24 ~ Iblis gak sadar diri

2084 Words
Tembok di depan mereka bergetar usai Matthew memasukkan puzzle kedua. Perlahan, tembok itu bergeser ke samping seperti pintu. Sebuah anak tangga minim pencahayaan berada di balik tembok itu. Lumut-lumut menumbuhi setiap jengkal anak tangga. Terlihat licin, dan berbahaya. Semuanya saling menatap satu-sama lain, menimbang apa yang harus mereka lakukan saat ini. “Kita, naik?” tanya Astrid pelan. “Atau kita mesti nyari Grace dulu?” Dua opsi yang sama-sama penting. Sekalipun mereka saat ini tidak yakin apakah Grace masih ada, atau tidak. Kemungkinan dia berakhir seperti Ben sangat besar, mengingat mereka juga menemukan darah saat di perjalanan menuju lokasi Matthew. “Kita naik!” Matthew memberikan keputusan. Jika di ingat-ingat, Matthew memang selalu mengambil keputusan di saat yang lain sedang dilema dengan pikiran masing-masing. “Tapi gimana kalo Grace ternyata masih hidup, kita harus nyari dia lebih dulu!” seru Lia, dia menahan Matthew yang hampir melangkah menaiki anak tangga. Matthew melepaskan tangannya dari Lia, dan memperbaiki posisi Astrid yang ada di dalam gendongannya. Tatapannya masih datar, sama-sekali tidak menunjukkan ketertarikan dengan apa yang barusan Lia ucapkan. “Kita gak punya banyak waktu. Seharusnya lo juga sadar dengan keadaan lo, Lia.” Benar juga. Lia bahkan hampir lupa dengan dirinya sendiri. Lia memperhatikan tangannya yang hampir menghitam seluruhnya, juga dengan kakinya. Bahkan, yang membuat Lia semakin panik, saat melihat bagian tubuhnya yang menghitam mengeluarkan air. Lia tidak pernah tahu akan separah itu. Tapi, karena keadaan mereka yang terlalu mendesak, Lia melupakan fakta mengenai dirinya sendiri yang tidak baik-baik saja. “Matt benar, Lia. Kita harus cepat keluar dari sini, karena jika kita berhasil keluar, maka lo bisa sembuh dan kembali seperti semula. Begitu juga dengan Ben, dan Grace?” Kening Lia berkerut dan menatap Aress tidak mengerti. “Apa maksud lo, Ben bisa kembali jika kita berhasil keluar dari sini?” Anggukan Aress menjawab kebingungan itu. Namun perasaan Lia semakin aneh. Jika Ben yang sudah tidak ada bisa ditemukan kembali saat mereka sudah berhasil keluar, lalu, kenapa mereka harus bersedih dengan kehilangan Ben? “Gue butuh penjelasannya, Ress. Kenapa lo bilang Ben bisa kembali kalo kita udah keluar padahal nyatanya lo lihat sendiri kalau tubuhnya sudah meledak?” Helaan nafas terdengar dari Matthew. Dia sudah berada di anak tangga pertama bersama dengan Astrid. “Lo gak harus ngasih harapan yang tidak pasti seperti ini, Aress. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi ketika sudah bebas dari sini. Lo juga Lia, cukup ikutin kita aja, please jangan memperumit masalah. Karena ini saja sudah sangat rumit!” “Jadi maksud lo, kita gak punya harapan?”wajah Lia kembali murung, jika benar dia tidak punya harapan untuk kembali normal seperti semula, lebih baik Lia seperti Ben saja. “Bukan maksud gue buat lo jadi sedih, tapi lo harus siap atas semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Lo gak bisa prediksi apa yang bakal terjadi, begitu juga dengan kami. Setidaknya, lo harus jalanin dulu! Sekarang kita gak punya waktu buat ngehibur lo, waktu kita tidak banyak!” Mata Lia yang sudah berkaca-kaca membuat Aress menghela nafas. Dia hanya bisa tersenyum untuk menenangkan gadis itu. “Kita pergi, Ress, lo paling akhir!” Aress mengangguk mendapati perintah dari Matthew. Mereka mulai memasuki anak tangga, dan menatap semuanya dengan was-was. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. *** Nafas Grace memburu. Dia menyadari bahwa ketika dia sadar, dia tergeletak di lantai yang kering, dengan debu yang mungkin terkontaminasi serbuk besi. Grace berusaha untuk bangkit, matanya memperhatikan sekeliling. Yang terakhir dia ingat adalah saat ada sosok bocah kecil tertawa keras di depan matanya, menarik tubuhnya, dan nafas Grace sesak saat merasakan seluruh tubuhnya akan meledak. Grace sudah berpikir jika dia tidak akan pernah melihat dimana dia berakhir saat ini. Semua itu terlalu kelabu untuk kembali berputar dalam ingatannya. Perhatian Grace tertuju pada sosok yang ada di depannya. Berjarak sekitar 1 meter darinya, dan pencahayaan masih cukup bagus untuk membuat Grace sadar jika sosok itu adalah…Benedict. Kondisi Ben tidak berbeda jauh darinya. Wajah Ben sangat pucat seperti mayat, di sepanjang tubuhnya terdapat luka-luka, yang bahkan masih mengeluarkan darah hingga saat ini. Posisi Ben menunduk, kepalanya hampir terjatuh ke depan. Kakinya lurus ke depan, dan Grace bisa melihat luka yang ada di telapak kaki Ben yang telanjang. “Ben…” bisik Astrid pelan. Tidak ada sahutan dari Ben. Grace memperhatikan tali besar yang mengikat tangannya. Tali itu terhubung dengan tembok di belakangnya. Dan itu jelas bukan hal yang menguntungkan bagi Grace. Dia tidak bisa bergerak leluasa karena tali itu. Benar-benar tidak ada ruang baginya. Grace kembali memperhatikan ruangan dimana mereka berada saat ini. Ruangan yang cukup luas dengan berbagai macam benda-benda aneh yang mengisinya. Juga dengan beberapa pisau yang ada di atas mereka. Bergantungan, seolah siap untuk menusuk mereka, sekali melakukan pergerakan yang salah. “Ben! Sadar Ben, lo mesti sadar.” Grace tak kunjung menyerah untuk menyadarkan Ben. Ujung jari Ben mulai bergerak. Grace menunggu dengan tidak sabar, dia memperhatikan Ben yang masih tidak sadarkan diri. Hanya menunjukkan pergerakan kecil tadi. “Ben…sadar, please!” Nafas Ben mulai teratur, perlahan dia mengerjapkan matanya, retinanya berusaha untuk menangkap pencahayaan minim, dan berusaha untuk mengaturnya. Ben menegakkan kepalanya dan bayangan Grace mulai terlihat jelas di depannya. Ingatan terakhir Ben mengenai tubuhnya yang meledak terulang kembali di pikirannya. Wajahnya kembali pucat, keringat dingin membasahi keningnya, dan nafas Ben kembali memburu. Dia memperhatikan tangannya yang masih utuh, serta tubuhnya yang juga sama utuhnya. Tidak ada yang meledak seperti beberapa saat lalu. “Ben…!” Perhatian Ben tertuju pada Grace. Gadis itu tersenyum legah begitu menatapnya sadar. Kening Ben mengerut, dia baru sadar jika mereka berada di ruangan yang sama. Ruangan yang dipenuhi dengan debu, dan benda-benda aneh. “Kita dimana?” “Gue gak tahu. Baru sadar, gue udah di ikat di sini, lo ingat bagaimana terakhir kali keadaan lo?” Mendadak Ben diam. Dia jelas masih ingat bagaimana tubuhnya meledak, dan berakhir di mulut iblis itu. Ben benar-benar trauma dengan hal itu. “Gue meledak. Iblis itu makan tubuh gue, iblis itu benar-benar biadab, dia harus dibunuh!” Nafas Grace tercekat. Ternyata dia mengalami hal yang sama dengan Ben. Tubuh mereka di makan oleh iblis itu, lalu meledak begitu saja. “Lo sendiri gimana?” “Kita sama, iblis itu makan tubuh gue. Meledak, dan gue gak tahu apa yang selanjutnya terjadi!” “Trus, kenapa