Lelehan air mata tak hentinya mengalir dari kedua mata Alegra. Membuat kornea matanya memerah dan kelopak mata itu membengkak. Hidungnya ikut memerah karena tangisannya yang tak kunjung reda sejak dirinya kembali dari kediaman Ratu Acelin. Ingatan ketika dengan mata kepalanya dia menyaksikan bagaimana Salsa meregang nyawa, selalu sukses membuatnya bergidik ngeri. Tubuhnya gemetaran tanpa dia sadari. Rasa takut menerjangnya tiada ampun saat memikirkan kemungkinan dirinya akan bernasib sama dengan kedua gadis malang itu, Brigitte dan Salsa. “Jangan menyerah, Al. Bertahanlah, kau harus kuat. Setelah urusanku dengan para pemberontak itu selesai, aku berjanji akan menjemputmu. Sampai itu terjadi, bersabarlah. Tetaplah hidup.” Jika biasanya saat kata-kata kakaknya terngiang di kepalanya, Ale

