Kedok yang Mengendur

1050 Words

Dinding kamar yang tebal dan dilapisi kedap suara seolah tidak mampu meredam gema kekerasan yang baru saja terjadi di koridor luar. Alea Syailendra duduk di tepi tempat tidur, jemarinya yang masih bergetar mencengkeram sprei sutra hingga permukaannya kusut. Napasnya masih terasa berat, membawa sisa aroma logam dan debu dari pertarungan hidup dan mati yang nyaris merenggut nyawanya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Alea menatap pintu kayu jati yang kokoh, tempat Marco baru saja menghilang untuk membereskan kekacauan yang tersisa. Pikirannya tidak bisa berhenti memutar ulang detik-detik ketika Marco menerjang maju. Ada sesuatu yang mengusik nurani Alea, sebuah detail yang tidak selaras dengan profil dingin dan kalkulatif yang selama ini ditunjukkan oleh pria itu. Saat Marco menarik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD