hawa dingin yang mengalir dari kulit Naura. Ini bukan kehangatan manusia, ini adalah sentuhan kegelapan yang mencoba merasuk ke dalam dirinya. "Terimalah, Rindra… Kau akan merasakan kenikmatan yang tak pernah kau bayangkan..." Suara Dewi Kegelapan semakin dalam, menggema di dalam kepalanya. Rindra memejamkan mata sejenak, mencoba mengendalikan dirinya. Tidak. Dia tidak boleh menyerah. Jika dia membiarkan pengaruh ini menguasainya, maka bukan hanya dia yang akan hancur, tapi juga Naura. Dengan segenap tenaga, Rindra meraih liontin perak di lehernya, satu-satunya peninggalan ibunya. Liontin itu hangat di tangannya, memancarkan cahaya redup yang perlahan mulai menguat. Dia mengangkat liontin itu ke arah Naura, berharap bisa memutus pengaruh Dewi Kegelapan. Namun, Naura tiba-tiba bergerak cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Rindra, mencengkeramnya dengan kekuatan yang tidak mungkin dimiliki manusia biasa. “Jangan, Rindra…” Suaranya terdengar berat, seakan ada dua suara yang keluar dari mulutnya. “Jangan menolakku…” Bisik Naura. Rindra terkejut. Cengkeraman Naura begitu kuat, jarinya menekan kulitnya hingga hampir membekas. Dalam sekejap, sebuah bayangan hitam keluar dari tubuh Naura, menyelimuti dirinya. Mata Naura semakin gelap, tubuhnya bergetar seakan ada sesuatu yang merasukinya lebih dalam. Seketika, Naura berteriak ke dua tangannya mengepal. Jeritannya bukan hanya suara manusia. Ada gema lain di balik suaranya, seolah dua dunia bertabrakan dalam satu tubuh. Angin berputar di sekeliling mereka, membentuk pusaran gelap yang semakin membesar. Rindra tidak punya pilihan lain. Dia harus bertindak sekarang, atau Naura akan hilang selamanya. Dengan sekuat tenaga, Rindra menarik tangannya dari cengkeraman Naura. Cahaya dari liontin di tangannya semakin terang, menciptakan garis pemisah di antara mereka. Naura mundur selangkah, wajahnya tampak kesakitan. “Rindra…” Suaranya terdengar normal sejenak, penuh ketakutan. “Aku… Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku…” Ucap Naura pelan lebih terdengar seperti rintihan. Rindra menatapnya dalam, mencoba mencari jejak Naura yang sesungguhnya di balik mata gelap itu. “Aku akan menyelamatkanmu.” Katanya tegas. Namun, sebelum dia bisa mendekat, bayangan hitam kembali melilit tubuh Naura, menariknya ke udara. Dewi Kegelapan tertawa pelan. "Kau tidak bisa menyelamatkannya, Rindra... Dia milikku sekarang." Suara Dewi Kegelapan. Dengan gerakan cepat, Rindra meraih sebilah belati kecil di sakunya, belati yang terbuat dari perak dan kayu suci. Ini adalah satu-satunya senjata yang bisa melawan makhluk seperti Dewi Kegelapan. Dia melompat, menusukkan belati itu ke pusaran bayangan yang menyelimuti Naura. Cahaya meledak dari dalam tubuh Naura. Bayangan hitam berhamburan, teriakan Dewi Kegelapan menggema, penuh kemarahan dan kesakitan. Naura jatuh ke tanah, tubuhnya menggigil, napasnya tersengal. Namun, pertempuran belum selesai. Bayangan hitam kembali berkumpul di sudut ruangan, membentuk sosok Dewi Kegelapan yang kini tampak lebih nyata dari sebelumnya. Mata merahnya menatap Rindra dengan penuh kebencian. "Kau berani menentangku, Aku akan menghancurkanmu, Aku akan mewujudkan sumpahku membinasakan seluruh garis keturunan Jaka Wuning !!?" Rindra terperangah mendengar Dewi Kegelapan menyebut nama seseorang yang baru kali ini dia dengar. Dengan satu gerakan, Dewi Kegelapan mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya, semburan energi hitam melesat ke arah Rindra. Rindra mengangkat liontinnya tepat waktu. Cahaya dari liontin itu membentuk perisai di sekelilingnya, menahan serangan itu. Namun, dia merasakan tekanannya, seolah sesuatu mencoba merobek pertahanannya dari dalam. Dewi Kegelapan mendekat, bibirnya melengkung dalam senyum penuh kemenangan. "Kau bisa melawan, tapi kau tidak bisa menang, Rindra..." Kata Dewi Kegelapan. Tiba-tiba, Naura bergerak. Dia meraih belati yang tergeletak di lantai dan dengan segenap kekuatan yang tersisa, dia menusukkannya ke bayangan Dewi Kegelapan. "Aaaaaah... Kau... Naura !!?" Jeritan menggema di seluruh vila. Dewi Kegelapan mengerang, tubuhnya mulai bergetar dan memudar. Cahaya dari belati semakin terang, membakar bayangan yang menyelimuti ruangan. Dengan teriakan terakhir yang penuh kemarahan, Dewi Kegelapan lenyap dalam ledakan cahaya. Keheningan menyelimuti ruangan. Naura terjatuh ke lantai, tubuhnya lemas. Rindra berlari ke arahnya, meraih tubuhnya sebelum dia menyentuh tanah. “Naura…” Rindra memanggilnya dengan suara penuh kekhawatiran. Naura membuka matanya perlahan, napasnya masih berat, tapi matanya kini kembali seperti semula. “Rindra… Aku… Aku mendengar suara itu dalam kepalaku… Dia mencoba mengambilku…” Ucap Naura pelan. Rindra menggenggam tangannya erat. “Dia sudah pergi. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi.” Bisik Rindra memaksa senyumnya. Naura tersenyum lemah, air mata mengalir di pipinya. “Terima kasih… karena tidak menyerah padaku…” Bisik Naura. Rindra menghela napas lega, lalu menarik Naura ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa benar-benar tenang. Di luar vila, angin malam kembali berhembus dengan lembut. Dewi Kegelapan telah dikalahkan. Namun, di kejauhan, di dalam bayang-bayang malam, sepasang mata merah masih mengintai. "Mereka mungkin telah menang hari ini, keturunan Jaka Wuning harus musnah dari muka bumi ini." Gumam Dewi Kegelapan. "Tetapi bukankah satu-satunya cara menyatukan keturunan Jaka Wuning dan keturunanku agar kutuk ini bisa terlepas dariku." Ucap Dewi Kegelapan pada dirinya sendiri sembari menatap Rindra dan Naura dengan sorot mata memancarkan cahata merah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD