Langit di atas kota tampak seperti kanvas yang dicoreti jelaga, kelabu dan menindas. Di pinggiran distrik yang terlupakan, tempat cahaya neon pusat kota tidak pernah benar-benar sampai, aroma kemiskinan merayap di setiap sudut gang. Bau air selokan yang menggenang, sampah yang membusuk, dan asap dari pembakaran ban bekas memenuhi udara yang lembap. Di sinilah, di jantung permukiman kumuh yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang terbuang, Marco melangkah dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak lagi mengenakan setelan mahalnya yang biasa terlihat di markas besar Vandeborg. Malam ini, ia hanyalah sesosok bayangan yang terbalut jaket hitam sederhana dengan tudung yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya. Alea memantau dari kejauhan melalui saluran komunikasi yang sangat sunyi. Setelah pengakuan emosiona

