13 ~ Ke Akhirat

1250 Words
Badan Astrid benar-benar terasa lemah begitu dia menyentuh tangan Matthew. Dia terjatuh di dekapan Matt, yang untungnya sigap untuk menangkap tubuhnya. “Lo…” “Sttt!” Christopher merasakan tubuhnya benar-benar sangat dingin. Udaranya juga tidak terlalu sejuk, rasanya ada bau yang sedikit menyengat dan itu…membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Benar-benar terasa mengerikan. Astrid yang masih sadar menatap ke arah belakang, tepat dimana pintu di belakang itu terbuka dengan perlahan. Plup—Matthew lebih dulu menahan Satan itu dengan meja. Christopher cukup terkejut dengan Matt yang tiba-tiba menghilang. Dia berbalik dan menatap Matt yang kini tengah memegangi meja dengan sosok mengerikan yang berusaha untuk menggapai Astrid. Christopher merasa mual. Dia hendak memuntahkan isi perutnya. Kenapa? Kenapa dia bisa melihat ‘mereka’ juga? “Lo megang gue, bego. Jangan muntah sekarang, bawa gue pergi!” bisik Astrid yang kelelahan. Melihat kembali ke arah Astrid, Christ lekas menarik tangannya dan bersamaan dengan sosok itu yang tidak lagi bisa dia lihat. Christopher merasa lebih baik, dia lekas menarik kerah baju Astrid dan menyeretnya keluar sembari berteriak ketakutan. Astrid yang tidak siap di tarik seperti kucing benar-benar merasa jengkel. “Trid, lari…cepet!” Matt menatap salah satu tangan Satan yang ingin meraih lehernya. Matt lekas membanting meja itu, mengambil pedang di tangannya dan splash—menebas tangan satan itu dari belakang. Meja itu terlempar jauh, membuat kaca yang menjadi objeknya pecah. Nafas Matt kembali saling memburu. Dia menatap ke bawah, beruntung tidak ada lagi lobang di kakinya. “Kau…harus mati juga, sesama iblis, gak boleh hidup sendiri-send…” Prak Kepala Satan itu terpukul ke belakang. Wajahnya yang sudah ngeri semakin ngeri saat Matt memukulnya keras. Nafas Matt semakin memburu. Bruk Tubuh Matt terlempar ke belakang. Satan itu terlihat sangat marah, dan tubuhnya kini sudah mengeluarkan aura hitam pekat. Itu berarti jika satan itu berniat untuk membunuhnya. Tubuh Matt menghilang, tepat sebelum tangan yang dipenuhi dengan banyak mata itu menangkapnya. Matthew muncul di belakang tubuh itu, dan spahss—pedang Matt mengeluarkan cahaya. Bersamaan dengan mata-mata yang terjebak di dalam tubuh Satan itu keluar. Teriakan itu cukup membuat Matt menutup daun telinganya. Dia menatap satan itu yang perlahan diliputi oleh cahaya hijau, dan menghilang bersamaan dengan semakin terangnya cahaya itu. Nafas Matt masih saling memburu, dia lekas berbalik. Namun saat menatap ada satu mata yang tersisa. Matt menaikkan sudut bibirnya, dia menatap mata itu menyeringai. Lalu mengulurkan tangannya. “Masuklah!” Mata itu memasuki tubuh Matt, bersamaan dengan cahaya hijau yang memasuki tubuhnya. Dengan segera, Matt melangkah menjauh dan mendekati Christopher, juga Astrid yang bersembunyi di balik tembok. “Sudah aman. Apa kalian berdua baik-baik saja?” Mendengar suara Matt, Astrid lekas menjauhkan tubuh Christopher dan memasuki pelukan Matt. Tubuhnya benar-benar lemas, dan juga dingin. Astrid tidak pernah merasakan tubuhnya sedingin ini. Namun rasa dingin itu menghilang saat dia sudah menyentuh tangan Matt. “Apa yang terjadi? Lo terluka?”guman Christ, dia menatap ke arah ruangan kelas yang terlihat biasa saja. Bahkan tidak ada kursi yang bergerak dari tempatnya. “Lo terluka, Trid?” Astrid menggeleng. Tubuhnya terasa jauh lebih membaik saat Matt memeganginya. Dia berdiri, meskipun Matthew masih harus memeganginya. Tatapan Astrid jatuh pada kaki Matt, lubang hitam itu sudah tidak ada lagi. “Lo berhutang penjelasan ke kita, Matt!” guman Christ. “Gue tahu, sekarang kita mesti nemuin keberadaan Aress sama yang lainnya dulu. Mungkin mereka lagi di kejar juga!” Matt lekas menggendong Astrid, dan mereka melangkah ke tempat semula. Suara teriakan terdengar jelas, itu menandakan jika lokasi Aress, Lia, Ben, dan juga Grace tidak jauh dari mereka. “Ress…dia dimana?” teriak Ben heboh. Kakinya kembali bergetar, Ben pengen berak!. Perutnya tiba-tiba mules saat dia terbanting ke tembok. Dan benar-benar kehilangan keseimbangannya lagi. Pruttt Aress yang tengah melawan sosok satan bertubuh merah itu berhenti, juga dengan sang Satan. Mereka semua sama-sama menatap ke arah Ben yang tidak jauh. “Lo…kentut, Ben?” Wajah Ben kembali memerah. Keknya dia…udah berat di celana deh. Sumpah, perutnya saat ini tidak bisa diajak kompromi. Ben hanya bisa nyengir ngenes sambil menekan perutnya yang kembali melilit sakit. “Lo pernah gak di ajarin etika?” Aress mengalihkan perhatiannya, dan menatap satan yang ada di depannya. “Pernah sih, cuman gak semua human itu mau nurutin etika. Contohnya teman gue, dia keknya sakit perut banget tuh. Wajahnya kebelet nahan berak banget!” “Apa perlu kita skip dulu?” “Anjir!” guman Aress. Mendengar umpatan itu, satan itu mendadak kembali sadar jika dia…bukan human. Mereka kembali saling menyerang, Aress memukul kepala satan itu ke tembok. Lalu beranjak ke samping, menghindar dari pukulan itu. Splash Aress terkejut saat mendapati Matthew yang mendadak muncul di depannya dengan Astrid yang ada di gendongannya. “Bawa Astrid, jangan di sentuh yang lain dulu!” “Kalian kemana aja sih Trid? Noh lihat, Ben keknya berak di celananya!” Astrid yang ada di gendongan Aress mengalihkan perhatiannya, dan menatap Ben yang pucat. Tangannya memegangi tembok, dan benar-benar terlihat mengenaskan. “Pantesan ada bau yang lain, ternyata ada human gak tau diri lagi berak di waktu-waktu gini!” “Keknya dia kebanyakan makan, Trid!” kekeh Aress. Sebenarnya dia cukup kasihan juga saat menatap wajah Ben yang terlihat pucat pasi. Benar-benar terlihat mengerikan. “Dia cocok gak sih jadi tumbal perdana, Ress? Soalnya dia itu mencemari udara kehidupan gue aja. Udah tadi bau pesing, sekarang bau berak lagi!” Aress ngakak. Dia seketika lupa jika mereka saat ini sedang berada di situasi kejar-kejaran dengan Satan. “ARGHHH” Mendengar teriakan dari belakang. Aress lekas berbalik dan menatap Lia, juga Grace yang ketakutan setengah mati. Wajah mereka menunjukkan jika ada sesuatu yang terjadi pada mereka. “Kenapa, Grace?” “I…itu!” panik Grace. Mereka berdua berdiri di belakang Aress yang menggendong tubuh Astrid. “Lia…jangan sentuh gue, sakit!” Aress menjauh dari Lia. Dia baru sadar jika Matt tadi menyuruhnya untuk menjauhkan Astrid dari jangkauan orang-orang lain. Mereka kembali menatap ke arah yang ditunjuk oleh Grace. Sebuah kepala yang masih terlihat berdaging tepat ada di tempat Lia dan Grace tadi bersembunyi. Aress mendekat, dan menatap kepala itu. “Trid, ini…” “Bekas kepala kali. Keknya, makin kesini, gue makin nyadar kalo tempat ini memang bukan gedung sekolah lagi. Tapi kita keknya di jebak di dimensi yang lain!” “Gue…juga sepemikiran!” Bruk Tubuh satan itu terlempar. Matt kembali meleset cepat dan memukul mundur satan itu. Pukulan Matt semakin membabi buta, dia menghilang dan bruak—tubuh Satan itu hancur, lenyap di tangan Matt. “Lo…keren!” guman Lia yang tadi memperhatikan hal itu. Matt menatap Lia sebentar, lalu menatap Ben yang merapatkan kakinya. Dan tangan yang menekan perutnya, juga bau busuk yang menyengat hidung. Itu benar-benar mengerikan. Aura Matt juga semakin berbeda daripada sebelumnya. Dan Astrid menyadari hal itu, atau satu-satunya yang sadar? “Kita lanjut dulu!” Mereka kembali berjalan beberapa menit, Ben sejak tadi benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang menyerang perutnya. Hingga membuat dia benar-benar berak di celana. Mereka berhenti di ruangan yang lebih terang daripada sebelumnya. Senter mereka sudah menghilang entah kemana. Tapi setidaknya mereka masih bisa melihat dengan cukup jelas. “Keknya, lo harus nyari tempat buat berak dulu deh, Ben!” ujar Matt, dia memang merasa mual mencium aroma semerbak dari Ben. “Atau, lo nyerahin diri aja sama satan-satannya, Ben. Mereka bakal nuntun lo kok!” “Ke WC, Trid?” “Ke akhirat!” ujar Astrid dengan wajah datar. Membuat Aress, dan juga Lia ngakak. Entah sejak kapan, tapi Lia hanya bisa ikut tertawa mendengar ucapan receh Astrid.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD