Tatap Muka Tak Terhindarkan

1350 Words

Sisa-sisa aroma mesiu yang tajam masih menggantung berat di udara kamar yang kini hancur berantakan. Pecahan kristal dari lampu hias berserakan di atas karpet Persia seperti butiran es yang mencair di bawah pendar lampu darurat yang berwarna kemerahan. Alea berdiri mematung di sudut ruangan, jemarinya yang masih gemetar mencengkeram erat pinggiran meja rias yang retak. Di tengah ruangan, Marco berdiri memunggungi jendela yang pecah, sosoknya tampak seperti bayangan hitam yang mengancam di tengah kekacauan. Darah kering di lengannya dan napasnya yang berat menjadi saksi bisu atas kebrutalan pertarungan yang baru saja berakhir. "Duduklah, Alea," perintah Marco. Suaranya rendah, namun mengandung getaran otoritas yang tidak bisa dibantah. Alea menelan ludah, merasakan tenggorokannya yang ker

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD