BAB 22 – Hasrat Tertahan

1201 Words

Aku tidak habis pikir, mengapa bang Putra mau menjemputku malam-malam dan hujan seperti ini. mungkin atas desakan mbak Nurul. Aku begitu canggung di sini. Berada di atas mobil berdua saja dengan suamiku. Bahkan lebih canggung dari pada ketika aku berdua saja dengan pak irfan atau rekan kerja lainnya. Ini perasaan yang berbeda.             “Maaf, apa abang yang sudah menjemput anak-anak?” Pertanyaanku memecah keheningan. “Ya, tadi kulihat kau berhenti di depan sebuah toko. Jadi aku memutar balik mobil untuk menjemput anak-anak. Kasihan kalau nanti mereka kehujanan.” Bang Putra bicara tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. “Terima kasih bang.” Aku kembali menundukkan pandanganku. “Itu sudah kewajibanku, bukankah mereka sekarang adalah anak-anakku juga.” Pernyataan bang Putra membuat jantun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD