Astrid memimpin jalan di depan saat ini. Rasanya dia tengah menjadi superhero dalam hidupnya karena menggunakan hampir 100% kapasitas tubuhnya. Yang selama ini tidak pernah Astrid lakukan.
Selain keluar untuk pergi ke sekolah, Astrid hampir tidak pernah bergerak.
“Trid, kita mesti kemana?”
“Bentar!”
Astrid menaikkan tangannya. Memberi perintah pada Christoper untuk tidak berisik dulu, dan mengganggu pikirannya yang tengah berkonsentrasi.
Semuanya hening. Bahkan mereka sudah berhenti melangkah saat ini.
Suara piano itu kembali terdengar. Kali ini bunyinya tidak seperti sebelumnya. Bunyi ini menyiratkan perasaan bersemangat yang tengah mengiringi sebuah permainan. Tapi bunyi piano kali ini jauh lebih singkat daripada sebelumnya.
Dan ini adalah yang ketiga.
Astrid mengerutkan keningnya. Mencoba menggabungkan apakah bunyi piano ini ada kaitannya dengan bunyi piano yang kedua, yang belum berhasil mereka pecahkan?
Masing-masih dari mereka saling menatap. Berusaha untuk menebak-nebak apa yang saat ini menjadi maksud dari nada-nada itu kali ini.
“Matt, lo tau artinya?”
Wajah Matthew sama-sekali tidak menunjukkan bahwa dia bisa memecahkan masalah kali ini. Membuat Astrid menghela nafas, dia tidak mungkin harus menggunakan otaknya juga. Hal yang Astrid harapkan saat ini, adalah otaknya bisa diajak kerja sama.
“Lo gimana, Christ? Tau artinya gak?”
Sama saja. Christopher juga menggeleng lemah, dia terlihat kesulitan berpikir akhir-akhir ini. Membuat Astrid harus menghela nafas.
Mungkin itu sangat wajar, mengingat jika mereka saat ini sudah tidak makan berhari-hari. Jadi wajar saja jika otak mereka menjadi sedikit lebih lemot daripada sebelumnya. Meskipun itu jelas tidak akan berlaku bagi Astrid.
Karena pada dasarnya, otaknya memang sangat lemot.
“Sepertinya, kita harus ngumpulin semua dulu. Baru klunya itu bisa kita artiin. Kalo dari dari nada yang baru dimainin itu, gue pernah dengar dari guru seni, kalo itu adalah nada kesabaran yang sudah berujung, juga nada yang menunjukkan kesabaran yang panjang!”
Lia memberi ide.
Dia menatap semua wajah yang kini tertuju padanya. Lia lebih dulu menundukkan wajahnya, dia tidak tahu, setiap kali ada orang yang menatapnya, maka Lia akan merasa malu dan tidak akan bisa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.
Itu adalah sesuatu hal yang tidak baik bagi Lia.
“Lo…ngapain nunduk, Lia? Lo gak nahan sakit perut juga kan, seperti Ben?” Astrid menatap Lia jengkel.
“Bu…bukan, gue cuman mau nunduk aja!”
“Lo bohong!” guman Astrid yang masih bisa didengar oleh Lia dengan sangat jelas. Kebetulan karena Lia memang mengekori Astrid sejak tadi.
“Udah, mungkin apa yang Lia bilang bener. Kita mesti ngumpulin semuanya dulu, tapi, gue punya firasat lain.”
“Firasat gimana? Firasat lapar? Emang kita lagi lapar!” celetuk Astrid.
“Bukan, Trid. Gue punya firasat kalo kita gak mungkin bisa kumpul lagi, jadi…lebih baik kalau kita mecahin puzzle keduanya aja. Gue ragu kalau mereka bisa kita temui, itu bakal makan waktu lebih banyak daripada ini.”
Masuk akal juga. Astrid mengangguk-angguk sambil memperhatikan ke arah belakang mereka. Dia menatap tumpukan sesuatu yang masih tidak terdeteksi berada di sana. Astrid tahu jika itu sepertinya makhluk hidup, yang pasti bukan kucing.
Karena ukurannya jauh lebih besar daripada hewan itu.
“Trid, lo lihatin apa?” Matthew bertanya, sambil mengikuti arah pandang gadis itu.
Dan fokus perhatian Matthew akhirnya tertuju ke depan, pada setumpuk benda yang tidak diketahui entah apa itu. Christopher dan juga Lia ikut menatap apa gerangan yang ada di depan mereka.
“Bukannya itu, Satan? Atau sejenis makhluk halus lainnya yang sedang ketiduran?” bisik Lia.
“Bego!”
Christopher tertawa. Dia memperhatikan lebih dalam, jika benda aneh itu bergerak naik turun. Mereka memang tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena semua ruangan gelap. Cahaya bahkan tidak pernah menunjukkan dirinya.
“Kita periksa, apa pergi?”
Masih tidak ada jawaban. Astrid melihat pergerakan itu, dia sadar jika itu sepertinya adalah makhluk hidup seperti manusia, atau Satan?
Apa Satan makhluk hidup juga ya?
“Kita tinggalin aja, lebih baik mencegah daripada nanti kita menyesal!” putus Astrid.
Dia tidak mau menyesal jika rasa kepo mereka lebih mendominasi, dan akhirnya mendorong mereka melangkahkan kaki menuju ke arah benda yang bernafas, dan hidup itu. Astrid lagi mager jika harus berlari lagi, atau dia harus membunuh iblis.
“Gimana, Matt? Astrid keknya gak setuju kalo kita kesana, tapi gue…kepo!”
“Kalo lo kepo, jangan ajak-ajak orang. Lo dipersilahkan untuk pergi ke sana seorang diri, tapi tolong, jangan bawa Matthew dalam bahaya!” Astrid lekas menarik Matthew untuk mendekat padanya.
Christopher mencibir. Dia bukannya ingin pergi kesana, demi apapun, Christopher masih ingin hidup lebih lama lagi, dan jelas tidak ingin menempatkan dirinya dalam bahaya. Itu bukan tipe Christopher.
Dia laki-laki yang selalu ikut dengan aturan. Karena aturan dibuat untuk mengatur, bukan untuk dilanggar.
“Oke. Kita lanjutin perjalanan kita!” putus Matthew.
Mereka semua setuju dan kembali melangkah kedepan. Dan tak seorangpun yang sadar jika sosok yang tidak sadarkan diri itu, yang kini tengah berbaring mengenaskan adalah…Aress.
Dia masih hidup, dan sekarat.
Tangan Matthew sedikit dingin, dia berkeringat jauh lebih banyak. Sesekali, Matthew memperbaiki posisi Astrid yang ada di gendongannya.
“Tapi, gimana kalo itu salah satu dari teman kita? Apa kalian gak bakal nyesel nantinya?” Lia kembali buka suara.
Semua langkah ikut berhenti. Mereka tidak terpikirkan kesana karena lebih memilih untuk mencari aman, jaga-jaga jika itu adalah satan jenis baru lagi, iya kan?
“Tapi, kalo itu bukan salah satu dari mereka, lo mau apa, Li?” Astrid menatap Lia malas.
Tadinya urusan segumpal ‘sesuatu’ itu bukan lagi menjadi masalah. Tapi Lia lagi-lagi membuat Astrid kembali terpikirkan kesana. Lagipula, jikapun itu Aress, Ben ataupun Grace, apa yang harus mereka lakukan?
“Gue…tadi dengar suara rintihan minta tolong soalnya, maaf kalo emang kalian gak suka gue mengungkit masalah itu lagi!”
“Matt, turunin gue. Keknya gue harus jadi pemeran protagonis g****k deh kali ini!”
“Lo mau kemana?”
“Gue bakal cek sekali lagi, kalo ternyata itu bukan teman kita, gue bakal buang Lo entah kemana. Yang penting jangan sama kita lagi!”
Kejam memang. Tapi Astrid kali ini benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal itu. Dia kesal, untuk setiap alasan yang sepele. Dan ucapan Astrid tidak pernah dia batalin. Kalo emang niatnya mau buang, ya langsung buang. Gada nego-nego.
“Trid, lo kejam banget kalo ngomong!” cicit Christopher.
“Lo juga gak usah ikut campur. Tugas lo cuman mikir apa maksud dari bunyi piano sialan itu, ribet bener emang ini maunya hantu. Udah jadi hantu aja masih songong!”
Lia dan Christopher yang baru diomeli langsung kicep. Tidak ada yang berani membantah Astrid lagi. Daripada kena mental ye kan!
Astrid berjalan memutar, di ikuti dengan Matthew yang tidak bisa membiarkan Astrid pergi seorang diri. Sayangnya, usai mereka tiba di sana, gumpalan sesuatu tidak lagi berada di sana. Namun darah yang berceceran di sana sini membuat Astrid berdiam diri.
Darah itu sama seperti darah yang beberapa jam lalu mereka temukan. Dan kini ada jejak darah baru lagi.
“Apa mungkin, ini adalah darah Ben atau Aress? Tunggu dulu, apa mungkin…”
“BISA DIEM GAK? MULUT BAU BUSUK TAU GAK SIH?” bentak Astrid tepat pada daun telinga Christoper yang benar-benar membuat kesabarannya terkuras saat ini.
Christopher kicep. Dia diam tidak berkutik sama-sekali. Benar-benar tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Astrid yang kian menggila. Benar-benar terlihat ingin menebas lehernya.
Bahkan tatapan Astrid yang terlihat tajam, membuat Christoper memegangi lehernya erat-erat. Dia takut akan kena serangan mendadak.
“Trid, gue jadi takut kalau ini…memang darah Ben atau Aress!”
Lia kembali dengan segala kekhawatirannya. Membuat Astrid hanya bisa menghela nafas kasar. Dia tidak terlalu suka orang yang selalu parnoan.
“Lo ngomong, gue santet pala lu, Li!”
“Ya kan gue cuman nyampein opini doang, Trid. Jangan galak amat napa sih?”
“Gue gak galak, cuman gak ramah aja!”
Lia hanya bisa tersenyum lebar. Tidak lagi berkata apa-apa saat Astrid sudah berkata demikian.
“Trid, lihat!”
Matthew yang 3 langkah lebih maju di depan mereka menunjuk ke bawah, tepat dimana darah yang tersamarkan oleh genangan air terlihat dengan samar-samar. Astrid mendekat, dia mengambil sebelah tangannya, dan memasukkannya ke dalam genangan air itu.
“Ini memang darah manusia, tapi auranya rada gada. Dan satu-satunya human yang punya aura seperti itu adalah…Ben!”
Astrid hampir saja terjatuh.
“Apa mungkin yang tadi itu adalah, Aress ya?”
“Lo nyium bau darah siapa, Trid?”
“Ini darah Ben, gue gak salah lagi. Aura darahnya serasa gak ada, gue jadi curiga kalo Ben kenapa-napa. Soalnya, darah yang keluar cuman sikit!”
“Kita mencar?”
Matthew menggeleng, itu jelas bukan ide yang baik. Lia juga tidak setuju dengan ide Christopher. Mereka tidak boleh terpisah, jika itu terjadi untuk kedua kalinya, maka Matthew tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
“Kita ikuti jejak darah ini, mungkin ini punya Aress. Kalian kenapa gak bilang sih dari tadi? Andaikan tadi kita langsung nemuin Aress, kita gak kerja dua kali lebih lama!” seru Astrid marah-marah.
Yang salah siapa, yang marah siapa.
Sabar-sabar.
Nasib jadi pemeran sampingan ya memang gini.
Astrid berjalan di depan, mata tajamnya menyorot lurus pada jejak darah yang terlihat di tembok. Dia yakin jika Aress mungkin sengaja melakukannya. Karena Aress kemungkinan melihat mereka. Tapi yang mengganjal di hati Astrid, kenapa Aress malah membuat ke arah yang berlawanan dengan arah mereka pergi tadi?
Harusnya kan, jika Aress memang masih sadar, dia mengikuti mereka. Bukan malah semakin menjauh.
Atau, apa ada sesuatu yang mereka lewatkan tadi?
“Trid!” Matthew menahan sejenak, dia membalikkan badan sebentar dan menatap lurus, “kok gue ngerasa ada yang janggal ya? Gak mungkin Aress malah menjauh, apa mungkin terjadi sesuatu?”
“Mung-kin, gue juga nyadar hal itu tadi.”
“Jadi, ini gimana?”Christopher kembali buka suara, dia menatap ke arah darah di sepanjang tembok yang terlihat masih segar.
“Apa mungkin Aress sengaja?” bisik Astrid, bersamaan dengan matanya yang menangkap tangan yang tergeletak di balik tembok.
Mereka lekas menatap ke arah kedepan. Beberapa langkah di depan, tepat di lorong yang bercabang lagi.
Dengan segera Astrid berjalan lebih dulu, langkahnya berhenti selangkah sebelum. Nafas Astrid mulai memburu. Matthew menarik gadis itu ke belakang. Dan menggeleng.
“Biar gue aja!”
Pedang panjang berukuran besar yang terlihat tajam itu terangkat. Matthew berjaga-jaga jika nanti ada seseorang dibalik pintu. Langkah Matthew perlahan mendekat dan…
“Aress?”
Astrid lekas melangkah maju dan memperhatikan Aress yang tidak sadarkan diri. Darah itu ternyata berasal darinya.
“Ssst…jangan berisik!”
Aress yang masih memiliki sedikit kesadaran menatap Astrid, juga Matthew. Dia menunjuk ke arah belakang. Tepat dimana ada dua bocah kecil yang berkeliaran seperti tuyul.
Melihat itu, Astrid lekas menarik Matthew, dan menyuruh agar Lia dan juga Christoper untuk tidak bergerak selama beberapa menit. Astrid memegangi tangan mereka semua erat, berusaha untuk menyamarkan aroma dari tubuh mereka.
Matthew melirik dari tembok, dia memperhatikan sejenak bahwa kedua makhluk kecil itu sekilas menatap ke arah mereka.
“Mereka datang!”
Astrid menggenggam erat tangan mereka semua, dia berusaha untuk lebih kuat.
Langkah terdengar semakin dekat, dan itu bukanlah kabar baik. Astrid tidak bisa menahan lebih jauh lagi, dia harus segera melepas Lia dan juga Christopher. Jika tidak, maka Astrid yang terkena masalah.
“Trid, lepas!”
Tubuh Astrid hampir terjatuh, beruntungnya Matthew cepat menangkap tubuh Astrid. Lia dan juga Christopher saling menatap.
“Dia…sudah pergi?”
“Udah, mereka gada lagi!”
Aress mengangguk. Dia bangkit dan memperhatikan wajah Astrid yang pucat, namun beruntung Astrid masih tidak terlalu melemah. Setidaknya dia lebih baik.
“Trid, lo butuh istirahat lagi?”
“Gak udah, kita harus pergi, secepatnya!”
“Tapi keadaan lo gak baik-baik aja, lo mesti balikin energi lo dulu, setidaknya lo gak bisa begini terus, dan lo gak usah maksain diri.”
“Bilang makasih aja udah siap masalah kita, Ress. Lo kok banyak drama amat sih? Gue ntar marah, gue tebas leher lo gak gak berguna!”
Aress kicep. Dia memang salah. Aturannya cukup bilang makasih saja sudah selesai.
Matthew lekas menggendong kembali tubuh Astrid, mereka berjalan beberapa langkah lagi kedepan, dengan Aress yang dibawa oleh Lia dan Christopher. Tanpa ada satupun yang bertanya, karena semuanya masih di landa dengan pertanyaan yang hingga di pikiran masing-masing.
Termasuk Matthew.