Kegelapan di dalam kamar Alea terasa lebih pekat malam ini, seolah-olah bayangan-bayangan di sudut ruangan memiliki massa yang nyata. Udara di Mansion Vandeborg yang biasanya berbau kayu mahoni tua dan lilin aromatik, kini terasa terkontaminasi oleh bau logam statis yang tajam. Alea Syailendra duduk di kursi kerjanya dengan punggung yang kaku, hanya diterangi oleh pendar biru dari layar laptop yang memantul di bola matanya yang jernih namun penuh kewaspadaan. Setelah menerima pesan singkat yang mengerikan tentang entitas ketiga yang menunggunya di pintu keluar, Alea tahu bahwa diam berarti menyerah pada maut. Tangannya yang ramping bergerak dengan presisi yang hampir mekanis di atas papan ketik. Ia tidak lagi mencoba menyelinap melalui jalur utama yang kini dipenuhi oleh jebakan digital S

