POV Author (POV 3). 2020, ruang keluarga rumah Nurul. Windy tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari bibir Nurul. Nurul menceritakan semua masa lalu dengan deraian air mata. Wanita itu terisak-isak menahan sesak di dadanya. “Maaf mbak, maaf jika pertanyaan Windy malah membuat mbak tersiksa.” Windy memeluk Nurul, mencoba menenangkan batinnya. “Tidak masalah Windy, sudah sepatutnya dirimu tau semuanya. Mbak kira mas Putra akan berubah seiring dengan perubahan mbak. Mbak kira, mas Putra akan menyadari kesalahan masa lalunya, karena Allah sudah memberikan hukuman yang banyak kepada kami berdua.” Nurul menarik nafas panjang. Netranya menerawang menatap gelas kosong yang ia pegang. “Mbak tidak boleh bicara seperti itu.” “Tapi, itulah kenyataannya. Maafkan kalau mbak sudah men