kita bisa ada di sini?” Grace juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak tahu kenapa mereka masih hidup di saat Grace sudah pasrah jika dia tidak lagi memiliki harapan. “Dan…kenapa pisau itu banyak?” Saat Ben tidak sengaja menatap ke atas, dia baru sadar jika di atas mereka terdapat banyak sekali pisau yang terlihat siap untuk menembus tubuh mereka. Itu benar-benar terlihat ngeri, dan Ben mulai panik. “Grace, kita harus apa?” “Stttt…gue juga gak tahu kita harus gimana, yang pasti, kita gak boleh ribut. Gue takut kalo iblis itu yang buat kita di sini!” “Tapi Grace, gue masih gak bisa mikir jernih. Gue masih inget gimana tubuh gue meledak, trus tiba-tiba pulih gini lagi. Itu kayak gak masuk akal gitu!” “Lo harusnya udah sadar kalau semua yang ada di sini gak masuk akal, Ben. Dari awal kita kejebak emang semua gak masuk akal!” Ujar Grace, sembari berusaha untuk membuka simpul tali yang sedikit lebih rumit daripada sebelumnya. Melihat Grace yang berusaha untuk membuka sampulnya, membuat Ben juga ikut-ikutan. Sayangnya dia tidak terlalu mahir, bahkan cenderung tidak bisa mengerti pola daripada simpul tali yang tengah mengikat tubuhnya. Suara-suara terdengar dari arah belakang mereka, membuat Grace menghentikan kegiatannya dan menatap Ben yang juga tengah menatapnya. “Grace…” Ben mulai tidak bisa mengontrol rasa takutnya, dia menatap Grace yang hanya diam saja dan menatap ke sekeliling mereka. Suara itu semakin dekat, dan semakin membuat Ben tidak bisa menahan rasa takutnya. “Ben, kembali pada posisi awal. Kita harus pura-pura tidak sadar, lo paham?” suara Grace pelan. “Tapi…” “Lo ikut instruksi gue aja, lo paham?” Ben mengangguk. Dia kembali pada posisi semula, dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Nafas Ben masih tidak normal, dia menyempatkan diri untuk menatap Grace yang sudah seperti semula. Langkah itu semakin dekat, dan suara pintu terbuka terdengar. Lana masuk dengan wajah berantakannya, dia melangkah mendekati Astrid dan juga Benedict. “Mereka masih tidak sadarkan diri?” gumannya pelan dengan seringai jahat di wajahnya. Pintu kembali terbuka. Lucy masuk dengan pedang panjang yang sangat tajamnya. Dia menatap dua manusia yang masih seperti pada posisi semula. “La…kamu baik-baik saja bukan?” Tampilan Lana saat ini benar-benar tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Mulut besarnya selalu terbuka setelah memakan dua manusia itu. Dia tidak bisa mengembalikan wajahnya pada keadaan semula. Dan itu benar-benar membuat suasana hati Lana menjadi sangat buruk. Entah kenapa, dia ingin membunuh dua manusia itu karena sudah membuatnya buruk. Flashback “Lu…kenapa wajah Lana terasa panas?” Lucy menatap Lana dengan kening berkerut. Mereka sudah berada di anak tangga setelah tadi Lucy selesai memakan gadis bernama Grace. “Lana tidak kenapa-napa kan? Apa Lana butuh minum?” Dengan sigap Lucy menggores tangannya dengan pedang tajamnya, mengalirkan darah berwarna biru kemerahan. Lana dengan sigap mengambil tangan Lucy, dan menghisap darahnya sebanyak mungkin. Sayangnya, rasa panas itu masih tetap ada. Sama-sekali tidak bisa terhentikan, dan ini tidak seperti biasa. Tidak hanya itu, Lana juga merasa jika matanya mulai membesar, dan serasa ingin meledak. Perutnya juga sama, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini usai makan manusia. “Lu, kenapa Lana merasa perut Lana mau pecah juga? Lana gak pernah seperti ini setelah selesai makan manusia!” Lucy mengambil tangannya, dan meneteskan cairannya, membuat luka itu lekas menutup kembali. Tatapan Lucy tertuju pada adiknya—Lana, yang memang terlihat tidak baik-baik saja. Bahkan tubuh Lana terasa kembali membengkak, seolah ada sesuatu yang besar di sana. “Apa mungkin, mereka itu tidak setuju kalau aku makan mereka, Lu?” Mata Lana mulai berkaca-kaca. Dia menatap Lucy yang hanya diam saja dan memperhatikannya dalam diam. “ARGHHH!” “La!” Tubuh Lana terjatuh ke lantai, dia merasakan rasa panas itu semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahkan pedang yang ada di dalam tubuh Lana terjatuh. Membuat Lucy sedikit panik, dia tidak pernah melihat Lana seperti ini. “Lu…tubuh Lana mau meledak, awas!” Rasa sakit yang begitu hebat mulai memasuki tubuh Lana. Api menjalar dari kakinya, sampai pada tangannya. Lana memukul dadanya berulang kali, rasanya dia juga ingin memuntahkan sesuatu. Nafas Lana mulai tidak teratur. Tenggorokannya rasanya sudah penuh dengan sesuatu yang begitu berat. Uhuk Lana memuntahkan darah yang cukup banyak. Lucy melangkah ke belakang, dan memperhatikan kepala Lana yang mulai membesar, seolah ingin meledak. Tangan Lana mulai bermunculan dari dalam badannya, begitu juga dengan kepala Lana yang terbelah. Dan tangan yang memiliki mulut besar itu keluar dari sana. Lucy semakin mundur saat merasakan jika ada sesuatu yang salah terjadi pada adiknya. Keningnya mengerut, memperhatikan darah yang semakin banyak. Huek Lana muntah. Dia mulai mengeluarkan berbagai macam tulang belulang dari mulutnya yang paling besar. Keringat membanjiri wajahnya. Berulang kali dia harus memukul dadanya yang terasa sesak. Lucy mendekat, menghindari mata besar Lana yang hampir mengambil tangannya. “La…sadar, kamu kenapa?” “Lu, Lana pengen muntah. Ini sakit…sakit banget!” Isak tangis Lana membuat Lucy semakin mawas. Erangan Lucy semakin terdengar hebat, Lucy menghilang dan muncul di atas tepat sebelum mulut besar itu mengambilnya. Lucy memperhatikan tubuh Lana yang terbatuk-batuk, darah keluar dari semua tangan bermulutnya di sertai dengan tulang belulang. Isakan tangis adiknya itu membuat Lucy mengepalkan tangannya. Dia menatap roh yang keluar dari tubuh Lana. “Sialan, sepertinya Matthew memang ingin bermain-main denganku. Dia benar-benar manusia yang menginginkan neraka sebagai tempatnya. Matthew! Kau akan berurusan dengan sosok yang salah kali ini.” Huek Tubuh itu keluar dari mulut besar Lana. Tubuh berlumurkan darah yang kembali seperti sebelumnya. Lana kembali muntah, dan mengeluarkan tubuh lelaki yang lain. Itu adalah tubuh yang sudah Lana makan sebelumnya. Dan itu tidak pernah terjadi, Lucy tidak pernah melihat hal ini sebelumnya. Tubuh Lana terjatuh setelah itu bersamaan dengan mulut-mulut di tubuh Lana kembali masuk ke dalam tubuhnya. Lucy turun, dan memperhatikan wajah Lana. Sayangnya salah satu bagian yang paling menakutkan itu tidak kembali. Tangan besar dengan mulut yang ada di kepala Lana sama-sekali tidak kembali seperti bagian tubuhnya yang lain. Tangan Lucy mengeluarkan api, dia benar-benar marah saat ini. Dengan segera Lucy membawa tubuh Lana, dan menarik dua tubuh yang Lana muntahkan. Lana harus baik-baik saja, jika tidak, Lucy tidak akan pernah memaafkan manusia-manusia sialan itu. Mereka adalah makhluk paling berbahaya yang pernah Lucy temui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD