Malam di Mansion Vandeborg tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemegahan dinding marmernya, selalu ada desis perangkat elektronik, langkah kaki pengawal yang berpatroli, dan napas-napas penuh kecurigaan yang saling mengintai. Alea Syailendra duduk di depan laptopnya di dalam kegelapan kamar, hanya diterangi oleh pendar biru dari layar yang memantul di bola matanya yang tajam. Setelah fragmen data yang ia temukan kemarin menunjukkan keterkaitan antara teknologi ayahnya dan sistem Vandeborg, Alea tahu ia tidak bisa lagi hanya menunggu. Ia harus memancing predator itu keluar. Tangannya bergerak dengan presisi yang menakutkan di atas papan ketik. Ia tidak sedang mencoba meretas server utama kali ini. Sebaliknya, ia sedang menciptakan sebuah umpan. Ia menyusun serangkaian data palsu yang

