AWAL KISAH CINTA

924 Words
Lima tahun berhubungan Fu sadar ada yang berbeda pada dirinya, atau lebih tepat perasaannya pada Kim. Ia tak lagi merasa berdebar di dekat pria itu. Rasanya biasa saja. Sama seperti berada di dekat Zeya atau kerabat lainnya. Bahkan saat pria itu mengecup bibirnya, Fu tak merasakan sentakan gairah seperti tahun pertama hubungan mereka. Tak ada lagi rasa manis dan memabukkan. Alih-alih yang Fu rasakan adalah rasa basah dan hambar,. Namun, tak mungkin mengatakan itu semua kepada Kim, kan? Kim pria yang baik, teramat baik. Fu tak tega menyakiti pria tersebut. Lagipula Fu tak keberatan menjalin hubungan seperti saat ini. Wanita itu merasa hubungan tidak melulu harus diikat oleh cinta. Selagi Kim masih ingin bersamanya, dan ia tidak terusik dengan keberadaan pria tersebut, Fu akan bertahan. Toh, sudah hampir empat tahun ia bertahan dengan perasaan yang kian surut, dan mereka baik-baik saja. Siang itu Fu dan Zeya sedang duduk di dalam rumah makan yang lokasinya berada di belakang kantor mereka. Bukan rumah makan yang direkomendasikan, tapi karena jaraknya yang mampu ditempuh dengan berjalan kaki membuat Zeya dan Fu menghabiskan waktu makan siang mereka di ruangan sempit berukuran 5x6 meter tersebut. Menu makanan di tempat ini hampir sama dengan menu makanan di kebanyakan rumah makan. Ruangannya juga pengap karena hanya ada dua buah kipas angin yang berputar dengan suara bising untuk mendinginkan ruangan yang dijubeli puluhan pelanggan. Fu dan Zeya duduk di meja sudut agak terluar. Pesanan mereka baru saja datang. Zeya memilih memesan nasi dengan lauk rendang, sementara Fu nasi dengan dendeng kering cabe ijo. Setelah berdoa, kedua sahabat itu menghabiskan makanannya. Sesekali Zeya berbicara di sela kunyahannya, dan Fu setia mendengarkan. "Kim udah ngelamar kamu belum sih, Fu?" Pertanyaan yang tak terduga itu terlontar dari bibir Zeya. Meski Zeya tahu sudah berapa lama Fu dan Kim berhubungan, tetap saja sahabatnya itu tidak pernah menyinggung pertanyaan yang berkaitan tentang hubungan Fu dan Kim. Ini pertama kalinya, dan tentu saja bikin Fu kaget. Fu terbatuk-batuk, dan Zeya menyerahkan gelas berisi air putih pada Fu. Fu menerima dan meminumnya. "Sorry pertanyaanku bikin kamu kaget." Fu meletakkan gelasnya, lalu mengangguk maklum. "Nggak apa-apa," tegasnya lagi. "Kalian udah lima tahun. Aku merasa udah seharusnya kalian menuju ke tahap yang lebih serius." "Kami serius." Zeya tertawa kecil. Gemas dengan jawaban Fu. "Bukan itu maksudku. Oke, hubungan kalian emang serius, tapi apa mau tetap seperti ini aja? Nggak ada niat untuk ke jenjang yang lebih jauh?" Fu tidak langsung menjawab, ia memilih untuk menatap piring nasinya yang masih tersisa banyak. Sejenak kemudian, Fu menghela napas dan menjawab. "Entahlah." Menyadari suasana yang berubah, Zeya memilih untuk tidak meneruskan obrolan. Wanita itu mengajak Fu untuk melanjutkan makan. Namun, Fu sudah terlanjur kehilangan selera. Menikah, entah kenapa kata tersebut terlalu jauh untuk Fu rengkuh. ***** Fu dan Kim bertemu di kampus. Mereka berada di jurusan yang sama, Ekonomi Bisnis. Kim berada dua tingkat di atas Fu. Menjadi panitia di kegiatan kampus membuat keduanya berkenalan. Kim adalah pria yang menarik dan tampan. Tumbuhnya yang ramping, atletis, tinggi 180 cm, dan lesung pipi yang muncul di pipi kanan setiap kali pria itu tersenyum, membuat Kim menjadi incaran banyak mahasiswi. Tak hanya itu, Kim juga supel dan ramah. Dari cara Kim berinteraksi, Fu pun bisa menilai Kim adalah pria yang cerdas. Makanya, saat Kim menawarkan diri mengantarkan pulang setelah rapat persiapan kegiatan Fu tak menolaknya. Kepribadian Kim yang menyenangkan membuat Fu tertarik pada pria tersebut. Ternyata mengantarkan pulang itu hanya awal. Selanjutnya Kim selalu mencari kesempatan untuk berlama-lama bersama Fu. Mulai dari mengajak makan siang, membantu Fu mengerjakan tugas kuliah, mengajak jalan dan menonton, serta mendatangi rumah Fu saat malam minggu. Satu bulan kemudian, Kim menyatakan perasaan. Fu menerimanya. Malam itu, di taman bermain dekat rumah Fu, di bawah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang, mereka mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih. Satu tahun semua berjalan baik-baik saja. Fu menikmati semua perhatian yang Kim berikan kepadanya. Kejutan mawar di malam minggu, ajakan makan di berbagai restoran, hingga menonton film berdua di rumah Fu. Kim selalu berhasil membuat hati Fu menghangat. Kim membuat Fu merasa sebagai wanita yang istimewa. Fu tidak menyesal menerima cinta pria tersebut. Namun, sekarang rasanya tak lagi seperti itu. Bukan berarti hubungan mereka memburuk. Kim masih tetap memberikannya buket bunga mawar putih kesukaan Fu, mengajaknya makan di restoran di akhir pekan, juga menghabiskan waktu menonton film komedi romantis di apartemen Fu. Kim tetap menjadi kekasih yang terbaik. Kesalahan terletak pada Fu. Perasaan Fu terhadap Kim yang berubah. Fu tidak bisa melihat Kim seperti dulu lagi. Dering ponsel membuat Fu tersentak dari lamunan. Fu menyambar benda mungil yang terletak di atas meja tersebut. Kim menelepon. "Assalamualaikum," ucap Fu setelah menerima panggilan. Kim mengabarkan bahwa pria itu sedang dalam perjalanan menuju apartemen Fu. Kim bertanya apakah Fu butuh dibelikan sesuatu. "Nggak ada," jawab Fu. "Omong-omong kamu udah makan? Kalo belum biar aku masakkan sesuatu," tawarnya. Terdengar tawa renyah Kim. Pria itu berkata jujur bahwa kedatangannya ke apartemen Fu untuk meminta makan. Kim rindu masakan Fu. Semingguan ini pria itu terlalu sibuk menyelesaikan deadline sehingga tidak bisa menyantap masakan Fu. "Ayam goreng dan capcai?" Fu menawarkan. Kim setuju. Sebenarnya apapun masakan Fu selalu disetujui Kim. Apapun yang kamu masak pasti enak, Kim selalu mengatakan itu. Dulu ucapan itu berhasil menimbulkan gelayar di d**a Fu, tapi sekarang tidak. Namun, Fu tetap tersenyum saat Kim mengatakan itu. I love you, ucap Kim sebelum mengakhir panggilan. Fu menatap ponsel di tangan dengan bergumul perasaan yang meresahkan. Dulu, ia tidak pernah sungkan membalas dengan ucapan serupa saat Kim mengucapkan I love you. Namun sekarang, Fu hanya bisa diam, mengigit bibirnya, setiap kali Kim mengatakan tiga kata tersebut. Fu merasa bersalah kalau ia membalasnya dengan ucapan serupa. Sebab jauh di dalam lubuk hatinya Fu sadar .... ... cintanya untuk Kim sudah lama menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD