"Tolong! Tolong bukain pintu nya!"
Zahra berteriak, meminta tolong pada anak-anak dari lantai satu tapi hasilnya nihil, gak ada satupun dari mereka yang mau nolongin dia.
"Jangan lari ke sana!" teriak Ira.
"Kalian bakalan mati kalau lari ke sana!" teriak Ira. Dia bisa melihat adanya aura yang sangat negatif dan juga menakutkan dari arah gerbang sekolah.
Anak-anak yang berusaha kabur menuju gerbang sekolah lantas langsung tertancap puluhan pisau tajam dengan kalung duri yang entah sejak kapan muncul untuk mencekik leher mereka satu persatu yang tak sempat untuk berbalik arah.
Angga berteriak frustrasi "jangan ada yang lari ke sana kalau kalian masih mau hidup!"
"Kenapa di sini banyak hantu?!" teriak Daniel yang sudah begitu panik dan juga ketakutan disaat dirinya dapat melihat beberapa banyak hantu yang saat ini sedang berkeliaran bebas di sekeliling nya.
"Tolong, tolong," anak-anak dari lantai tiga berteriak histeris meminta tolong.
"Tolongin gue woi! Gue gak mau mati muda," teriak salah satu siswa dari atas sana.
Lonceng berbunyi nyaring. dari ujung sana sudah terdapat satu wanita tua dengan gaun putih tersenyum seram pada mereka semua sambil berjalan kecil.
"Kamu siapa?" tanya Angga memberanikan diri.
Wanita tua tadi masih tersenyum seram "aku malaikat pencabut nyawa kalian."
Dirinya tertawa puas saat melihat mereka yang berada di sana bergetar ketakutan.
"Salah kita apa?" teriak Mila.
"Kalian sudah melanggar aturan asrama."
"Tapi?" cicit Putri.
Dengan cepat wanita tua tadi berlari kayang, mengejar siapa pun yang berada di hadapan nya. yang bisa mereka lakukan hanya lari, lari dan lari. Karena siapa pun yang tertangkap akan dimakan hidup-hidup oleh nya. Lios berdecak, sebenarnya dia gak mau ikut campur sama masalah ini, tapi mau gimana lagi? Dia juga gak bisa ngebiarin teman seperjuangan nya mati lebih cepat dibandingkan dirinya.
"Sakti, Aku perintahkan kamu untuk melawan iblis itu malam ini," ucap Lios pada akhirnya.
Sakti keluar melindungi anak-anak yang sudah menjerit ketakutan, dengan kekuatan besar yang dia punya, Sakti mampu menahan iblis jahat itu.
"Semua nya! Ayo lari ke kamar asrama kita!" teriak Angga mengomando mereka semua.
Pertarungan sengit antara Sakti dengan Iblis itu mampu membuat seisi sekolah terasa goyang seperti gempa.
Syukurlah, Lios masih berprikemanusiaan, tidak kebayang kalau Lios masih memilih untuk tetap berdiam diri, mungkin iblis itu akan memakan lebih banyak jiwa di sini.
"Gimana nih, masih belum bisa dibuka?" panik Ayu saat mendapati pintu kamar asrama masih tertutup rapat.
Lios berteriak keras "Sakti! Tolong buka pintu asrama kami, buruan!"
Sakti menoleh sebentar lalu dengan sekali hentakan pintu dari kamar asrama yang tertutup seketika terbuka semua.
"Buruan tutup pintu nya. Jangan sampai iblis tua itu masuk!" teriak anak-anak dari kamar asrama lantai satu.
Berbanding terbalik dengan anak-anak dari asrama lantai dua dan juga tiga, mereka berteriak senang bahkan mengucapkan terima kasih pada Lios dan juga Sakti.
"Aaargh!" Angga menarik paksa Lios agar masuk ke dalam kamar asrama nya. Pintu pun kembali ditutup rapat-rapat oleh Joe.
"Sial! Maksud lo apa hah bawa gue ke sini?!" marah Lios. Lios tak terima saat dirinya dibawa masuk oleh Angga secara tiba-tiba.
"Gue gak mau ya jadi b***k kalian!" teriak Lios salah paham.
Lios marah, dirinya hendak merusak barang-barang yang ada di sekitar nya namun, Satrio tahan.
"Gak ada satupun orang di sini yang mau jadiin lo b***k!" jawab Satrio sedikit berteriak.
"Kalian mau ngambil Sakti dari gue kan?!"
"Kalem Lios, kita cuma mau minta bantuan sekaligus bantu orang-orang yang ada di sini," ucap Zahra.
"Gue gak percaya sama kalian!" balas Lios.
Angga berkacak pinggang "Lios, mungkin ini berat bagi lo, tapi boleh gak, gue jadiin Sakti sebagai umpan supaya kita semua bisa pergi dari sini?" tanya Angga to the point.
Karena, satu-satunya makhluk yang bisa ke temuin Angga sama dalang dari semua ini cuma Sakti.
"Gak! sampai kapan pun gue gak akan pernah mau ngegunain Sakti buat kalian!" balas Lios.
Raungan Sakti terdengar menyakitkan "Sakti!" Lios berusaha untuk membuka pintu.
"Kan udah gue bilang, jangan gunain energi lo buat ngelindungin mereka semua," kesal Lios.
Sakti berusaha keras untuk menggiring iblis tua tadi untuk keluar dari sekolah "Sakti! Balik sini!" teriak Lios.
Sakti tersenyum tipis, kali ini dia menolak, dia mau melindungi mereka semua, "maaf tuan Lios," jawab Sakti tersenyum getir.
Angga berusaha berkomunikasi dengan Sakti. Baik Lios ataupun mereka masih sangat-sangat membutuhkan Sakti.
"Gue udah kasih pelindung buat kita semua, kamu bisa balik ke Lios wahai Sakti," teriak Angga. Sakti menyusut, entah mengapa, dirinya merasa seperti tidak bisa menolak perintah dari Angga yang terdengar begitu mutlak.
Sakti kembali masuk ke dalam kalung kecil milik Lios, mereka kembali berlindung di dalam kamar asrama masing-masing tanpa berani membuka pintu sedikitpun.
Suara lonceng dan raungan pun masih terdengar jelas di luar sana namun, persetan dengan itu semua. Mereka sudah terlalu lelah hanya untuk sekadar peduli.
"kalau begini terus, kita harus atur strategi," ujar Satrio.
"Gimana kalau kita bikin toilet di sini?" usul Satrio kemudian. Cuma, gimana caranya? sedangkan kamar mereka ada di lantai dua.
"Kalian masih pada punya duit kan?" tanya Satrio lagi.
Raut wajah Angga mendadak sedih, "gak bisa."
Dahi Satrio mengkerut "gak bisa gimana sih? Udah, tenang aja biar itu gua yang atur," jawab Satrio.
"Bikin toilet di dalam asrama sama aja kayak kita serahin diri ke iblis itu," jawab Angga.
Sherla mengangguk paham, "betul kata Angga.
Toilet kan tempat nya hantu, jadi secara tidak langsung kita ngebuka penjagaan dari kamar asrama kita dong?"
"Harusnya kalian berterima kasih pada Sakti. kalau gak ada dia, kalian semua bisa langsung mati di sini." jengah Lios.
Semua mata tertuju pada Lios. "Emang nya apa sih yang kamu tahu tentang keadaan di sini?" tanya Zahra.
Mau gak mau Lios mengatakan hal yang sejujurnya pada mereka semua.
Kemarin Malam, tanpa disengaja ada satu wanita tua cantik menawarkan dirinya akan suatu hal yang begitu menggiurkan pada Lios.
Dirinya ditawarkan begitu saja untuk membunuh para murid yang berada di sini dengan iming-iming akan dibebaskan secara hidup-hidup. Namun bukan hanya ada pilihan itu saja, dirinya juga diberi pilihan untuk tetap diam mati bersama para murid lain nya jika dia tak mau menerima penawaran pertama.
Jujur, berat banget buat Lios berprikemanusiaan walaupun sebenarnya dia gak punya perasaan. Lios bisa saja bersikap jahat, memilih untuk membunuh mereka semua agar bisa bebas.
Tapi apalah daya, dia bukan sepenuh nya iblis yang akan selalu bertindak kejam pada umat manusia. Dia masih butuh dorongan untuk berbuat jahat. Kalau bukan karena nasehat dari Sakti, mungkin Lios sudah tergiur. .
"Kalian gak tahu kan kalau di sini udah ada bom yang sewaktu-waktu bisa meledak? Tenang aja, bom itu udah gak ada lagi dan itu semua berkat Sakti."
Cuma gara-gara itu Sakti jadi kehilangan massa energi nya. Dengan kata lain, energi yang dia punya bakalan cepat habis.
Kenapa cepat habis? karena itu sudah jadi perjanjian antara Sakti dengan raja iblis di samudra saat penaruhan bom itu terjadi.
Ya, Sakti membuang bom-bom itu ke dasar samudra berkat persetujuan dari sang Raja iblis. Sakti boleh menaruh bom itu di sana dengan syarat, energi nya akan cepat habis karena sang Raja tak ikhlas jika anak buah nya tunduk di bawah kekuasaan manusia.
"Jadi, gue harap kalian semua jangan sesekali minta tolong ke Sakti karena itu beban buat gue juga!"
Lios cuma gak mau Sakti kenapa-kenapa walaupun sejujurnya dia gak punya perasaan seperti umat manusia lain nya