mungkin jika cristian

2110 Words
'' Pokoknya ibu nggak setuju kalau kamu akan menikah dengan pria kota itu Kirana!.'' Tegas bu Wati, ibu kandungnya kirana. '' Memangnya kenapa sih bu, kalau kirana akan menikah dengan pria kota seperti mas andrew. Lagi pula mas andrew itu orangnya sangat baik bu. Dia beda dari pria kota yang lain. Mas andrew juga mencintai kirana apa adanya kok." Kirana mencoba untuk membuat ibunya merasa yakin dengan pilihan hidupnya. '' Kalau ibu bilang tidak ya tidak ndok. Ibu tidak setuju pokoknya. Ibu takut nanti kamu akan menderita setelah menikah dengan lelaki seperti nak Andrew itu. Kita ini hanyalah orang sederhana kirana, ibu hanya takut nanti keluarganya akan menjadi merendahkanmu. Kamu harus dengarkan apa kata ibu ini ndok. Ini semua juga demi kebaikan kamu. Lagi pula kamu itu baru saja tiga bulan mengenal dia. Bisa-bisanya kamu langsung mau untuk di nikahinya. Kamu itu juga perlu tau ndok, bagaimana tentang masalalunya nak Andrew itu. Sebelum kamu menyesalinya nanti." Bu wati memamg selama ini kurang menyukai Andrew yang mencoba untuk mendekati Kirana. '' Kirana tidak perlu melihat tentang masa lalunya mas Andrew Bu. Kirana dan mas Andrew itu mau membangun masa depan. Bukan kembali lagi ke masa lalu yang hanya akan merusak mimpi indahku dengan mas Andrew bu. Kalau ibu mau yang terbaik untuk Kirana, ibu juga harus mau untuk merestui hubunganya kirana dengan mas Andrew. Kirana capek bu, kirana mau istirahat dulu.'' Ucap kirana yang langsung masuk kedalam kamarnya karena dia sedang tidak ingin berdebat lagi dengan ibunya. Kirana adalah anak tunggal dari bu ratih bersama pak Agung suaminya. Kirana telah tiga bulan menjalin hubungan percintaan bersama andrew kekasihnya. Andrew adalah seorang pria kota yang cukup sukses dengan usaha bisnisnya yang di bidang batu-bara. Bu wati hanya merasa cemas jika kirana menikah bersama dengan orang kaya, yang ada nanti hidupnya akan menjadi di rendahkan oleh suaminya. Namun sepertinya kirana sudah terlanjur sangat mencintai andrew kekasihnya. Omongan bu wati pun seakan tak akan di dengarkan lagi oleh kirana yang sudah memutuskan untuk mau menikah secepatnya bersama andrew. Pak agung yang mendengar perdebatan di antara Kirana bersama istrinya. Dia lalu mencoba menasehati Bu wati agar tidak terlalu mengkhawatirkan hidupnya Kirana. Apalagi saat ini Kirana tela menjadi wanita dewasa. Sudah sepantasnya dia bisa menentukan lelaki terbaik sesuai yang di inginkanya. '' Sudahlah bu, mau sampai kapan ibu akan memperlakukan kirana seperti anak kecil terus. Dia sudah dewasa sekarang, jadi wajar saja jika dia ingin memilih calon pendampingnya sendiri bu.'' Ucap pak agung yang sedang duduk di sebelahnya bu wati. '' Bapak ini gimana toh. Bukanya mendukung ibu kok malah jadi mendukung pria kota itu agar dia bisa menikahi kirana. Emangnya bapak tidak takut, jika nasibnya kirana akan menjadi sama dengan anaknya bu Candra yang di ceraikan suaminya yang berasal dari kota juga. '' Tidak semua pria kota itu b******k bu. Bisa jadi nak andrew itu adalah orang yang baik. Kita sebagai orang tua harus terus mendoakan yang terbaik untuk masa depanya kirana bu. Jika ibu terus memikirkan hal buruk tentang nak andrew, takutnya omongan jeleknya ibu itu akan menjadi kenyataan nanti. Omongan itu adalah doa bu. Jadi ibu harus bisa berkata hal yang positif saja untuk kirana. Siapa tau nak Andrew itu memang jodoh yang terbaik untuknya nanti.'' Pak agung yang mencoba untuk menasehati bu wati. '' Sudahlah pak, ibu ngantuk mau istirahat saja di kamar. Percuma rasanya kalau ibu cerita sama bapak. Ujung-ujungnya kita tetap saja beda pemikiran.'' Bu wati langsung pergi begitu saja meninggalkan pak agung di ruang tamu. Pak agung hanya bisa berharap semoga bu wati bisa memberikan restu kepada kirana seperti dirinya. Apalagi usianya kirana saat ini sudah menginjak 28 tahun. Jadi mungkin sudah waktunya untuk kirana segera meninggalkan masa lajangnya saat ini. Tring....Tring...Tring... Suara telpon berdering. Kirana yang sedang mencuci mukanya di kamar mandi, dia langsung segera mengelap wajahnya dengan menggunakan kain handuk bersih. '' Hallo mas andrew, kamu sudah pulang kerja mas?.'' Tanya kirana sambil duduk di atas ranjang kamarnya. '' Iya sayang, aku baru saja pulang dari kantor. Oh iya apa kamu sudah bicara tentang rencana pernikahan kita sayang?." Tanya Andrew penasaran. '' Sudah mas!. '' Lalu apa kata orangtua kamu sayang. Apa mereka sudah setuju dengan rencana pernikahan kita?.'' Tanya andrew penuh harap. '' Bapak sih setuju-setuju aja mas. Tapi. '' Tapi apa kirana, katakan saja. '' Ibu masih belum mau memberikan kita restu mas.'' Ucap kirana merasa sedih. '' Yasudah, besok siang aku akan datang kerumah kamu oke. Aku sendiri saja yang akan meminta restu kepada ibu kamu nanti. Semoga saja dengan aku mencoba meyakinkanya, ibu kamu akan memberikan restu untuk pernikahan kita ini sayang. '' Apa kamu yakin mas ibu akan merestui hubungan kita nanti. '' Tentu saja sayang. Kita hanya butuh bersabar da terus membuat ibumu agar bisa yakin dengan aku yang memang sangat tulus mencintaimu. '' Iya mas, maafkan ibu aku ya mas. " Tidak perlu meminta maaf sayang. Aku tau kecemasan ibu kamu sebagai orangtua yang sangat mengkhawatirkan nasib putri kesayanganya selama ini. " Yaudah aku tunggu kamu besok kerumah ya mas. " Iya sayang. Selamat istirahat kalau gitu." Ucap Andrew yang langsung mematikan ponselnya. Kirana berharap semoga setelah andrew datang besok kerumahnya, ibunya akan memberikan restu untuk hubunganya. Kirana sudah merasa yakin bahwa andrew andalah sosok pria yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya nanti. Walau hanya mengenal selama tiga bulan saja, entah mengapa kirana sudah sebegitu yankinya dengan cintanya kepada andrew. Kirana bahkan tidak pernah ingin tahu lagi tentang keburukan yang terjadi pada masa lalunya andrew selama ini. Kirana pun langsung segera memejamkan matanya untuk segera beristirahat. Keesokan harinya... " Pagi Bu, maaf Kirana bangunya kesiangan hari ini. " Iya sayang tidak apa-apa. Memangnya hari ini kamu tidak bekerja nak?." Tanya Bu wati. " Mas Andrew katanya mau datang kesini Bu. Makanya kirana izin tidak bekerja hari ini." Ucap Kirana memberitahunya. " Bukanya semalam ibu sudah bilang sama kamu Kirana, kalau ibu tidak akan pernah mau mengizinkan kamu menikah denganya. Jadi untuk apa lagi pria kota itu datang ke rumah kita!." Ucap Bu wati yang tidak ingin bertemu dengan Andrew. " Tapi Bu, Kirana itu sangat mencintai mas Andrew bu. Kirana tidak bisa jauh dari mas Andrew. Jadi ibu cukup doakan saja yang terbaik untuk masa depannya Kirana bersama mas Andrew." Kirana tidak suka jika ibunya terus mengatur kehidupannya. Bu wati memang selama ini kurang suka dengan perilaku sikapnya Andrew yang di anggapnya sedikit sombong dan juga angkuh. Dia pun merasa hera mengapa Kirana bisa jatuh cinta dengan lelaki yang seperti Andrew itu. " Kamu itu keras kepala kalau di bilangin sama ibu. Kau nanti pasti akan menyesal karena tidak mau mendengarkan perkataan dari ibu, kirana." Ucap Bu Wati memperingatinya. " Coba bapak kasih penjelasan ke ibusih pak. Kirana capek jelasin ke ibu kalau pemikirannya ibu itu masih seperti kebanyakan orang di sini pak. Tidak semua pria kota itu b******k Bu. Kirana percaya dan sangat yakin sekali kalau mas Andrew itu pria yang sangat tulus untuk Kirana." Ucap Kirana merasa yakin. " Sekali-kali ibu itu coba turuti keinginannya Kirana ini bu. Kasihan dia, kalau ibu Terus mengekang dia untuk berhubungan dengan pria yang di cintainya." Ucap pak agung yang mencoba membela Kirana. " Ibu tidak bermaksud untuk mengekang pak. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Kirana saja. Tapi jika kalian tetap memaksa ibu untuk mau merestui pernikahan itu, yasudah ibu juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, percuma." Ucap Bu Wati yang merasa sedikit kecewa dengan sikapnya Kirana yang tidak mau mendengarka nasehatnya. Tidak lama kemudian akhirnya Andrew datang kerumah itu. Kirana lalu segera ingin membukakan pintu rumahnya untuk Andrew. " Sepertinya itu mas Andrew. Kirana mau bukain pintu untuknya dulu ya pa, Bu." Ucap Kirana yang beranjak pergi dari ruang meja makan. Ceklek, suara pintu terbuka. Terlihat Andrew bersama dengan kedua orangtuanya datang kerumahnya Kirana sembari membawa beberapa seserahan untuk acara melamar Kirana. " Hay sayang. Aku sengaja datang sambil membawa orangtuaku untuk melamar kamu hari ini. Kirana nampak terkejut saat Andrew yang akan melamarnya hari ini. Dia pikir Andrew hanya ingin meyakinkan ibunya terelebih dahulu sebelum Andrew akan melamarnya. " Silahkan masuk om dan juga Tante." Ucap kirana yang langsung mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamunya. Tatapan sinis orangtuanya Kirana seperti tidak suka jika Andrew akan menikahi Kirana. Apalagi Kirana hanyalah orang sederhana dan kekayaanya tidak sebanding dengan orangtuanya Andrew. Kirana lalu segera menghampiri orangtuanya untuk segera keluar menemui mereka. " Apa kamu yakin ndrew, akan menikahi wanita miskin seperti gadis itu." Tanya ibunya Andrew meyakinkanya. " Yang Andrew butuhkan hanyalah wanita baik-baik ma. Bukan wanita yang kaya. Lagi pula Andrew juga mampu kok buat menghidupi kebutuhannya nanti." Ucap Andrew membela Kirana kekasihnya. " Kamu itu memang susah kalau di kasih tau ndrew. Yaudahlal suka-suka kamu saja. Capek ibu nasehatin kamu. Orangtuanya Andrew termasuk orang yang terpandang di jakarta. Jadi wajar saja jika dia kurang setuju kalau Andrew akan memilih Kirana untuk menjadi pendamping hidupnya nanti. " Perkenalkan om dan juga Tante, ini adalah orangtua saya." Kirana langsung mencoba untuk memperkenalkan orangtuanya kepada mereka. Mamanya Andrew langsung menatap tajam dengan penampilanya orangtuanya Kirana yang terlihat sangat lusuh di matanya. " Nama saya pak agung, ayah Kirana." Ucap pak agung sambil bersalaman dengan mereka. " Nama say Bu Wati, ibunya Kirana." Di susul oleh Bu Wati yang langsung ikut menyalaminya. Walaupun sebenarnya Bu Wati kurang setuju dengan rencana pernikahanya Kirana bersama Andrew yang menurutnya terlalu cepat dan terburu-buru. Namun Bu Wati juga tidak ingin membuat Kirana merasa sedih jika dia tetap egois dengan keinginannya itu. " Nama saya Veronica, mamanya Andrew." Ucapnya sambil segera mengelap tanganya dengan tisu basah karena merasa jijik telah bersalaman dengan