8. FIRST KISS

1079 Words
Adam menatap Dea yang sedang mengeringkan rambutnya, rambut yang panjangnya hanya sepunggung itu membuat Dea terlihat lebih segar dari biasanya. Dea tahu Adam sedang memandanginya, dengan wajah garang Dea menatap balik Adam yang masih setia di tempatnya. "Dam lo ke sambet setan mana sih? Bengong mulu kayak orang b**o. Eh iya ding lo kan emang bego." Ucap Dea mengangguk berkali-kali dengan ucapannya sendiri. "Tuh mulut belum pernah gue cipok, kalok ngomong seenak jidat lo." Ucap Adam kesal beralih memainkan ponselnya, membuka galeri melihat satu persatu foto hasil jepretan kemarin di kebun teh dengan Dea, istrinya. "Dam jorok banget sih bicara lo." Umpat Dea mendengar kata cipok dari Adam, jujur saja ketika Adam yang mengatakan semburat merah di pipi Dea hadir di iringi detak jantung yang tak karuan. "Kenapa emangnya lo belum pernah cipokan?" Tanya Adam santai melihat Dea yang justru terlihat salah tingkah.  Dea diam, tak tahu harus berkata apa karena pasalnya yang di katakan Adam memang benar. Dea bahkan tak pernah berpacaran dengan siapapun, gadis itu terlalu sibuk dengan aktivitasnya di rumah. Sebelumnya Dea terkenal dengan gadis yang begitu jutek karena selalu mengabaikan perasaan teman sekelasnya ataupun kakak kelas satu tingkat di atasnya. Bukan karena gadis itu tak menyukainya atau pemilih, dalam fikiran Dea berhubungan di usia yang terlalu muda hanya akan meninggalkan sakit hati yang mendalam. Namun sepertinya takdir justru membuat Dea harus berumah tangga di umurnya yang masih remaja dan sangat dekat dengan kata labil. "kenapa lo diam?" Sentak Adam membuyarkan Dea yang menyisir rambut basahnya dengan sisir. "Berisik loh." Sahut Dea dengan wajah cemberut karena kali ini Adam menang banyak darinya. *** "Lo kok gak cerita kalok Bagas itu sepupu lo?" Ucap Aldy menginterogasi Dea yang baru saja datang meletakkan tas di bangkunya bahkan  p****t Dea belum menempel pada kursi. "Iya Ya, sakit hati hayati..." gerutu Fania dengan sakit dibuat-buat, ya sampai sekarang Bagas tetaplah idoal di hatinya karena bagaimanapun Ia tetap menyukai Bagas yang terkenal dingin di sekolah berbeda jika sudah di apartemen, semua yang Fania ceritakan tentang Bagas pada Dea beda seratus delapan puluh derajat. "Yaelah gue bercanda kemarin." Jawab Dea santai cekikikan melihat tampang Aldy yang menahan emosi sedangkan Fania seperti seorang fans yang akan bunuh diri di pohon toge. "Fiuhh..." helaan nafas Bimbi terdengar membuat ketiga sahabatnya memandang Bimbi aneh apalagi Aldy yang berada di sampingnya. "Lo kenapa?" Tanya Dea heran melihat tingkah Bimbi yang lebih parah di banding kedua sahabatnya. "Untung bercanda, kalok beneran kacau hidup gue punya sepupu ipar Bagas." Ucap Bimbi seraya menunjukkan sederet giginya dengan tanpa dosa. " itu sih mau lo." Sorak Aldy dan Fania bersamaan sedangkan Dea hanya tersenyum getir, akhir-akhir ini Bimbi memang terlihat aneh. Tak lama bu Mega pun masuk keramaian siswa kelas Dea pun lenyap begitu saja, mereka dengan tenang pun mengeluarkan buku pelajaran dan terlebih dahulu berdoa menurut kepercayaan masing-masing. *** Mall begitu ramai karena hari ini adalah hari sabtu, banyak keluarga weekend dan juga sekolah yang jam belajarnya tak seperti biasanya membuat banyak remaja menghabiskan bermain ke mall. Dea dan ketiga sahabatnya berniat menonton bioskop sore ini, Aldy bilang ada film  terbaru yang rilis perdana hari ini. Namun kedatangan mereka sepertinya terlambat beberapa jam karena tiket sudah habis, Fania yang paling kesal dengan Aldu karena harus menunggunya di toilet mall tadi. "Yaelah Fan maafin gue kali." Ucap Aldy melihat Fania yang terus cemberut dengan bibir manyun miliknya. Bimbi dan Dea sibuk dengan ponselnya sesekali minum jus buah naga yang mereka beli di kedai lantai atas, Bimbi mengotak ngatik ponsel Fania karena ponselnya sendiri ketinggalan di rumah Aldy. "Beuh koleksi Fania bokep semua." Celetuk Bimbi sambil terus menatap fokus pada layar ponsel milik Fania. "Buset, gue tabok juga tu mulut." Sentak Fania mendengar ocehan Bimbi yang berujung m***m, masalahnya mereka sedang berada di keramaian banyak orang yang berlalu lalang. Aldy yang ingin tahu pun segera bergabung dengan Bimbi menyelidik ponsel Fania, sang pemilik pun hanya memasang wajah santai karena dia merasa tak mempunyai sejenis yang berbaur m***m. "Alah itu mah kiss scene di drama bego." Ucap Aldy kemudian menonyor kepala Bimbi pelan kecewa dengan temuan Bimbi. Des sedikit gugup mendengar kata kiss, dunia bersekongkol lagi ternyata kali ini bertemakan sebuah ciuman. Dari Dea membuka mata sampai sekarang topiknya sama, ciuman. Bedanya sahabatnya lebih halus di banding perkataan v****r Adam tadi pagi. "Kok lo biasa sih sob, emang lo pernah nyoba ?"tanya Bimbi lebih heran ketika mendengar jawaban Aldy yang tiada duga layaknya orang berpengalaman. "Pernah waktu kelas 3 smp."jawab Aldy sekenanya kemjdian menyeruput jus mangga miliknya. Semuanya melongo mendengar celoteh Aldy, ternyata sahabat mereka satu itu sudah dewasa sebelum waktunya. Fania kemudian mendekat pada Aldy dan mulai membisikan sesuatu di telinga Aldy, Bimbi juga terlihat antusias. "Oh kalok rasanya gue gak mau bocorin biar kalian sendiri juga nyoba." Tolak Aldy seperti sedang di wawancarai. Tampang wajah Fania berubah malas begitu mendengar celoteh Aldy yang bergaya seolah artis yang sedang naik daun. "Oke kalok gitu gue bakal nyoba sama Dea." Sahut Bimbi dengan spontan membuat Fania dan Aldy hampir menyemburkan jus yang hampir mereka telan. "Najis lo!" Umpat Dea dengan tatapan jijik, entah Bimbi menjadi sering gombal dan aneh bagi Dea. Dea juga terkadang ilfeel mendengarnya. *** acara tv hari ini membosankan, tak ada yang menarik Adam hanya sibuk memindah channel satu ke lainnya. Dea yang di samping Adam memandang malas ke tv yang tidak tepat jatuhnya di channel mana. "Ya, ke bioskop yuk!" Ajak Adam bersemangat menghadap Dea menatap gadis itu dengan mata berbinar penuh harap. "Pergi sama Icha aja, gue lagi males." Jawab Dea memakan buah jeruk yang tadi Ia kelupas. "Kok malah ngusulin Icha sih? Ya udah lo gak pergi gue juga gak pergi." Ucap Adam dengan wajah hilang moodnya kembali menghadap tv yang membosankan itu. " Adam rasanya ciuman itu gimana?" Tanya Dea polos. Adam kesedak jeruk begitu pertanyaan frontal itu keluar dari mulut Dea, Adam melotot pada Dea tak percaya apa yang telah Ia dengar. Adam meminum es bikinan Dea kemudian meneguknya habis. "Gila, siapa yang ngajarin lo pertanyaan begituan?" Tanya Adam menarik tangan Dea. "Arrggghhh..!!!" teriak Dea panik begitu jarinya di gigit Adam pelan, begitu Adam melepaskannya Dea memukul kepala Adam dengan cukup keras. Adam sering sekali menggigitnya seperti anak kecil, meski berkali-kali Adam melakukannya namun Dea selalu memberi respon sama, panik. "Gak usah tanya begituan, gue gak suka." Ucap Adam dingin memasang wajah menyeramkan membuat Dea bungkam, terkadang suaminya itu begitu tegas dan errgghhh... sedikit protektif. "Nanti kalok udah waktunya juga lo bakal tahu." Gumam Adam pada Dea yang mulai beranjak pergi meninggalkan Adam sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD