Chapter 5: Yamada Tetsuya

1518 Words
Kana POV Pagi ini Kana bangun jauh lebih pagi dari biasanya, karena harus pergi ke kampusnya sebelum kembali memandu Tim Bara. Ini memang sudah memasuki libur musim dingin, tapi Profesor Yamada Tetsuya memintanya datang hari ini untuk membantu pekerjaannya. Profesor Yamada, begitu Kana biasa memanggilnya, adalah profesor termuda di jurusannya, Department of Global Business. Ia pernah diajar oleh profesor ini di semester pertamanya di Rikkyo University, jadi ketika semester berikutnya sang Profesor membuka lowongan asisten bagi mahasiswa S2 untuk kelas International Business S1, Kana mencoba melamar. Ia diterima, dan sepertinya Profesor Yamada terkesan pada pekerjaannya sehingga ia tetap dipekerjakan hingga sekarang. Ia juga diminta menjadi asisten di beberapa kelas lain sang profesor. Kana tentu senang bisa bekerja secara profesional di kampusnya, karena ia tidak perlu pergi jauh dan hanya perlu menyesuaikan jadwal kelasnya sendiri dengan jadwal kelas si profesor, agar selalu berada di hari yang sama. Bayarannya juga lumayan, dia hanya bekerja 8 jam seminggu di kampus tapi dibayar hampir 10 juta rupiah setiap bulannya. Jam 7.30, Kana keluar dari Stasiun Ikebukuro, dan berjalan kaki ke kampusnya. Ia mampir dulu ke salah satu konbini (mini market) dekat kampus untuk membeli onigiri (nasi kepal bulat), egg sandwich dan teh hijau, karena ia belum sempat sarapan. Jam 7.45 ia sudah duduk di kursi depan ruangan Profesor Yamada, yang masih dikunci. Mereka janjian bertemu jam 8, dan si Profesor biasanya selalu tepat waktu. Sembari menunggu, Kana menikmati onigiri isi tuna mayo nya. Iseng ia mencari nama Bara di youtube, penasaran ingin mendengar lagu Bara. Benar kata Tia, lagu-lagunya ternyata cukup enak. Suaranya juga bagus, dan yang terpenting Bara tidak alay. Gaya bermusik, lirik lagu, video klip, hingga gaya berpakaian dan gaya rambut, semua menunjukkan bahwa Ia benar-benar berkelas. Pantas saja ia sampai syuting video klip ke Jepang begini. “Morning,” Profesor Yamada tiba-tiba muncul, menyapa Kana. Karena Kana mengambil jurusan Global Business di Rikkyo University, bahasa Inggris adalah bahasa utama di semua kelasnya, kecuali kelas belajar bahasa Jepang tentunya. Dengan kemampuan bahasa Jepangnya yang lulus JLPT N2 (High-intermediate), Kana sebenarnya bisa mengambil kuliah full dalam bahasa Jepang, tapi ia lebih memilih ambil jurusan yang berbahasa Inggris karena merasa tidak kuat bila harus mengerjakan semua tugas terlebih tesisnya nanti dengan tulisan kanji. Bahasa Jepang jadi ia pergunakan di kehidupan sehari-hari dan untuk bekerja sambilan, sementara di kelasnya di kampus ia tetap memakai bahasa Inggris. “Ah, Good morning, professor.” Kana menutup kembali onigirinya dan baru akan memasukkannya ke dalam tas, ketika si profesor menghentikannya. “You can finish your breakfast first.” Profesor Yamada tersenyum tipis, lalu membuka pintu ruangannya dan masuk duluan. Kana menggumamkan terima kasih, dan cepat-cepat menghabiskan onigirinya. Setelah meneguk teh hijau pahitnya dan mengelap bibirnya, memastikan tidak meninggalkan sampah di tempat duduk, ia akhirnya masuk ke dalam ruangan sang profesor. Di dalamnya, profesor Yamada sedang fokus dengan komputernya di balik meja kerjanya. Ia menggestur Kana untuk duduk di sofa, dan Kana mengangguk. Sesekali ia memperhatikan profesornya itu. Meski titelnya sudah profesor, Ia masih sangat muda, umurnya mungkin belum 35 tahun. Dengan rahang yang tegas, dagu terbelah dan mata sipit, sekilas si profesor mirip dengan aktor Jepang terkenal, Hiro Mizushima. Bila sedang diam, ia terlihat galak dan menakutkan, dan di kelas juga ia jarang bercanda, tidak suka basa-basi dan selalu serius dengan mahasiswanya. Tidak banyak yang tahan mengambil kelas apalagi menjadi asistennya. Tapi Kana tidak pernah merasa takut dengan si profesor, karena baginya beliau adalah orang yang profesional dalam bekerja, dan aslinya tidak segalak yang dibilang orang. Kana betah menjadi asistennya, kerjanya tidak berat, sesuai dengan jurusannya, lokasinya di kampus, dan bayarannya lumayan. (Note: untuk selanjutnya, percakapan antara profesor Yamada dan Kana menggunakan bahasa Inggris). “Maaf ya saya meminta kamu datang di pagi hari, saat libur begini.” Profesor Yamada membuka percakapan, sembari berpindah ke sofa di seberang Kana, membawa setumpuk kertas hasil ujian. “Tidak apa-apa, profesor.” Kana tersenyum, memperhatikan tumpukan kertas yang diletakkan si profesor di atas meja. “Bisa tolong periksakan hasil ujian kelas Intercultural Management ini sesuai kunci jawaban? Kemudian masukkan datanya melalui laptop ini.” Profesor Yamada menjelaskan pekerjaannya, lalu memberikan laptop cadangannya. Kana mengangguk, dan mulai bekerja. Dia sudah beberapa kali melakukan hal ini. Sementara itu, sang profesor kembali ke balik meja kerjanya. Berdua mereka bekerja dalam diam. Kana memang suka ngobrol, biasanya tidak tahan diam lama-lama, tapi kalau sedang bersama sang profesor, ia benar-benar menahan diri agar tidak terlalu banyak bicara. Ia tahu profesornya ini pelit bicara, terutama saat sedang bekerja dengan komputernya. Ia takut mengganggu kalau kebanyakan ngomong dan bisa-bisa tidak dijadikan asistennya lagi. Jadi Kana selalu berusaha bekerja dengan serius, di dalam ruangan maupun saat di kelas. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 9 lewat 15. “Sudah selesai, profesor.” Jawab Kana, mengembalikan semua kertas ke atas meja, dan membawa laptop kembali ke meja kerja si profesor. Dengan cepat, profesor mengecek hasil input datanya. “Oke, bagus. Kamu boleh pulang.” “Baik, terima kasih, profesor.” Kana menundukkan kepalanya lalu mengemasi barang-barangnya. “Langsung ke asrama?” Tumben sekali, si profesor berbasa-basi padanya. “Tidak.” Kana menggeleng. “Saya ada kerja sambilan jadi interpreter di Shibuya, janjian jam 10 ini.” Senyum Kana. “Biar kuantar.” “Eh?” Tetsuya POV Kana tampak kaget ketika ia menawarkan akan mengantarnya. Tetsuya pun tidak percaya ia akhirnya berani juga menawarkan hal itu, setelah tiga semester ia mengenal Kana, ia selalu menjaga jarak. Tapi sejam terlalu cepat untuknya setelah seminggu tidak bertemu, ia masih ingin bersama gadis manis asal Indonesia itu. Sekali saja, tidak apa. Begitu pikir Tetsuya. “Tidak perlu, profesor.” Tolaknya halus. “Shibuya cuma sekali kereta saja kan dari sini.” “Di luar hujan, dan sepertinya kamu tidak bawa payung.” Tetsuya mengalihkan pandangannya ke arah jendela, yang sedang hujan rintik. Ia lalu mematikan komputernya, dan mengenakan jaketnya. “Ayo,” Ajaknya pada Kana, yang akhirnya mengangguk juga, mungkin tidak enak mau menolaknya. Berdua mereka berjalan keluar ruangan Tetsuya, masuk ke dalam lift dan turun ke basement gedung kuliah yang sedang sepi ini. Tetsuya mengarahkan Kana ke mobil Honda N-Boxnya yang berwarna putih, menyuruh Kana duduk di kursi penumpang. Kana menurut dan langsung memasang sabuk pengaman. “Kemana?” Tanya Tetsuya pendek ketika mobilnya keluar dari basement. “Shibuya Stream Hotel, profesor.” “Ok.” Tetsuya menyalakan GPS mobilnya, memasukkan nama hotel yang disebut Kana. Kemudian Tetsuya menyetir mobil dalam diam. Sesekali ia melirik Kana dari kaca tengah. Perempuan ini tampak gugup, dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, tidak sadar bahwa Tetsuya memperhatikannya. Hari ini Kana terlihat cantik, mengenakan trench coat warna hitam dengan boots berhak rendah senada. Rambutnya diikat ekor kuda. Kana tidak pernah tahu, Tetsuya sebenarnya terpikat padanya sejak lama. Ketika Kana mengambil kelasnya hampir dua tahun lalu, ia langsung tertarik pada Kana yang manis, pintar dan ceria di kelas. Saat ia membuka lowongan asisten untuk mahasiswa S2, betapa senangnya Tetsuya ketika Kana menjadi satu dari sedikit pelamar. Tidak banyak mahasiswa S2 jurusannya mau menjadi asistennya karena ia terkenal strict dan galak, tapi Kana tampak tidak gugup saat diwawancara dan mampu mengalahkan semua saingannya di bidang akademis. Terlepas dari ketertarikan awalnya, Tetsuya memilihnya karena Kana kandidat terbaik, dan pilihannya memang tepat. Kana bekerja sangat baik. Dalam istilah Jepang, Kana yaruki ga aru, alias punya niat kuat bekerja. Tetsuya bahkan terpikir untuk menawarkannya posisi tetap di kampus saat Kana lulus nanti. Meski punya perasaan khusus pada Kana, Tetsuya belum berminat menyatakan pada Kana, apalagi mengajaknya berpacaran. Banyak hal yang mendasari keputusannya ini. Pertama karena ia tidak ingin ada rumor buruk berkembang dan merusak reputasinya dan juga Kana di kampus. Kedua, ia tidak ingin membuat hubungannya dengan Kana menjadi canggung bila Kana menolaknya. Ketiga, ia dan Kana berbeda kewarganegaraan, pastinya banyak perbedaan di antara mereka yang tidak siap ia hadapi. Terakhir, ia tidak tahu apa yang Kana inginkan saat ini. Sekedar pacarankah? Atau hubungan serius ke arah pernikahan? Setahunya orang Indonesia banyak yang konservatif, dan mungkin Kana termasuk ke dalam tipe yang seperti itu, karena ia tidak pernah melihat Kana berpacaran. Ia cuma tahu teman Kana memang banyak. Dan Tetsuya saat ini tidak ingin menikah dulu, apalagi dengan warga negara asing seperti Kana. Ia merasa ia masih terlalu muda, ia masih ingin mengembangkan karirnya, tidak mau terikat tanggung jawab jadi kepala keluarga. Tetsuya sudah cukup puas menghabiskan waktu dengan Kana seperti ini, dan di luar sana ia tetap nge-date sana sini dengan bebas, tanpa ikatan resmi. “Maaf, profesor. Sudah merepotkan.” Ucap Kana ketika mereka memasuki parkiran depan lobi hotel. Hujan sudah berhenti, langit cerah kembali. “Tidak masalah, kan aku yang menawarkan.” Balas Tetsuya. “Selesai jam berapa? Biar ku jemput.” Tetsuya menawarkan lagi. Kana lagi-lagi terperangah, lalu menggeleng cepat. “Tidak perlu, profesor. Saya bisa pulang sendiri.” “Baiklah.” Tetsuya mengiyakan, tidak ingin memaksa dan malah membuat Kana curiga. Kana lalu keluar dari mobilnya, dan membungkukkan badannya hormat padanya sembari mengucapkan terima kasih. Tetsuya melambai acuh. Ia baru akan memacukan mobil keluar dari lobi ketika ia melihat seorang lelaki tinggi mendekati Kana, dan Kana tersenyum begitu cerah saat melihatnya. Siapa dia? Tetsuya bertanya dalam hatinya, sedikit cemburu melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD