Anton dan Lido

1217 Words
“Baik, terima kasih karena sudah meluangkan waktu, sebelumnya kami menyesalkan apa yang terjadi dengan Anton ya, Pak. Hanya saja kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merawat Anton dari ketergantungan. Namun, tetap saja pada dasarnya kesembuhan itu kembali pada individunya itu sendiri. Kalau dia memiliki tekad untuk sembuh maka ia kan sembuh, sedangkan jika dari diri sendiri saja tidak mau berubah, maka kami juga bisa apa?” ucap kepala unit dengan ekspresi wajah yang penuh penyesalan. Iksan termenung sejenak, mencoba meresapi apa yang disampaikan kepala unit rehabilitasi. Tampak Meli juga menampakan wajah yang gusar, ia masih sangat terpukul meski berita semacam ini bukan sekali ia dengar. Meli tertunduk sambil kembali mengingat kejadian malam itu, rasanya sepertinya baru kemarin Anton digelandang ke kantor polisi. Malam naas itu, enam bulan yang lalu, Anton kembali tak pulang ke rumah, seperti layaknya malam-malam biasanya. Namun kali ini perasaan Meli—yang notabene sebagai ibu—diliputi rasa khawatir yang tidak biasa. Saat ia mendapatkan panggilan yang mengabarkan bahwa Anton sedang ada di kantor polisi karena kepergok pesta obat-obatan terlarang di sebuah hotel bintang lima, Meli baru saja tiba di rumah, setelah pekerjaannya yang sibuk seharian. Sebagai salah satu agen di sebuah kantor manajemen investasi, Meli tak pernah pulang kurang dari jam sembilan malam. Saat Meli sedang merebahkan tubuh di atas sofa sambil merasakan kelelahan yang amat sangat, terlepon rumahnya berbunyi. Tak ada orang lain di rumah itu selain dirinya dan seorang asisten rumah tangga, Iksan sedang ada di Praha untuk sebuah urusan bisnis properti. “Siapa, Bi?” teriak Meli yang sejenak sedang beristirahat dari kondisi yang penat seharian tadi. Bi Irma, asisten rumah tangga mereka yang menerima telepon itu, tak lama ia datang dengan tergesa ke ruang tamu untuk mengabari Meli. “Bu, ini ada telepon, katanya perlu bicara dengan wali Mas Anton katanya!” jawab Irma. “Wali Mas Anton? Dari mana? Dari mana lagi? Apa gak terlalu larut?” tanya Meli sambil sedikit mengurut keningnya, kepalanya terasa seperti sebentar lagi akan meledak. “Kurang tahu, Bu? Tadi saya belum sempat tanya,” jawab Bi Irma dengan raut wajah yang merasa bersalah. “Ya udah gak apa-apa, biar saya langsung terima,” ucap Meli, kemudian beranjak dari sofa, dan berjalan menuju telepon rumah yang terletak di ruang tengah. “Ada apa malam-malam begini?” gumam Meli sambil berjalan mendekati pesawat telepon. Entah mengapa hari itu perasaan Meli memang tidak karu-karuan, entah karena letih mengurusi para calon investor yang terkadang tidak semuanya mudah diajak kerja sama, entah ada hal lainnya. Yang pasti malam itu terasa melelahkan setelah menjalankan banyak aktivitas. “Selamat malam!” sapa seseorang dari balik telepon. “Iya, Pak, ada yang bisa dibantu? Maaf ini dari mana ya?” tanya Meli. “Kami dari kantor polisi, menghubungi ibu karena ada seseorang yang mengaku anak Ibu tertangkap tangan sedang pesta obat-obatan terlarang bersama teman-temannya, dan sekarang sedang ada di kantor kami untuk dimintai keterangan,” Mendengar kabar itu, nafas Meli mendadak sesak. Antara percaya dan tak percaya, ia mencoba mengendalikan emosi jiwanya yang berkecamuk. Kabar yang disampaikan polisi barusan seolah telah mematahkan semua harapan Meli pada putra semata wayangnya yang sangat ia bangga-banggakan selama ini dan juga ia harapkan dapat menjadi penerus keluarga. Di keluarga besar Adnan, Anton anaknya Iksan adalah anak laki-laki satu-satunya, semua sepupu Anton adalah perempuan dan ia satu-satunya harapan besar untuk mewarisi banyak aset yang diwarisi orang tua ayahnya. Iksan sebagai anak tertua di keluarga besarnya sekarang sedang merintis usaha properti, meski tidak sesukses Adnan—adiknya yang nomor satu, namun usaha Iksan cukup menjanjikan, selain bisnis properti ia juga mengelola restoran waralaba dan beberapa usaha laundry yang tersebar di mana-mana. Dan Anton adalah calon penerusnya, sekaligus penerus usaha lainnya yang diwarisi kakeknya yang sekarang masih menjadi harta bersama. Setelah mendapatkan kabar itu, Meli bingung harus berbuat apa, terlebih suaminya sedang tidak ada di Indonesia untuk seminggu ke depan, akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi kerabat dan juga adik dari suaminya, Adnan. Adnan satu-satunya orang yang sibuk ke sana kemari ketika Anton ditangkap, ia berusaha menghubungi banyak relasinya, dan berusaha agar Anton tidak berakhir di jeruji besi akibat kasus yang tengah marak di kalangan anak muda itu. Akhirnya usaha Adnan pun mendapat titik terang, Anton tidak jadi dipidana melainkan diungsikan ke Lido untuk rehab. Ini salah satu angin segar untuk keluarga Iksan, dan keluarga besar pada umumnya. Siapa yang mau punya anggota keluarga sebagai tahanan atau mantan tahanan di kemudian hari. Keluarga Iksan banyak berhutang budi pada Adnan dalam hal ini, karena saat Iksan tidak bisa mengurus beberapa urusan, biasanya Adnan yang akan ada di sana untuk merapikannya. Jadi, tak heran jika kini keluarga Adnan sedang berduka, Iksan adalah orang pertama yang paling sibuk mengurusi semuanya. Selain ia adalah kakak tertua, Iksan juga banyak berhutang budi pada adiknya itu. “Jadi, bagaimana sekarang, Pak?” tanya kepala unit dengan lugas. “Bagaimana apanya, Pak?” tanya Iksan, entah ia betulan tidak mengerti, atau dia tahu, jika Anton tidak bisa kooperatif saat melakukan rehabilitasi, maka kasus ini akan kembali dilimpahkan pada penyidik untuk ditindak lebih lanjut sesuai perundanagn yang berlaku. “Anton setatusnya memang masih percobaan, dia bisa kapan saja dipanggil kembali untuk penyidikan, dan…” ucap kepala unit terpotong. “Baik, Pak, baik… kami akan coba bicara pada anak kami, kami akan berusaha keras agar Anton bisa kooperatif!” sambar Meli, tak kuasa jika harus mendengar kelanjutan kata-kata kepala unit itu. Ia sudah menduga bahwa apa yang akan disampaikanya nanti bukan hal baik untuknya, Anton, maupun keluarganya. “Baik kalau begitu, Anton akan saya beri kesempatan lagi, tapi tolong kali ini tangani urusan ini dengan lebih serius,” ucap kepala unit dengan mimik yang datar dan sedikit kesal. “Baik, Pak. Terima kasih untuk kesempatan yang Bapak berikan,” respon Iksan, ia merasa sangat tak enak pada kepala unit, yang sudah berulang kali—mungkin hingga ia bosan—mengatakan agar Iksan harus bisa mengurus Anton dengan naik. Secara tak langusng ia pun seolah-olah ingin mengatakan bahwa Iksan dan Meli sama sekali tak berusaha mengurus anak dengan serius. Tak banyak yang dibicarakan antara Iksan, Meli, dan kepala unit rehabilitasi yang merawat Anton, setelah semua urusan selesai, mereka pun pamit, dengan sebuah “teguran keras”, bahwa ini adalah kali terakhir kepala unit melihat batang hidung mereka di kantor, ia berharap tak akan timbul masalah apa-apa lagi di kemudian hari. Meski mereka tak berani menjamin. Bersamaan dengan pulangnya Iksan dan Meli, Anton diperkenankan untuk sementara meninggalkan unit rehabilitasi sekitar tiga hari, untuk mendapatkan pengarahan dari orang tuanya, seperti yang disarankan kepala unit tadi saat berbincang. Setelah tiga hari, Anton wajib kembali ke tempat rehabilitasi, baik datang secara mandiri atau jemput paksa. Selain Anton ada empat teman dekatnya yang lain, juga ikut direhab di tempat yang sama. Di malam naas itu, ada sekitar tujuh remaja yang berpesta, semuanya direhab di Lido, kecuali dua temannya yang lain. Mereka berdua mendekam di jeruji besi sebagai tahanan BNN, karena diduga kuat selain sebagai pemakai juga sebagai pengedar dan bandar. “Jadi mau kamu apa?!” bentak Iksan, Iksan langsung menggiring Anton masuk ke ruang kerjanya saat mereka tiba di rumah. Darah Iksan seolah mendidih, saat harus kembali menasehati putranya untuk yang ke sekian kalinya. “Jawab!” teriaknya lagi sengit. Tampak Anton hanya tertunduk di pojok ruangan tanpa bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, seseorang masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD