" hai Ina! pagi-pagi udah melamun aja, hati-hati loh ntar kesambet bisa bahaya tau.." Tiba-tiba Eka datang ngejutin aku dari belakang. Ya, karena hari ini adalah hari pertama kami diterima kerja di sebuah warung internet (warnet) sebagai operator. Sebenar nya aku dan Eka baru kenal sich, itupun baru kemarin saat kami diwawancarai oleh bos kami pak Saipul. Beliau adalah salah seorang PNS di kantor dinas PU. Berhubung sebulan yang lalu beliau mendapat warisan, jadi mencoba untuk membuka usaha sampingan yaitu warung internet tempat kami bekerja sekarang.
"eh kamu Ka, kirain sapa". jawab aku yang sedari tadi merasa kebingungan harus meminta tolong sama siapa tuk bantuin buka pintu toko yang udah macet. Itu karena toko ini disewa oleh pak Saipul dengan harga sedikit lebih murah, lantaran sudah lama kosong tidak ada yang menyewa. Jadi, keadaan didalamnya memang harus ekstra dilakukan pembersihan menyeluruh sampai kelantai 2. Hal itu disebabkan karena toko ini memang berada di pusat kota, tapi karena agak masuk ke lorong dan pernah ada kejadian pembunuhan salah seorang waria tepat didepan toko ini. Sehingga orang-orang jadi malas untuk menyewa toko ini.
Tapi rupanya hal itu tidak berlaku pada pak Saipul, yang tidak ambil pusing dengan hal yang demikian. Karena bagi beliau yang memang berjiwa enterprinert, dimana ada peluang yang menguntungkan napa tidak dimanfaatkan ya kan.
" Aduuuh Ka, gmn ni kita buka pintunya yang udah berkarat kek gini, mana sanggup kita berdua, kita kan cewek bukan cowox yang punya tenaga yang jrong. Harusnya kan ada teman cowox kan minimal 1 orang yang kerja disini. Tapi ni masak kita aja berdua, cewek semua lagi". Aku nyerocos aja dari tadi panjang kali lebar, tanpa henti.
" Ya juga ya, Na". jawab Eka. " eits tunggu, bukannya kemaren pak Saipul bilang kalau yang akan bekerja disini 3 orang ya Ina. Jadi, selain kita berdua juga ada 1 orang anak cowok yang kena shift malam. Trus kalau aku gak salah dengar ni ya, ntar bakalan juga ada 1 orang cowox yang jadi pengawas kita disini, bisa dibilang kek manager gitu loh".Sambung Eka lagi.
" Wah yang betul Ka?, bagus juga donk kalau kek gitu. Tapi kok belum datang juga sampek jam segini y?", tanya ku pada Eka, karena memang aku kemaren telat datang sehingga ketinggalan info penting.
" Mungkin terjebak macet atau ada halangan apa gitu, makanya belum sampek Ina". Balas Eka yang mencoba menenangkan hatiku yang sudah resah dari tadi. Karena sudah 2 jam kami menuggu didepan toko, tapi belum bisa masuk juga sampek sekarang.
Brumm,,,,brummm,,,brummmmmm..
Tiba-tiba ada bunyi honda yang mendekati kami dan berhenti tepat didepan kami. Kemudian turun dari hondanya sambil membuka helm. "Assalamualaikum,,". Cowok itu mengucapkan salam kepada kami sambil tersenyum manis dan menunduk sopan. Kalau diperhatikan dari penampilannya sich orangnya seperti orang alim gitu, tutur katanya lembut dan selalu menundukkan pandangannya saat berbicara dengan kami. Dia memakai baju koko dengan celana cingkrangnya yang berwarna cream serta lengkap dengan peci bulat dengan warna yang senada dengan bajunya itu. kalau dilihat dari wajahnya sich lumayan manis. Cowok ini berkulit sawo matang, wajahnya bersih dan sedikit berjenggot tipis.
" Wa,,wa, waalaikumsalam, jawab aku dan Eka serentak dan sambil tergagap karena tidak menyangka, rasanya gak mungkin ada cowok alim gitu mau menyapa kami yang nota benenya berpenampilan seperti anak zaman sekarang yang masih suka memakai baju ketat. Meskipun pakaian kami sangat pas di badan, tapi setidaknya masih tergolong sopan karena masih menutup aurat dan tidak ada bagian tubuh kami ini yang terbuka, dengan jelbab yang masih sering kami putar ke belakang. Biasalah bagi anak remaja sekarang penampilan menarik itu adalah yang bisa menarik lawan jenis untuk melirik dan bersiul. Walaupun tubuh ku tidak seperti gitar spanyol, tapi lumayan seksi dan manis sich. Makanya banyak cowok yang melirik dan naksir. Malahan pernah ada yang melamar aku waktu SMA dulu, tapi aku menolaknya karena masih ingin melanjutkan kuliah dan menjadi orang sukses. Padahal cowok itu udah mapan kehidupannya dengan profesinya sebagai guru olahraga di sebua SMP negeri di kampungnya. Orangnya ganteng, tinggi dan macho gayanya. Wangi parfumnya ku suka, sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Sebenarnya aku juga ada rasa suka sich sama dia, tapi ego ku yang ingin menjadi orang sukses sebelum menikah mengalahkan rasa suka ku padanya. Yaa... anggap aja bukan jodoh kali ya..
" Maaf apa benar kalian berdua yang juga akan bekerja di warnet ini?" cowok tadi bertanya kepada kami. " Ya, benar. abang ini sapa ya? kok tahu kami juga bekerja di sini?" tanyaku balik kepada cowok tersebut. " Kebetulan saya juga akan bekerja disini, insyaALLAH akan menjadi OP shift malam." Jawab cowok tersebut. " Oooooo...." Jawab kami bersamaan. Rupanya teman kerja kami yang cowok ini adalah cowok yang baik - baik, bukan cowok gaul yang pecicilan dan resek. Baguslah kalau gitu, kurasa keberadaan kami di sini berarti aman.
" eee.... abang ni namanya sapa ya?" Eka bertanya kepada cowok itu kemudian. " Oh ya kenalin nama saya Iwan, kalau kalian siapa ya namanya?". Bang Iwan bertanya balik kepada kami berdua. " Kalau saya Eka, dan ini Ina. Kebetulan tempat tinggal kami dekat, jadi cepat akrab walaupun baru kenal juga kemarin. Karena kami sering ketemu meskipun gak saling bicara." Jawab Eka.
" Loh trus ini kok kalian masih duduk di luar ya? kok gak masuk ke dalam aja?" tanya bang Iwan lagi karena heran udah jam 10 kami masih duduk di depan toko, tidak segera masuk dan melakukan kegiatan apapun untuk memulai kerja hari ini. " Ck..ck..ck.. Masalahnya kami gak bisa buka pintu tokonya bang, jadi gmn mau masuk coba?" sahut ku kemudian. "Loh kok bisa? kan kita udah dikasih kunci cadangan masing - masing." Bang Iwan lagi. " Ya sich, kunci ada. Tapi pintunya udah karatan bang, jadi kami gak sanggup dorongnya. kan kami berdua cuma cewek, mana kuat." sahut ku lagi.
" Oh gitu rupanya, yaudah kalau gitu yok abang bantu. Kita buka sama-sama ya. Kalian berdua tolak pintu yang disebelah kanan, abang tolak pintu yang disebelah kiri ya." pinta bang Iwan. "Ok bang ." Jawab kami berbarengan lagi. " MasyaALLAH,,,,, kalian betul kompak ya, dari tadi selalu menjawabnya bersamaan. Abang salut dan yakin kalian insyaaALLAH pasti akan menjadi sohib." Sela bang Iwan sambil terkekeh..
"Amiiiiinn.... hihihi." jawab kami lagi sambil cekikikan. " Ok, kalau gitu kita mulai sekarang ya, abang hitung 1,,,, 2,,,, 3.. Tolaaak... ". Seru bang Iwan memberi aba-aba kepada kami dan dirinya sendiri. " Alhamdulillaaaah... akhirnya bisa juga pintu ini terbuka". Ucapku penuh syukur. "Kalau begitu, ayo kita masuk sekarang. terus kita mulai bersihkan dulu ruangan yang dibawah ini dulu ya, baru setelah itu kita bersihkan ruangan yang dilantai atas". Ajak bang Iwan kemudian. Selanjutnya kami pun mulai membersihkan ruangan dilantai bawah ini dengan semangat.
Aku mulai menyapu ruangan ini, sedangkan Eka menyiapkan air dan kain pel untuk mengepel lantai. Sedangkan bang Iwan mulai mengangkat barang-barang yang akan dirangkai menjadi sekat tuk setiap bilik menjadi ruangan mini untuk satu set komputer. Semua bahan terbuat dari kain dengan kerangka besi yang bisa di geser-geser, karena memakai roda. Pilihan kainnya bagus juga, dengan motif polkadot yang berwarna hitam putih dan daun yang berwarna hijau dengan dasar putih.