Pasukan ular yang dipimpin Alegra kini sudah berbaris di depan istana kerajaan Vincentius. Alegra memicingkan mata saat tatapannya tertuju pada istana megah di depannya, dia teringat pada kenangan masa lalunya. Terlebih kejadian memilukan dimana orangtuanya difitnah, diarak di depan banyak orang hingga akhirnya dibakar hidup-hidup. Ya, disinilah kejadian naas itu terjadi, tepat di tempat Alegra berdiri. Dia menggulirkan mata ke sekeliling, mendengus kasar mendapati situasi sekarang sama persis dengan saat itu. Banyak rakyat tengah berkumpul di halaman istana seolah mereka akan menjadi saksi hidup atas kejadian besar yang sebentar lagi akan terjadi. Alegra tahu persis pasti Reegonlah yang memerintahkan mereka untuk berkumpul disini. “Keponakanku, Alegra. Lama tidak bertemu. Aku terkejut

