Bagi Fu bertahan adalah pilihan terbaik meski ia sadar betul perasaannya kepada Kim sudah lama sirna. Tak jadi masalah. Fu bisa bertahan meski tanpa cinta. Itu jauh lebih mudah daripada ia harus memulai lagi hubungan baru dengan pria lain. Lagipula tidak ada jaminan hubungan dengan pria lain akan berhasil, kan? Juga belum tentu ada pria baik yang bisa membuatnya jatuh cinta di luar sana, kan? Jadi, tetap bersama Kim, pria baik yang mencintainya, adalah pilihan paling rasional yang bisa ia pilih.
Malam itu Kim mampir ke apartemen Fu, makan malam bersama. Masakan Fu sudah tersaji di atas meja; gurame goreng tepung, cah brokoli dan tempe goreng. Kim dan Fu duduk saling berhadapan. Kim mengucapkan terimakasih saat menerima piring berisi nasi dan lauk pauk dari Fu.
Hari ini Kim terlihat lelah. Kemeja slimfit berwarna putih strip biru yang dikenakannya terlihat lecek. Dasinya pun terpasang longgar. Namun, bibir pria itu setia tersenyum setiap kali bertemu pandang dengan mata Fu.
"Habis ini mau mandi?" tawar Fu. "Kalo iya, aku siapin air hangat," Fu menambahkan seraya mengisi gelas dengan air putih.
"Boleh. Makasih ya, Sayang."
Fu mengangguk. Lalu mereka berdua mulai menyantap makan malam. Suasana begitu hening. Hanya ada suara dentang piring yang beradu dengan sendok. Keheningan itu terus bertahan sampai nasi di piring mereka masing-masing habis tak bersisa.
"Aku siapin air hangat dulu, ya," kata Fu seraya mendorong kursi ke belakang dan berdiri membawa piring kotor dan meletakkannya di bak pencuci.
Kim mengangguk. Saat Fu baru mencapai pintu dapur, Kim memanggil kekasihnya itu.
"Ya?"
"Malam ini, aku menginap di sini, ya."
Fu menimbang sesaat. Lalu mengangguk.
Menginap itu berarti mereka akan mengabiskan waktu bersama menonton di ruang santai sampai tengah malam. Lalu Kim akan tidur di sofa dan Fu masuk ke dalam kamar.
"Aku siapkan bantal dan selimut sekalian."
Fu meninggalkan dapur. Dari tempat duduknya, Kim bisa mendengar suara langkah kaki wanita yang dicintainya itu. Kim memejamkan mata, lalu tersenyum samar. Malam ini, ia memiliki waktu lebih lama bersama Fu.
Hal sesederhana itu sudah cukup membuat perasaannya bahagia.
*****
Fu masih terjaga di atas ranjang. Sudah sejam ia masuk ke ruangan berukuran 3x3 meter ini. Sudah sejam pula ia bergelung dalam selimut, dan berganti-ganti posisi. Namun, matanya enggan terpejam.
Fu menyibak selimutnya, lalu duduk di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada lampu meja yang memancarkan cahaya temaram. Fu menghela napas dan mengusap wajah. Kilasan kejadian beberapa waktu lalu berlarian di benaknya, memercikkan rasa bersalah di d**a.
*****
Selepas mandi Kim bergabung dengan Fu yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang santai. Televisi sudah menayangkan drama action. Kim langsung mengambil tempat di sebelah Fu.
"Action?" Kim bertanya, yang dijawab Fu dengan anggukan singkat.
"Kenapa nggak komedi romantis?" Kim bertanya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Bosan."
Kim mengangguk, menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Bahunya bersentuhan dengan bahu Fu.
Diam-diam, Kim melirik Fu. Wanita itu terlihat fokus menatap layar televisi. Namun, entah kernyitan di dahi Fu memberi kesan kepada Kim bahwa wanita itu tidak menikmati drama yang sedang tayang. Fu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kim mengulurkan tangan, menyentuh pelan dahi Fu, tapi sentuhan itu membuat kekasihnya itu terlonjak.
"Sorry," bisik Kim merasa bersalah.
Fu menarik napas, lalu menggeleng lemah.
Lalu keduanya terdiam. Fu kembali menatap layar televisi, dan Kim masih memerhatikan wajah wanita itu dari samping.
"Sayang," panggil Kim.
Fu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Perlahan, wajah Kim mendekat. Fu bisa merasakan aroma napas pria itu yang menggelitik indera penciumannya. Lalu pandangan Fu jatuh pada bibir tipis Kim. Saat itu Fu tahu apa yang Kim ingin lakukan.
Namun, entah mengapa secara spontans Fu memalingkan wajah. Bibir Kim hanya menyentuh rambutnya. Suasana hening seketika tercipta. Mereka seakan terlempar ke sebuah ruang hampa udara. Keduanya sama-sama terpaku. Suara bising televisi mendadak lenyap begitu saja. Satu-satunya suara yang mungkin bisa mereka tangkap adalah detak jantung masing-masing.
Fu yang jantungnya berkejaran karena merasa bersalah dengan tindakan spontannya.
Kim yang jantungnya berdetak cepat karena kecewa atas penolakan Fu.
"Ma-maaf," bisik Fu terbata, setelah berhasil menguasai diri.
Perlahan ia merasakan Kim menarik diri. Pria itu menyandarkan tubuh ke sofa, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. Fu menatap Kim dengan perasaan bersalah.
"Aku ti--"
"Nggak apa-apa," potong Kim sambil menurunkan tangan dari wajahnya. Ia menatap Fu, memaksa diri untuk tersenyum. "Nggak perlu minta maaf."
Ya, Fu tidak perlu meminta maaf, atau lebih tepatnya Kim tidak ingin mendengar permintaan maaf dari bibir Fu. Sebab kata maaf hanya akan menegaskan penolakan yang telah dilakukan wanita itu.
Fu menunduk. Tak mampu melihat sorot terluka yang terpancar jelas di mata Kim.
"Lebih baik kamu istirahat. Sepertinya kamu sedang banyak pikiran," usul Kim sambil mengacak pelan rambut Fu.
Fu diam sejenak. Lalu mengangguk setuju. Perlahan wanita itu bangkit, lalu meninggalkan Kim tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Di depan pintu kamarnya, Fu berhenti. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Kim yang tertunduk di depan televisi. Hantaman rasa bersalah kembali menyerang Fu, tapi ia tidak punya keberanian untuk kembali dan menghibur Kim.
Sebab jauh di lubuk hatinya Fu tahu, tak ada kata penghiburan yang pas ia berikan kepada Kim untuk saat ini.
Fu masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sepelan mungkin. Setelah pintu tertutup, Fu menyandarkan punggung pada daun pintu. Lama ia berdiri di sana,bergumul dengan pikirannya, sebelum berjalan menaiki ranjang dan membenamkan dirinya di dalam selimut.
*****
Akhirnya Fu memilih keluar kamar, saat kantuk tak kunjung datang. Ia membuka pintu dengan pelan. Saat menoleh ke ruang santai, Fu mendapati televisi sudah mati. Lampu ruangan tersebut juga padam. Penerangan hanya berasa dari cahaya lampu balkon yang masuk lewat kisi-kisi jendela.
Fu melangkah pelan, mendekati sofa tempat Kim terbaring. Di sana kekasihnya tampak tertidur lelap dengan posisi miring dan terlihat tidak nyaman. Fu duduk di lantai, lalu menatap wajah Kim. Ada kerutan halus di dahi pria tersebut.
Waktu terus bergerak maju, sementara Fu masih tetap di posisinya. Entah apa yang wanita itu cari dengan menatap Kim yang terlelap. Fu melipat lutut lalu meletakkan dagunya di sana. Bersama dengan detik jam yang terdengar, Fu menghitung setiap tarikan napas Kim. Berharap cara itu mampu mengurangi rasa bersalah yang bercokol di hatinya.
Hingga akhirnya mata Fu terasa memberat. Wanita itu pun berdiri lalu melangkah pergi. Sebelum itu ia masih sempat menoleh dan tersenyum kepada Kim.
Dalam hati Fu juga bertekad, meski pun perasaannya kepada pria itu sudah lama surut, ia tak akan meninggalkan Kim. Ia berusaha akan tetap berada di sisi pria itu, dan membahagiakannya.
Sebab, Kim pria baik, dan pantas bahagia.
Fu tahu, Kim bahagia saat bersamanya.