83

1505 Words

Aress merasakan cahaya yang menyorot wajahnya. Perlahan, matanya mulai mengerjap. Semakin lama, pandangan Aress mulai jelas. Seluruh badannya terasa sakit, Aress menatap langit-langit kamar yang tidak familiar. Juga dengan nuansa ruangan dimana mereka saat ini berada. Kamar tidur Matthew. Tidak salah lagi, Aress bahkan sangat akrab dengan aromanya. Aress menyandarkan badannya, dan mengurut keningnya yang sangat terasa pening dan sakit. Perhatian Aress tertuju pada tangannya, terdapat coretan berwarna hitam. “Kau sudah bangun?” Sebuah kepala terlihat dari balik pintu, Aress mengalihkan perhatiannya dan menatap Christoper yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu kemudian masuk, dan berdiri tepat di sisi ranjang, memastikan bahwa Aress benar-benar dirinya sendiri, bukan iblis yang dia temu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD