***
Skripsi itu berwujud kata-kata tapi kok setiap aku mencoba mengerjakannya aku selalu kehilangan kata-kata
***
Menjadi anak semester akhir, melakukan penelitian kemudian melakukan revisi yang entah kapan berakhir membuat kepala Khalila benar-benar terasa ingin pecah, di tambah lagi di omelin dosen pembimbing, Khalila rasanya ingin mengabdikan diri pada kasurnya saja namun dia juga tidak ingin kehilangan masa depannya.
Gadis itu dengan langkah gontai keluar dari kamarnya, rambutnya di ikat asal-asalan, kantong mata yang sudah menghitam karena begadang semalaman penuh.
“Mami!” seruan Khalila terdengar begitu pelan, dia menuruni satu persatu anak tangga, matanya mengerjab perlahan, rumahnya sangat sepi, tidak ada tanda-tanda penghuni di rumah ini. Dia kemudian mengangguk perlahan seolah sudah menyadari ke mana perginya orang rumahnya di hari kamis. Tentu saja mereka semua sedang sibuk dengan semua aktivitas seperti biasa bahkan seingat Khalila bahkan Rayner tidak pulang sejak kemarin.
Alih-alih melangkah ke ruang makan di rumahnya, Khalila justru keluar dari rumah, menyebrang jalan kemudian mendorong pintu pagar rumah tetangganya. Khalila hanya berharap tante Rinjani ada di rumah kali ini, sungguh dia sedang malas makan siang sendirian.
“Kenapa wajahnya begitu?!” seruan suara berat yang sangat dia kenal membuat langkah Khalila langsung terhenti di tempatnya, matanya tertuju pada sosok Angga yang sedang bersantai di ruang keluarga dengan ponsel di tangannya.
Khalila langsung mempercepat langkahnya ke sana lalu duduk di samping Angga, bersandar sepernuhnya ke sofa kemudian matanya kembali terpejam. Khalila masih merasa begitu sangat mengantuk.
“Skripsi itu berwujud kata-kata ya, Mas, tapi kok setiap aku mencoba mengerjakannya aku selalu kehilangan kata-kata, ngantuk banget, begadang semalaman suntuk tapi itu revisian nggak kelar-kelar, di tambah dosen pembimbing super galak, stres berat aku. Kalau begini ceritanya aku kapan lulusnya, kapan dapat hadiah dari bang Ray, dan kapan dapat tiket liburan dari mbak Satya!” seru Khalila dengan mata terpejam.
Angga menoleh kemudian mengamati wajah gadis yang duduk di sampingnya dengan lekat, dia kemudian meringis pelan ketika menyadari betapa kacaunya Khalila, keadaan Khalila sungguh sangat memprihatinkan. Angga sedikit banyak bersyukur Khalila menggunakan celana piyama dan kaus pagi ini tidak gaun tidur super tipis kesayangan gadis itu.
“Masih kurang banyak banget?” tanya Angga, Khalila langsung mengangguk.
“Deadline-nya kapan?”
“Tiga hari lagi, duh lah, mas Angga sakit kepala aku, mau numpang makan aja. Tante Jani mana?” tanya Khalila, gadis itu sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Mama ada di dapur,” jawab Angga dengan cepat. Khalila langsung tersenyum tapi sebelum beranjak dia kembali menatap Angga dengan lekat.
“Mas Angga nggak ngantor?” tanya Khalila, ini hari kamis, biasanya Angga sudah berangkat sejak pagi dan baru akan kembali ke rumah sore bahkan malam hari.
“Udah tadi ketemu klien sebentar terus pulang lagi,” jawab Angga santai, Khalila mengangguk.
“Kayaknya aku yang benar-benar bangun kesiangan,” ucap Khalila dengan super polos, Angga tersenyum geli.
“Memang, tapi yaudah sana ke dapur, makan terus mandi abis itu kita ke B&W Caffe,” ucap Angga.
“Kalau ke sana langsung berangkat sih, Mas, kayaknya aku juga butuh ngopi biar kembali waras!” seru Khalila dengan semangat menggebu.
“Mas sekalin aku nitip di ambilin baju ganti ke rumah ya, nanti abis makan aku mau langsung mandi di kamar mbak Satya biar nggak bolak-balik,” ucap Khalila sembari nyengir.
Angga menarik napasnya, “ketimbang nyebrang doang, La,” ucap Angga dengan malas.
“Mas Angga biasanya juga gitu ya kalau tiba-tiba mau mandi di rumah aku, jadi biar adil gantian lah, Mas, ambilin loh nggak mau tahu aku,” ucap Khalila kemudian barulah gadis itu berlari kecil ke dapur, menemui Rinjani yang sedang sibuk dengan masakan untuk makan siang yang sudah di jamin akan sangat lezat sekali.
Angga menarik napasnya, kemudian dia beranjak dari sofa untuk mengambil baju ganti Khalila, dia hanya perlu meminta tolong pada Mbak yang bekerja di rumah Khalila, kalau Angga yang ambil sendiri ya ngeri juga. Banyak barang pusaka Khalila di dalam lemari pastinya, membayangkannya saja sudah membuat wajah Angga memanas walau dulu waktu kecil dia pernah hujan-hujanan bersama Khalila menggunakan pakaian dalam saja, tapi sekarang sudah beda ceritanya.
***
Pasangan itu langsung masuk ke dalam B&W Caffe ketika sudah sampai, senyum lebar Arjuna, salah satu barista untuk B&W Caffe langsung menyambut mereka.
“Kenapa wajah lo begitu amat, Mbak, skripsi mulai merenggut waktu rebahan lo?” tanya Arjuna sambil menatap Khalila dengan geli. Khalila langsung memukul lengan Arjuna begitu saja.
“Brisik lo, dua tahun lagi, lo juga akan merasakan hal yang sama, gue ketawa-ketawain deh loh sambil ngopi!” seru Khalila penuh dendam membuat tawa Arjuna semakin meledak.
“Yaampun, Mbak, dendam amat loh, nanti Kala noh yang nasibnya akan sama kayak lo, sama-sama anak sipil,” ucap Arjuna sambil melirik Kala yang juga merupakan barista untuk B&W Caffe.
“Bhanu udah datang Jun?” tanya Angga menyela perdebatan Arjuna dan Khalila kalau tidak begitu, dia tidak akan di beri kesempatan untuk berbicara, dua orang itu pasti akan terus berdebat.
“Udah tuh, Mas. Ada di teras belakang tapi nggak sama mbak Rindu, lagi ngopi dia,” jawab Arjuna. Angga langsung mengangguk kemudian melangkah ke teras belakang, dia harus mengobrolkan sesuatu tentang B&W Caffe bersama Bhanu sebelum pria itu berangkat ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan S2.
“Kopi yang biasa di minum mas Angga dan kopi spesial buat gue, harus yang paling enak, gue stres parah Jun butuh banget kafein!” seru Khalila pada Arjuna, pria itu langsung mengangguk dan Khalila memilih menyusul Angga ke teras belakang, walau Khalila tahu, Angga dan Bhanu akan membicarakan pekerjaan tapi itu tidak masalah, dua pria itu memiliki cara yang unik ketika sedang membicarakan pekerjaan jadi tidak membosankan sama sekali.
“Mbak Rindu mana, Mas?” Khalila langsung bertanya pada Bhanu ketika dia duduk di samping Angga.
“Kuliah, lo nggak inget ini hari apa, kamis La, jadwal Rindu padat,” jawab Bhanu. Khalila langsung mengangguk, bisa-bisanya dia melupakan itu padahal semalam Rindu dan Karlita membicarakan soal jadwal mereka padanya.
“Lupa gue, Mas, padahal semalam mbak Rindu dan mbak Karlita membicarakan tentang jadwal kuliah mereka sama gue,” jawab Khalila, dia langsung menyedot kopi yang baru saja di sajikan oleh Arjuna.
"Makasih loh Jun, btw, makin mantap kopi racikan lo!" seru Khalila, Arjuna nyengir sembari menenepuk-nepuk dadanya bangga kemudian kembali masuk ke dalam kafe.
“Skripsi gimana, aman?” tanya Bhanu setelah dia selesai berdiskusi dengan Angga tentang beberapa hal untuk B&W Caffe.
“Lo nggak lihat, Nu, itu kantong mata dia udah segede gaban, ya pasti nggak amanlah!” seru Angga dengan geli. Khalila menatap Angga dengan sinis. Awas saja, nanti malam Khalila akan menyeret Angga untuk membantunya mengerjakan revisian skripsi biar begadang bersama dan memiliki kantong mata segede gaban bersama, jadi tidak ada kesempatan untuk ngata-ngatain.
“Nggak aman lah, Mas, stres berat gue, selama gue hidup, kayaknya baru kali ini gue benar-benar merasa stres, nggak suka banget gue apalagi waktu rebahan gue di renggut!” seru Khalila. Angga dan Bhanu menatap Khalila dengan geli.
“Yang sabar ya dedek Lila!” seru kedua pria itu dengan kompak kemudian tawa mereka meledak yang membuat Khalila mengerucutkan bibirnya. Sungguh dua kakak tingkatnya ini menyebalkan sekali. Khalila memang kuliah di almamater yang sama dengan Angga dan Bhanu bahkan juga sama dari fakultas teknik.
“Berisik kalian!” seru Khalila ngambek dan bukannya menenangkan, Angga dan Bhanu kembali tertawa meledek, mereka dulu juga pernah ada di masa seperti yang di alami oleh Khalila sekarang. Sungguh rasanya mantap sekali tapi setelah lulus, rasanya super bangga apalagi ketika mendapatkan pekerjaan, rasanya menjadi luar biasa.