mereka barusan. " Saya pak Hartoyo, papanya Andrew. " Dan kedatangan kami kesini, saya berniat ingin melamar Kirana Bu. Ijinkan kami menikah di bulan ini Bu. Tekat saya sudah bulat Bu. Dan saya sangat mencintai anak Kirana anaknya ibu." Pinta Andrew kepada orangtuanya Kirana. " Apa ini tidak terburu-buru nak Andrew. Kalian juga baru saja berkenalan bukan. Jadi maksud ibu lebih baik kalian saling mengenal satu sama lain dulu sebelum kalian memilih untuk menikah." Jawab ibunya Kirana. " Jadi Bu Wati aka menolak lamaran anak saya ini. Lagian gadis kampung seperti putri ibu itu bisa saya temuin di kota kalau ibu tau. Jadi jangan sombong apalagi sampai menolak tawaran pernikahan dari orang kaya seperti kami ini. Memangnya ada orang kaya yang mau menikahkan putranya dengan gadis miskin. Jadi ibu tolong jangan buang kesempatan emas ini." Ucap Bu Veronica dengan sombongnya. Firasat Bu Wati seakan terasa benar jika orang kota akan bersikap sewang-wenang dengan orang di bawahnya. Ingin rasanya Bu Wati segera mengusir mereka dari rumahnya. Namun Kirana terus menahan amarahnya agar tidak di perlihatkan oleh mereka. " Mama ini bicara apa sih. Andrew menikah dengan Kirana atas dasar cinta. Jadi mama juga tidak berhak ikut campur, apalagi menghina keluarganya kirana. Tolong Bu Wati dan pak agung tidak mengambil hati dengan perkataan dari mama saya barusan ya. Beliau memang suka emosi tak terkontrol. Jadi saya minta maaf dengan perkataan mama saya barusan. " Ucap Andrew yang menjadi merasa tidak enak dengan orangtuanya Kirana dan juga Kirana. " Kami sadar kalau kamu adalah orang yang miskin nak Andrew. Jadi sudah sepantasnya Bu Veronica menghina kami. Jadi sebelum nak Andrew mengambil langkah yang terlalu jauh bersama Kirana, tolong nak Andrew pikirkan baik-baik keputusan nak Andrew barusan. " Tidak Bu, saya memang sudah bertekad untuk menikahi Kirana akhir bulan ini. Saya berjanji saya akan mencoba untuk membahagiakan Kirana setelah menikah. Orangtuanya Kirana menjadi merasa bingung untuk menjawab perkataan dari Andrew barusan. " Apa kamu sudah yakin dengan anak saya nak Andrew?." Tanya pak agung meyakinkannya. " Iya pak, saya sudah merasa yakin. Saya dan Kirana memang suda saing mencintai. Jadi yang kami butuhkan adalah restu dari kalain saja, tidak ada yang lain. " Apa kamu sudah yakin ingin menikah dengan nak Andrew Kirana?." Tanya pak agung ganti bertanya kepada putrinya. " Iya pak, Kirana sudah yakin. " Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik saja dengan keputusan yang sudah kalian putuskan. Semoga keinginan kalian untuk bisa menikah akan menjadi sumber kebahagiaan di antara kalian. " Jadi pak agung merestui pernikahan kami." Tanya Andrew meyakinkanya. Ibunya Kirana hanya terdiam dan enggan untuk menjawabnya. " Iya nak Andrew. Tapi dengan satu syarat!. " Syaratnya apa pak?. " Jangan pernah kamu sakiti anak saya baik batinya maupun fisiknya. Apa kamu bisa menepati persyaratan dari saya ini." Ucap pak agung dengan menegaskan. " Saya siap melakukan persyaratan itu pak. Sebelumnya terimakasih karena pak agung dan juga Bu Wati telah merestui rencana pernikahan kami akhir bulan ini. Mamanya Andrew hanya terdiam dan menatap sinis ke arah orangtuanya Kirana. Acara resepsi pernikahan mereka akan segera di persiapkan oleh Andrew secepatnya setelah ini. Andrew bersama kirana pun merasa senang karena sebentar lagi mereka akan segera menikah. Selanjutnya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD