9. Erlin

1130 Words
"Sudah beres semua, ya, Dek? Mas ke kandang, ya. Kamu masih ada perlu sesuatu?" Kalimat itu seolah menjadi menu rutin setiap hari. Setelah membantu segala urusan rumah tangga, Mas Fauzi akan pamit ke kandang untuk mengurus ayam-ayamnya. Berbeda dengan dulu yang bangun tidur ku terus mandikan ayam, tidak mau peduli sedikit pun dengan pekerjaan rumah. Sekarang Mas Fauzi memastikan semua pekerjaan beres. Aku juga harus sudah makan dan mandi, jadi hanya tinggal bersantai sambil ngemong. Tidak sibuk mengerjakan apapun lagi. Jika Aqmar tidur, dia akan menyarankanku tidur pula. Kesempatan recharge energi katanya. Selama aku melahirkan, pagi-pagi sekali laki-laki itu ke pasar untuk belanja sayur dan lauk pauk. Setelah pulang, aku memasak dan dia mengurus Aqmar. Jika aku lelah karena malamnya begadang dan belum memandikan bayi itu, Mas Fauzi tanpa canggung akan melakukannya. Jika ternyata Aqmar rewel dan hanya bisa tenang bersamaku, dia akan mengambil alih semua pekerjaan rumah yang tersisa, baik itu memasak, mencuci baju, maupun membersihkant rumah. Meskipun pada awalnya, hasil dari pekerjaan rumah itu agak aneh, masakan hambar, cucian masih banyak detergen sudah diperas sehingga ketika kering menjadi kaku, dan menyapu rumah yang debunya masih tertinggal membentuk pulau. Mas Fauzi benar-benar telah berubah menjadi sangat perhatian. Sama sekali tidak ada gerak gerik darinya yang mencurigakan. Apalagi bermain gila. Jadi siapa Erlin? "Atau Adek masih butuh sesuatu?" ulangnya membuyarkan lamunanku. "Eh, enggak, Mas," jawabku sedikit terbata karena terkejut. "Ya, sudah. Kalau gitu Mas ke kandang, ya," pamitnya sekali lagi. Laki-laki itu langsung melangkah pergi. Aku melirik gawainya yang tertinggal. Semoga dia tidak kembali lagi untuk mengambilnya. Setelah yakin Mas Fauzi jauh, aku segera mengambil gawai itu. Alhamdulillah, tidak dikunci. Mungkin memang tidak ada hal yang patut ditutupi. Hal pertama yang kuperiksa adalah siapa yang dia telpon dini hari tadi. Aku memeriksa riwayat panggilan. Hanya ada satu nama pada panggilan keluar yang jamnya sesuai dengan tadi ketika terdengar suaranya menelepon setelah membuang diapers. Soleh! Aku menarik napas lega. Akan tetapi, jika menelepon Soleh kenapa harus sembunyi-sembunyi dengan gelagat yang mencurigakan? Apa aku yang pikirannya sudah terlampau curiga? Soleh. Aku tahu nama itu. Dia adalah orang yang mengenalkan sabung ayam pada Mas Fauzi. Dulu, beberapa bulan setelah kami menikah, orang ini pernah sekali dua kali bertamu. Kata Mas Fauzi dia rekan sesama kontraktor. Setelah beberapa kali Soleh ke rumah, Mas Fauzi mulai membeli dan mengoleksi ayam-ayam jago. Ia bahkan memesan dari pulau Jawa. Hari-harinya mulai disibukkan dengan mengurus hewan itu. Perhatian padaku perlahan hilang. Topik pembicaraan selalu ayam baik itu ketika teman datang ke rumah, di telepon, bahkan bertemu di jalan ketika sesekali ia terpaksa menemaniku keluar. Bosan sekali aku mendengarnya. Sabtu Minggu Mas Fauzi tidak pernah ada di rumah. Pulang selalu hingga larut malam. Membaca nama Soleh membuat hatiku kesal sendiri. Menurutku, nama itu yang telah merubah Mas Fauzi-ku. Sekarang Mas Fauzi perhatian kembali bahkan lebih manis dari sebelumnya, tidak rela rasanya jika dia kembali seperti beberapa waktu lalu. Memikirkan Soleh membuatku hampir lupa pada tujuan awal, mencari tahu tentang Erlin. Aku mengetik nama Erlin pada pencarian kontak. Tidak ketemu. Apa Mas Fauzi telah menghapusnya? Atau merubah namanya agar tidak ketahuan olehku? Kembali kutelusuri riwayat panggilan. Pasti ada nomor Erlin pada panggilan tak terjawab dini hari tadi. Tunggu! Ada yang janggal. Dahiku mengernyit. Pada panggilan tak terjawab dini hari tadi, mengapa menjadi nama Soleh? Mas Fauzi mengubah nama Erlin menjadi Soleh? Jadi benar tadi dia menelepon perempuan itu. Hatiku geram hingga tanganku mengepal. d**a terasa panas dan nyeri. Rasanya aku butuh samsak untuk meluapkan kekesalan. Foto profil w******p bernama Soleh itu memang seorang perempuan. Namun, tadinya kupikir itu istrinya. Ya Tuhan, Maaas. Kamu kenapa lagi? Baru saja kunikmati segala perhatianmu, sudah berulah lagi. Tanganku men-scroll kolom chat. Tidak ada chat terbaru atas nama Soleh. Segera kusalin nomor Soleh itu pada gawaiku. Setelah itu, gawai Mas Fauzi kuletakkan pada posisi semula. Khawatir jika dia tiba-tiba datang dan memergokiku, bisa-bisa misi gagal. Selanjutnya aku duduk santai di samping Aqmar yang terlelap. Harus kucari tahu siapa Soleh a.k.a Erlin. Foto profil w******p-ku segera kuganti dengan gambar Mas Fauzi. "Ping!" Sebuah chat kukirim pada nomor Soleh a.k.a Erlin yang di gawaiku tertulis Bapak 2. Agar jika nomor ini menghubungi ketika Mas Fauzi ada, dia tidak curiga. Tidak berapa lama langsung terlihat keterangan typing. Wow, gercep sekali. "Mas Fauzi?" Balasan dari seberang. Dadaku bergemuruh. Panas! "Iya." "Nomor baru?" "Iya. Lagi apa?" "Tadinya lagi sedih. Sekarang senang." "Sedih?" "Iya." "Sedih kenapa?" "Pura-pura lupa." Aku menarik napas kesal. Jelas ini bukan gaya chat laki-laki. Kuatur irama napas untuk menenangkan diri. "Maklum sudah tua." Balasanku selanjutnya disertai emoticon senyum dan tangan menangkup. "Tadi malam ada yang bilang jangan ngubungi untuk sementara." Untuk sementara? Ya Allah, kenapa d**a ini semakin berdenyut nyeri. "Hanya sementara!" balasku berpura-pura menegaskan. "Kalau aku kangen bagaimana?" Aku memegang dadaku. Kupukul-pukul pelan. Sesak sekali rasanya. "Ini sekarang sudah dihubungi." "Karena itu sekarang aku lagi senang." "Kenapa ngangenin suami orang?" Aku mulai tidak bisa mengontrol diri. "Suami orang yang katanya dulu mau cerai karena istri gak pernah memahami dan mendukung hobinya," balasnya dengan emoticon orang sedang meleletkan lidahnya. Dadaku kembali bergemuruh kencang. Frekuensi napasku meningkat karena emosi meninggi. Tangan kembali mengepal geram. Tega kamu, Mas! Tidak lagi kubalas chat perempuan itu. Pikiranku kacau. Ingin rasanya segera menyusul laki-laki itu ke kandang. Kemudian melabraknya dan menumpahkan semua kekesalan di hati. Bisa-bisanya dia bercerita pada perempuan lain ingin bercerai denganku. Jika pun ada yang layak punya niat bercerai, itu aku. Karena aku yang terzalimi selama ini oleh sikapnya. Namun, teringat pesan Ibu bahwa menyelesaikan suatu masalah harus dengan baik-baik dan dalam keadaan hati adem, aku memilih menahan diri. Kutarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan hati yang panas. "Jadi kapan aku boleh ngubungi Mas duluan kalau kangen. Bisa chat kapan saja seperti dulu?" Kembali pesan darinya masuk. Pesan tidak tahu malu. Rasanya aku ingin berteriak karena teramat kesal. "Kapan saja, tapi di nomor khusus ini, ya, dan jangan telepon. Biar aku saja yang telepon untuk memastikan aman," tulisku. "Sejak kapan takut sama Mama Dedeh." Balasnya dengan emoticon tertawa. Subhanallah. Aku digelari Mamah Dedeh? Tidak keberatan jika dalam perspektif bagus. Namun, ini pasti karena aku dinilai suka ceramah mengenai sabung ayam itu. Terlalu kamu, Mas! Rasanya ingin kubuat keprek mereka berdua. "Gak takut," balasku seolah pembelaan diri dari laki-laki itu. "Dari kemarin selalu bilang gak takut, hanya gak enak. Makanya, gak enak cepat kasi kucing." Subhanallah. Aku kembali mengurut d**a. Sampai di mana sabar ini mampu menahanku? "Masih banyak yang enak di luar sana, Mas," tulisnya lagi. Gemaaas. Rasa ingin kuremek-remek perempuan ini. "Termasuk kamu?" "Hehe," balasnya. Kali ini dengan emoticon pipi memerah. "Kok, tertawa?" "Yah, kalau Mas mau nyobain." Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kuputuskan tidak lagi meladeni chat perempuan itu daripada membuat hati semakin sakit. Kurendahkan tubuh dari posisi sebelumnya agar emosi cepat mereda. Sembari mengatur napas, aku memikirkan langkah yang akan diambil untuk menghadapi Mas Fauzi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD