Sejak malam itu Ardo menghilang. Dia telah mengajukan resign sebelumnya, jadi tak masalah bagi perusahaan bila ia tak muncul. Namun buatku berbeda. Semua orang menanyakan padaku. “Kemana pangeranmu? Mengapa ia tak menemuimu?” tanya Dad seakan sambil lalu saat kami sedang sarapan pagi. “Ia sibuk mengurusi kerajaannya. Apa Dad berharap ia tetap akan menjadi supir disini setelah identitasnya terbongkar?” kilahku beralasan. Dad menatapku lekat sebelum menjawab, “Tentu saja tidak!” Aku mengangkat bahu, berusaha acuh .. padahal batinku merana. Ardo, aku sungguh kehilanganmu. Kemana kamu? Mengapa kamu tak memberiku kabar? Lalu aku menyadari, dia tak memiliki kewajiban melapor padaku. Aku bukan atasannya lagi, juga bukan kekasihnya. Kami tak memiliki hubungan apapun. Hatiku perih

