Dea harus memasak untuk sarapan suaminya yang baru pulang dari Jerman. Rasanya Ia tak mau bangun pagi ini, pelukan hangat dalam tidurnya Ia rasakan kembali hembusan nafas yang menerpa puncak kepalanya membuatnya semakin terlelap dan terbuai. Terlalu berharga untuk di lepas namun tak bisa menyakinkan sosoknya untuk bertahan, Dea benar-benar remidi untuk masalah kepekaan dan juga menunjukkan perasaannya sebenarnya. Gengsi masih menguasai fikirannya sedang hatinya di kuasai dengan ego yang tinggi. hari ini pula Ia bangun tak menjumpai Kakek dan Neneknya sepertinya mereka berangkat di kala fajar belum mau menampakkan diri. Selesai menyiapkan makanan Dea segera ke kamar guna memanggil Adam untuk sarapan. Ddrrrttttt....ddddrrrttt... Baru saja Dea memasuki kamar mungilnya, ponsel di dekat la

