Bab 9: Si Yang Akhirnya Sarjana

1712 Words
*** Hal yang terkadang sederhana untuk orang tapi itu adalah hal yang sangat berharga untuk orang lain *** Dalam perjalanan hidupnya mungkin hari ini adalah percapaian terbesar dalam hidup Khalila. Setelah dia berperang begitu lama dengan skripsinya dan melewati sidang yang membuat janatungnya hampir jatuh ke tanah pada akhirnya Khalila benar-benar bisa melalui semuanya. Hari ini adalah puncak dari perjuangan Khalila beberapa tahun terakhir. Ya, hari ini Khalila Wikasita akan merayakan kelulusannya. Dia resmi menjadi mahasiswa lulusan teknik sipil dan juga meresmikan diri menjadi pengangguran setelah wisuda nanti. Khalila belum tahu ingin melakukan apa. Dia juga tidak berniat bekerja sesuai dengan jurusannya karena pada akhirnya Khalila menyadari kalau jurusan dia selama kuliah bukanlah dirinya. Khalila tidak pernah merasa nyaman berada di dalamnya. Dia hanya menjani saja tanpa memasukkan semuanya ke dalam hatinya. "Abang gimana?" tanya Khalila sembari berdiri di hadapan Rayner yang sedari tadi sudah menunggunya di depan kamar. Rayner mengamati penampilan Khalila dengan dengan sangat lekat kemudian pria yang sedang menggunaka baju batik itu tersenyum sembari mengangguk-anggukkna kepalanya. "Luar biasa, Khalila Wikasita terlihat sedikit lebih dewasa," ucap Rayner, dia memberikan lengannya pada Khalila. Gadis itu langsung menyambutnya. "Gue udah mau dua puluh tiga, Bang, ya kali di bilang anak kecil mulu," ucap Khalila sembari mendengus, keduanya kompak menuruni anak tangga. Khalila memang berdandan sendiri untuk acara wisudanya, itu adalah salah satu impian Khalila. "Tapi bagi semua orang yang ada di rumah, kamu itu benar-benar anak kecil bahkan rasanya Abang nggak pernah rela kamu cepat gede," ucap Rayner. Hubungan kakak dan adik itu memang sangat dekat satu sama lain. Mereka memang hidup di antara orangtua yang super sibuk, tapi keduanya benar-benar tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Mata Khalila mengerjab perlahan ketika melihat ruang tamunya mendadak sangat ramai. Keluarga Lakeswara sekarang berada di rumahnya. Tentu saja ada Angga di sana. Khalila bahkan mendadak merasa ini bukan lagi seperti mau wisuda tapi udah seperti acara mau lamaran. Tapi mana mungkin juga, tante Jani jelas tidak akan mau memiliki menantu yang hanya bisa rebahan saja. Mengurus diri sendiri saja Khalila belum mampu apalagi mengurus Angga, bisa kacau semuanya. "Yang akhirnya mau resmi jadi sarjana cantik banget," ucap Satya. Gadis itu sengaja pulang dari Jakarta hanya untuk datang ke acara wisuda Khalila. "Yang mau nganterin wisuda juga cantik banget," ucap Khalila tidak mau kalah menggoda Satya. "Ini nggak ada yang kerja?" tanya Khalila dengan bingung, bagaimanapun selasa adalah hari kerja, orang-orang yang bersamanya hari ini biasanya sudah sibuk dengan rutinitas mereka masing-masing. "Libur semua buat yang mau wisuda," ucap Rajendra dengan senyum menggoda pada Khalila. Seharusnya Khalila memang harus bersyukur dengan semua ini. Orang-orang terdekatnya memang selalu tahu cara untuk membuatnya merasa bahagia. "Serius ke wisuda seramai ini?" tanya Khalila. Orang-orang itu langsung mengangguk. Angga memberikan satu buket bunga pada Khalila dan menunjuk satu buket lainnya yang lebih besar berisi berbagai cemilan kesukaan Khalila. "Serius, Sayang. Memang harus seramai ini," jawab Rinjani. "Kita berangkat sekarang, nanti telat," ucap Citra. Mereka semua mengangguk kompak tapi Khalila langsung menahan mereka semua. "Nilai aku pas-pasan banget loh, nggak akan ada tuh selendang cumlaude atau hal lainnya, yakin mau datang semuanya?" tanya Khalila dengan tatapan penuh keraguan. "Kita udah tahu semua, jadi nggak usah ragu-ragu. Lagian Papi juga kangen lihat anak-anak muda dan kangen suasana kampus. Jadi anggap aja kita semua sedang pergi piknik," ucap Abyaz. Khalila langsung mendengus mendengar ucapan Papi-nya itu sedangkan yang lain sudah tertawa termasuk juga dengan Angga. "Yaudah sekarang kita berangkat piknik," ucap Citra. Khalila lebih memilih satu mobil dengan Angga, para orangtua satu mobil semua sedangkan Rayner bersama dengan Satya. *** "Mas, itu semua orang benar-benar libur hari ini?" tanya Khalila ketika mobil yang di kendarai Angga mulai melaju, mengikuti dua mobil lain yang ada di depannya. Mungkin ini definisi wisuda di rayakan ramai-ramai. Sebenarnya ini juga sudah menjadi kebiasaan dua keluarga itu. Dulu saat Angga wisuda pun semua orang datang untuk merayakan. "Memanfaatkan jatah cuti katanya," jawab Angga dengan geli. Membayangkan bagaimana hebohnya keadaan rumahnya pagi ini untuk merayakan wisuda Khalila membuat Angga menggelengkan kepalanya. Satya yang kalau di Jogja selalu bangun paling siang tadi pagi justru bangun paling duluan. "Jangan bilang mereka kali ini bawa bekal ya, Mas?" tanya Khalila penuh dengan selidik. Angga langsung meringis. "Tapi sayangnya dua mama itu memang sudah menyiapkan banyak bekal, udah bawa tikar, lengkap banget pokoknya. Mereka semua sepertinya mulai bosan makan di restoran dan ingin piknik di taman kampus," jawab Angga. Khalila menghembuskan napasnya pasrah. Kali ini terserah saja. Khalila bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan teman-temannya nanti melihat rombongannya ini. "Mari kita nikmati permainannya, lagian udah lama juga nggak piknik bareng tapi sekalinya piknik di taman kampus, aku antara mau nangis dan ketawa," ucap Khalila. Angga terkekeh pelan. "Sabar ya dedek Lila," ucap Angga. Terkadang keluarga mereka sekalinya gabut memang nggak tanggung-tanggung contohnya ya hari ini. "Nanti pas sampai gedung pura-pura nggak kenal aja sama semua orang yang ada dalam dua mobil di depan boleh nggak sih, Mas?" tanya Khalila. Baru kali ini Khalila ingin melarikan diri dari keluarganya dan keluarga Angga. "Siap-siap aja nggak dapat jajan kamu bulan besok," ucap. Angga. Khalila menarik napasnya kemudian melebarkan senyum. "Kamu bener, ini menghitung hari sebelum dapat uang jajan," ucap Khalila. Angga kali ini tertawa melihat tingkah Khalila. Khalila benar-benar sangat menggemaskan. *** Acara wisuda Khalila sangat lancar, anak-anak B&W Coffe juga sempat hadir tadi termasuk dengan Rindu dan Karlita tapi sekarang mereka sudah pergi karena memiliki kelas. Sekarang tatapan Khalila tidak lepas sedikitpun dari Angga yang sedang mengobrol dengan Manika. Siapa sangka jika si Manika bukan kedelai pilihan itu memiliki sepupu di sini dan itu ternyata teman seangkatan Khalila. Manika sedari tadi benar-benar membuat Angga selalu bersama dengan gadis itu membuat Khalila mendadak kesal sendiri. Keluarganya dan keluarga Angga benar-benar melakukan piknik dadakan di taman kampus, untung saja itu bukan keluarganya saja tapi juga ada dari keluarga wisudawan lain jadilah Khalila tidak malu-malu banget. Napsu makan Khalila sudah lenyap sejak tadi sejak melihat Angga dan Manika bersama. Obrolan dua orang itu seolah tidak ada habisnya. "Lilaa!" seruan itu membuat Khalila langsung menoleh, senyumnya langsung melebar dan langsung bertos ria dengan cowok yang memakai pakaian santai dengan gitar yang tersampir di bahunya. "Mas Witan kok bisa ada di sini?" tanya Khalila. Dia lupa kapan terakhir kali bertemu Witan, mungkin setahun yang lalu saat pria itu wisuda. Witan memang kakak tingkat Khalila dan mereka dulu anggota band yang sama. Khalila jelas sebagai vokalis. Witan sebagai gitaris yang terkadang juga ikut bernyanyi bersama Khalila. "Lagi ada sedikit urusan di sini dan siapa sangka kalau lo wisuda hari ini. Gimana rasanya?" tanya Witan. Mereka kemudian duduk disalah satu kursi kosong tidak jauh dari tempat Khalila berdiri sejak tadi memantau interaksi Angga dan Manika. "Mantap banget, Mas, akhirnya waktu rebahan gue kali ini nggak akan terganggu lagi," ucap Khalila, Witan langsung terkekeh mendengar itu. Khalila memang selalu jujur tentang dirinya pada teman-temannya yang dia anggap dekat dengannya salah satunya ya sama Witan ini. "Masih sama aja ya lo, ternyata," ucap Witan. "Lagian ya, Mas, apa pula yang harus di ubah tentang hidup gue, nggak ada sama sekali. Btw, Mas, gue nggak ngerti kabar lo selama setahun terakhir, sibuk apa lo?" tanya Khalila dengan mata memicing. Khalila sama sekali tidak bisa menebak apa yang di lakukan Witan selama satu tahun terakhir karena Khalila tidak melihat perubahan apapun pada pria itu karena sejak dulu pun Witan selalu tampil rapi. "Kerja, La, lo pikir gue ngapain?" tanya Witan dengan nada suara geli, "kalau gue ikut rebahan kayak lo terus makan apa gue, angin? " lanjut Witan. Witan memang bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti Khalila tapi bukan berarti Witan bukan orang yang kekurangan uang. Pria itu hidup bercukupan bersama dengan ibu-nya karena setahu Khalila, ayah Witan sudah meninggal sejak pria itu SMP. "Untuk orang yang pintar dan lulusan terbaik tahun lalu gue yakin lo nggak kesulitan mencari pekerjaan, tapi pekerjaan apa yang benar-benar membuat lo sibuk, Mas sampai-sampai nggak ada kabar sama sekali. Kata anak-anak yang lain yang dulu satu tongkrongan sama lo, nomor lo tiba-tiba nggak aktif setelah enam bulan kelulusan." "Bukan nggak aktif tapi memang susah sinyal, gue ada proyek di luar pulau dan di sana sinyal benar-benar sulit. Nomor gue masih sama seperti sebelumnya," ucap Witan, Khalila langsung mengangguk mengerti. Mereka kemudian terlibat dalam obrolan santai, Witan juga mengajak Khalila. manggung di salah satu kafe yang semasa kuliah sering jadi tempat tongkrongan mereka jelas selain B&W Coffe dan Khalila menerima ajakan Witan, lagian Khalila juga merindukan teman-temanya yang kebanyakan kakak tingkatnya. Obrolan mereka terpaksa harus terhenti ketika Witan pamit untuk melakukan beberapa hal yang membuat pria itu ada di kampus hari ini. Sepeninggal Witan, tatapan Khalila kemudian bertemu dengan Angga. Pria itu sudah tidak bersama dengan Manika lagi. "Siapa?" tanya Angga dengan nada suara yang terdengar tidak suka. "Kakak tingkatku, dulu sering manggung bareng di kafe. Masih ingat band aku awal-awal kuliah, kan? Nah yang tadi salah satu anggotanya," ucap Khalila dengan santai, Angga terlihat mengangguk pelan, wajah pria itu terlihat semakin tidak suka membuat kening Khalila berkerut. "Kenapa ekspresi mas Angga kayak gitu?" tanya Khalila. Keduanya kompak melangkah ke arah keluarga mereka yang terlihat asik bercengkrama sembari menikmati bekal yang sudah di siapkan para mama. "Kamu seakrab apa sama dia?" tanya Angga. Khalila langsung terkekeh sinis. "Yang jelas nggak sedekat kamu sama Manika si bukan kedelai pilihan itu," jawab Khalila. Langkah mereka kompak terhenti di depan keluarga. Keduanya saling tatap dengan sengit satu sama lain. "Namanya Manika, Lila. Lagian apa hubungannya dengan aku dan Manika. Kita lagi bahas kamu," ucap Angga. Khalila mengangguk-angguk sembari tersenyum. "Oke-oke, gitu aja terus, kamu bebas nanya tentang apapun yang aku lakukan tapi aku nggak boleh nanya kamu. Aku udah berdiri lama ya, mas Angga tadi di sana nungguin kamu dan ternyata obrolan kamu sama si Manika itu nggak ada habisnya. Terus ada mas Witan, aku ngobrol dan ekspresi wajah kamu langsung nggak suka gitu, emang kamu aja yang bisa gitu, aku juga bisa loh, Mas!" seru Khalila. Gadis itu kemudian memilih duduk di samping Satya dan mulai memakan makanannya dengan rakus sedangkan Rayner memilih mengajak Angga duduk di sebelahnya. Meminta Angga untuk segera makan.. Pertengkaran Angga dan Khalila sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Tidak ada yang perlu di khawatirkan karena dia orang itu akan berbaikan dalam waktu dekat. Tidak ada pernah terjadi pertengkaran sampai berganti hari antara Angga dan Khalila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD