40 ~ Gue suka sama lo, Trid!

1725 Words
Semua berlangsung kembali seperti biasa. Mulai dari sekolah, dan juga kegiatan sehari-hari. Dan juga tidak ada yang menyadari akan hal itu. “Jadi…orang-orang yang masuk ke dalam organisasi, adalah orang-orang yang memiliki kemampuan khusus?” Matthew mengangguk, sambil mengelus rambut panjang Astrid yang ternyata semakin panjang. Astrid menguap lebar, dan menatap kembali buku yang diberikan oleh Mata padanya. Dan dari semua jenis buku, entah kenapa Astrid tertarik dengan buku satu itu. Rasanya ada yang berbeda dengan buku itu, dan mata Astrid tidak lelah untuk membacanya. Tidak seperti buku-buku yang lain. “Jadi, lo sejak kapan punya kekuatan khusus itu? Maksud gue, kekuatan lo apa aja?” bisik Ben, yang memutar kursinya agar leluasa bertanya. “Sejak gue lahir lebih tepatnya. Orang-orang yang diberi tanda seperti ini…” Matthew menunjukkan simbol yang ada di ponselnya, “adalah orang yang lahir dengan kekuatan. Totally, gue juga tetap manusia, gak usah dengar omong kosong Mata soal itu!” Ben mengangguk. Lonceng berbunyi, menandakan waktunya jam istirahat. Astrid menatap semua penghuni kelasnya sudah keluar, mereka mungkin akan ke kantin. Gadis itu menghela nafas berat, membuat Matthew, dan juga Ben menatapnya. “Lo kenapa? Perasaan yang punya beban hidup berat bukan cuman lo doang deh!” “Bisa diam gak sih?” kesal Astrid, dia memukul lengan Ben dan kembali menyandarkan badannya ke bahu Matthew. “Gue cuman mikir, kalo mungkin kita gak lagi bisa kayak gini. Maksud gue, hidup kayak gini!” Ben ikut menatap ruangan yang ribut, dan teman sekelas mereka yang lalu lalang. Benar memang, bahkan saat mereka menghilang, tidak seorangpun yang menyadarinya. Mereka bahkan berkata jika tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang hilang saat camp. Semuanya baik-baik saja. Dan hal itu membuat Ben sadar, jika ucapan Mata saat itu adalah benar. “Sejujurnya, gue masih penasaran banget sama organisasi yang lo bilang, sama siapa Mata sebenarnya. Dia terasa jauh lebih kuat, dan ya…misterius juga!” “Tapi, ngerasa gak sih kalian kalo David—si juara kelas, merhatiin ke arah kita sejak tadi?” seru Aress. Tangan Aress yang buntung memang tidak bisa mengelak pertanyaan-pertanyaan dari berbagai orang. Mulai dari guru, teman sekelas, dan bahkan adik kelas mereka. Parahnya, saat Aress mengatakan jika tangannya memang buntung sejak lahir, beberapa wanita yang dulu sering mendekatinya langsung membuat pembatas. Hal itu membuat Aress sadar, jika mereka hanyalah sementara. “Gue juga ngerasa gitu sih…lihat, dia datang ke sini!” bisik Ben. David membenarkan kacamatanya, dan sedikit gugup. Kelas sudah sepi, dan hanya diisi oleh geng Astrid, karena semua siswa sedang pergi ke kantin. Tubuh tinggi David berhenti tepat di depan Astrid, membuat semuanya, termasuk Matthew yang tadi tidak ingin ikut campur menjadi sedikit penasaran. “Astrid, gue…gue mau ngomong sesuatu sama lo!” Ben dan Aress kompak saling melihat satu sama lain dan tersenyum jenaka. Ben menyenggol bahu Astrid yang bahkan tidak peduli, dan ogah. “Kenapa?” David semakin gugup. Berkali-kali lelaki itu membenarkan kacamatanya, berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya. “Boleh kita keluar bentar gak? Gue benar-benar mau ngomong sama lo!” “Lo mau ngomong apa? Kenapa harus di luar, Vid? Di sini aja emang gak bisa?” Matthew lebih dulu mengeluarkan suara, tatapan tidak suka Matthew membuat David sedikit mundur, dan gugup. “Dimana?” Matthew, Ben, dan juga Aress terkejut saat Astrid tiba-tiba berdiri. David sebenarnya juga terkejut saat Astrid setuju untuk ikut dengannya. Padahal, dia sudah siap dengan kemungkinan terburuk jika Astrid pasti akan menolaknya mentah-mentah. Astrid dan David sudah menghilang di balik pintu kelas. Menyisakan Matthew, serta Ben dan juga Aress. “Menurut lo, kenapa dia manggil Astrid coba? Mereka kan gak dekat selama ini!” “Gue juga kepo, lo gak kepo Matt?” Tangan Matthew yang tadi terkepal kembali seperti biasa. Lelaki itu merebahkan kepalanya, dan menatap kosong ke depan. Ada rasa yang aneh, dan tidak suka saat Astrid mengiyakan ajakan orang lain. “Gue gak suka Astrid deket-deket sama cowok lain!” Ben, dan Aress yang mendadak mendengar itu tersenyum lebar. Keduanya saling mengangguk, dan menepuk bahu Matthew. “Lo suka sama dia?” Dengan cepat Matthew mengangguk. “Ya sukalah. Dia kan peliharaan gue, dan gue itu majikan dia. Sungguh tidak sopan untuk meninggalkan majikan seorang diri. Apa lo pikir, kalo lo di tinggal peliharaan lo tiba-tiba gak nyesek apa?” Mendengar jawaban ambigu Matthew, membuat senyuman Ben dan juga Aress mendadak sirna ditelan keramaian kelas. Benar-benar tidak menyangka jika teman mereka benar-benar akan selugu itu. “Gue nyerah, Ress. Tapi gue kasihan juga sama lo berdua. Kalian manusia, tapi main peliharan-peliharaan segala. Apa lo pikir itu … au ah, gelap!” Ben lekas bangkit berdiri, dan pergi meninggalkan mereka. Aress menepuk bahu Matthew. “Sekarang gue nanya, lo kepo gak David ngomong apa sama Astrid?” Matt mengangguk. Membuat Aress tersenyum penuh makna. “Coba lo pikir lagi, Matt. Rasa suka lo emang hanya sebatas itu, atau memang ada rasa yang lain? Karena, apapun yang bakal terjadi, gue tetap ngedukung kalian berdua. Gue mau cabut dulu, kapan lagi bisa bolos belajar, ya gak?” Matthew terdiam saat kedua temannya pergi meninggalkannya. Dan perkataan Aress yang terakhir membuat Matthew tertegun. Apa mungkin, ada rasa suka yang lain baginya? Tapi itu jelas tidak mungkin, dan tidak pernah terjadi. Astrid hanyalah teman, peliharaan, majikan, dan semuanya. Astrid adalah rumahnya, dan jika tidak ada Astrid, maka Matthew tidak akan ada. Matthew lekas bangkit, dia tidak bisa menahan rasa penasaran yang terus menerus bergejolak di dalam dadanya. *** Sementara itu, Astrid berhenti melangkah saat David juga berhenti melangkah. Lelaki itu membawanya ke taman belakang sekolah. Dekat dengan gudang sekolah, yang sudah lama tidak dipakai. “Lo mau ngomong apa? Mana jauh lagi, nyesel gue ikut sama lo!” David menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa bersalah. Tapi ada satu hal yang berubah dari Astrid, sejauh pengamatan David. Astrid tidak ngos-ngosan, bahkan setelah berjalan cukup jauh. Padahal selama ini, saat mereka pernah berada dalam satu kelompok pecinta alam yang sama, beberapa kali David menyadari jika Astrid akan selalu berhenti dengan nafas ngos-ngosan setelah berjalan beberapa langkah.  “Gue…gue mau ngomong, kalo…gue suka sama lo, Trid. Udah lama, tapi…tapi gue cuman gak berani aja bilangnya. Gue takut lo gak nyaman, apalagi selama ini lo deket banget sama Matthew. Gue pikir kalian pacaran!” Tidak ada ekspresi di wajah Astrid. Gadis itu hanya terdiam dan menatap David—si juara kelas, yang biasa diam, dan mungkin tidak mau terlibat dalam hubungan asmara. Dan kali ini, apa yang baru saja David katakan membuat Astrid merasa aneh. “Lo…lo gak mau ya? Gue…gue emang gak…” “Kenapa lo bisa suka sama gue?” David menaikkan dagunya, dan menatap manik Astrid yang tetap seperti biasa. Tidak ada reaksi sama-sekali, dan tetap datar. Hal itu sontak semakin membuat David gugup. “Sudah dari kelas 1. Waktu itu, lo juga bantuin gue dari bully, sebenarnya gue mau bilang sejak awal, tapi gue pikir lo itu pacaran sama Matthew!” “Itu sebabnya lo mau masuk kelas yang sama dengan gue?” David mengangguk, karena itu memang faktanya. Dia sengaja masuk kelas yang sama dengan Astrid, agar cowok itu tahu seperti apa hubungan Astrid dan Matthew yang terdengar gosipnya mereka adalah sepasang kekasih. Namun, setelah mengetahui interaksi keduanya, membuat David sedikit legah, dan memiliki harapan. “Kalo lo belum bisa jawab, setidaknya terima ini, Trid. Ini gak ada hubungan apa-apanya kok sama perasaan gue. Gue cuman mau berterima kasih sama lo!” David kembali menundukkan kepalanya, sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna biru. Astrid masih diam, dan memperhatikan David. “Vid, angkat kepala lo. Lo itu harus lebih percaya diri sama diri sendiri, lo itu cakep, dan pintar. Jangan sering kehilangan percaya diri!” David tertegun. Sungguh, jawaban Astrid melebihi ekspektasinya. David menaikan kepalanya, dan menatap Astrid yang tersenyum tipis. Senyuman yang juga dulu pernah David lihat, senyuman yang membuatnya menyukai gadis itu hingga saat ini. “Makasih buat kadonya. Gue pergi dulu ya!” Astrid mengambil kado dari tangan David, dan lekas berlalu. Dan setelah Astrid pergi, David benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Lelaki itu bahkan sampai melompat kegirangan. Dia tidak peduli, apakah nantinya Astrid menerimanya atau tidak, yang penting, dia sudah mengatakan perasaannya. Dan hal yang lebih penting, Astrid mau menerima kado darinya. Matthew yang menatap, dan juga mendengar hal itu semua mendadak menjadi marah. Dia bingung, dan tidak tahu kenapa perasaannya mendadak suram. Padahal Astrid tidak berkata jika menerima David. Hal semacam ini sering kali menyerang Matthew. Terlebih saat Astrid mulai didekati oleh banyak lelaki. Dia hanya ingin gadis itu menjadikannya menjadi prioritas nomor satu. Tanpa ada yang lain. Hanya dia. Dan cukup hanya dia. “Matt? Lo ngapain di sini?” Hampir saja Matthew terperanjat jatuh. Beruntung kuda-kudanya kokoh, membuatnya bisa menahan tubuh. Matthew ingin bersikap biasa saja, namun melihat kado yang dibungkus dengan warna biru itu saja membuat Matthew kesal. “Dia ngomong apa?” Sambil berjalan, Astrid lekas menyerahkan kado itu pada Matthew, dan menatap lapangan yang mulai rame. Kelas mereka sudah mengisi lapangan yang berada di tengah itu. “David suka sama gue, terus bilang, mau gak jadi pacar gue!” “Trus lo bilang apa?” nada bicara Matthew semakin rendah. “Gue gak jawab. Gue juga bingung mau jawab apa. Ada saran dari lo gak? Lo kan majikan gue yang paling berharga!” “Kalo gue bilang, lo gak boleh pacaran, gimana?” Astrid mendadak berhenti, dan menatap Matthew. “Kenapa gak boleh? Astrid udah gede loh, Matt!” Tangan Matthew terkepal. Dia menarik gadis itu agar tidak terkena lemparan bola. Wajah mereka cukup dekat, cukup untuk membuat Matthew merasakan nafas hangat dari hidung Astrid. Perasaannya campur aduk, dan Matt tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. “Gue gak suka aja!” Astrid mengangguk. Membuat Matthew memberi jarak di antara mereka. “Berarti, gue harus menolak David?” Senyum Matthew terbit, lelaki itu mengangguk dan mengelus rambut kepala Astrid dengan pelan. “Iya, lo harus nolak David!” “Oke!” Matthew lekas membawa Astrid pergi menjauh. Hal itu membuat Ben, dan Aress yang sejak tadi bersembunyi dan menguping lekas keluar dari tempat persembunyiannya. Keduanya melongo. “Apa itu gak bisa dibilang tindakan kriminal ya, Ress? Gue jadi kasihan lihat si David, padahal dia udah senang banget. Tapi Matthew malah seenaknya suruh Astrid buat nolak dia!” Aress mengangguk setuju. “Gimana kalo kita pengaruhi Astrid, biar Matthew sadar dengan ketidak pekaannya?” Ben tersenyum jahat. “Nice idea!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD