TWELVE

2188 Words

Alegra tengah menyisir rambutnya dengan gerakan perlahan. Dia duduk di depan meja riasnya. Sesekali dia pandangi ukiran berbentuk ular pada sisir kayu yang dia genggam. Setelah dia pikir-pikir lagi, semua benda di istana ini memang selalu dihiasi ukiran berbentuk ular. Wajar memang, mengingat tempat ini merupakan kerajaan para siluman ular. Alegra hanya tak habis pikir, bagaimana bisa nasibnya semiris ini? Dari sekian banyak wanita di muka bumi ini, kenapa harus dirinya yang dijadikan persembahan untuk raja ular? Kenapa harus dirinya yang mengalami semua penderitaan ini? Alegra menoleh ke arah pintu kamarnya dan seketika semua lamunannya buyar begitu seseorang muncul dari balik pintu tersebut. “Selamat pagi,” sapa orang itu, Nirina yang bertugas melayani Alegra. Dia melangkah masuk ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD