Hari Kelulusan dan Lembar Baru

1764 Words
Hari kelulusan akhirnya tiba. Setelah sepekan berjuang dalam ujian nasional, semua siswa kelas tiga menikmati keberhasilan mereka. Tidak ada tradisi coret-coret seragam. Angkatan tahun ini memiliki program donasi seragam sekolah untuk siswa-siswa di luar sana yang membutuhkan. Maka, sejak pagi sekolah sudah ramai oleh para siswa kelas tiga yang membawa semua seragam yang mereka miliki dan memasukkannya ke kotak yang sudah disediakan oleh panitia. Pihak sekolah pun mengizinkan mereka untuk datang memakai pakaian biasa. Para orang tua juga turut datang menemani anak-anak mereka. Banyak yang saling bertukar hadiah seperti boneka, buket bunga, buket cokelat, dan lain sebagainya. Airin adalah orang yang paling banyak menerima hadiah-hadiah tersebut. Tak hanya dari siswa, beberapa siswi pun memberikan hadiah untuknya. Dia benar-benar kebanjiran sampai bingung bagaimana cara membawanya pulang nanti. Niko, siswa yang sempat berkelahi dengan Ryan untuk memperebutkan Airin, menggunakan kesempatan hari ini untuk menyatakan cinta pada gadis itu. Sekolah menjadi riuh. Sorak-sorakan 'Terima … terima' menggema di mana-mana. Setelah Ryan memutuskan untuk berpacaran dengan Manda, tak ada lagi yang berani menghalangi Niko untuk mendapatkan gadis pujaannya. Bagaimanapun, dia yang punya kualifikasi paling baik untuk mendapatkan Airin. Semua orang setuju akan hal itu. Saat Airin mengangguk dan tersenyum, sorakan menjadi semakin riuh. Semua orang terlihat ikut berbahagia atas pasangan baru itu. Namun, ternyata tidak semua orang berhati lapang seperti itu. Tetap saja ada suara-suara sumbang yang mengatakan betapa bodohnya Ryan melepas Airin demi seorang gadis seperti Manda. Kalau ditanya, pasti Airin akan lebih memilih Ryan daripada Niko. Mereka menganggap Ryan telah membuang permata indah demi sebuah batu sungai biasa. Ucapan-ucapan itu pun sampai ke telinga Manda. Well, susah untuk tidak mendengar hal-hal tersebut karena semua orang di sekolah ini sangat suka bergosip. Kalau tidak, mana mungkin Manda mengalami perundungan selama hampir tiga tahun lamanya. Yang tidak tahu duduk permasalahannya pun ikut-ikutan. Sama juga seperti Ryan yang memutuskan untuk berpacaran dengan Manda. Memangnya mereka tahu apa? Kok, sok-sokan mengambil kesimpulan? "Kamu nggak apa-apa, Nda?" "Hmm …." gumam Manda saat sedang menyeruput jus jeruknya. Manda dan mama sedang menikmati bakso di kantin sekolah setelah upacara kelulusan. "Kamu nggak masalah, dikatain begitu?" Mama memperjelas pertanyaannya. "Oh … nggak apa-apa, kok, Ma. Udah biasa," jawab Manda sambil menyengir. "Kalau kamu izinin, Mama mau ngelabrak mereka semua. Biar pada tau belajar sopan santun." Manda menggeleng. "Nggak usah, deh, Ma. Habis ini juga mudah-mudahan udah nggak ketemu lagi sama mereka. Biarin aja mereka dengan pemikiran jelek mereka sendiri." Mama tersenyum. Manda memang bersikap dan berpikiran lebih dewasa dari gadis-gadis seusianya. "Mereka memang nggak akan pernah capek. Tapi, nanti pasti akan lupa juga ketika mereka udah punya kehidupan masing-masing." Mama setuju lagi akan hal itu. Lagi pula, Manda memang tampak tak pernah ambil pusing dengan rundungan yang dia terima. Prinsipnya, jangan meladeni orang-orang bodoh karena kamu akan ikut menjadi bodoh. "Loh, pacarnya Ryan, kok, nggak ada dapat buket dari Ryan, ya? Anak kelas satu dan dua yang lain aja banyak yang datang untuk ngasih hadiah ke senior-seniornya. Kalian beneran pacaran atau cuma—" PLAK Belum selesai Manda dan mama mendengar ucapan seseorang di hadapan mereka, keduanya sudah dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang tak biasa. Airin menampar siswi yang ingin mengejek Manda. "Udah lulus, lo masih belum move on juga? Lo nggak punya kehidupan di real life atau kehidupan lo semembosankan itu sampai-sampai Manda selalu jadi bahan ejekan lo? Udah syukur Manda diam aja selama ini. Kalau dia mau, ngehajar mulut sialan lo itu gampang banget buat dia!" Mulut Manda menganga lebar. Ini pertama kalinya Airin bertindak di luar dugaan seperti ini. "Emangnya kenapa kalau Ryan nggak datang hari ini buat ngasih ucapan selamat ke Manda, hah? Ngaruh ke hidup lo emangnya? Atau lo iri karena Ryan lebih milih Manda ketimbang upik abu kayak lo?" Siswi yang ditampar Manda mulai terisak. Bukan hanya Manda, sepertinya dia juga tidak mengira bahwa akan diperlakukan seperti ini. Para siswa yang lain pun mulai mengerubungi dan ingin tahu apa yang terjadi. "Dih, lemah! Baru digituin aja udah mau nangis. Gimana dengan Manda yang selama sekolah kalian gituin? Kalian semua nggak pernah mikirin perasaan dia, 'kan?" pekik Airin seraya menunjuk ke semua orang yang satu per satu mulai hadir di situ. Semuanya terdiam, beberapa bahkan menunduk. Merasa malu dengan perbuatan yang mereka lakukan. Bagaimanapun, Airin adalah idola sekolah. Pernyataannya hari ini mampu membuat orang-orang tertampar dan menyadari perbuatan buruk mereka. "Rin, udah …." pinta Manda. Airin mendengar dan menghela napas panjang, berusaha meredakan emosi. Manda dan mama kemudian mengajak Airin keluar dari kerumunan. Semua orang memberikan jalan, tak sedikit yang bergumam, "Maaf, ya, Manda." Akan tetapi, Manda acuh saja. Airin mengikuti Manda dan mamanya masuk ke mobil. Dia diajak ikut ke rumah Manda dan menurut. Di perjalanan, dia menelepon Niko untuk memberitahukan hal tersebut. "Jadi, ini yang namanya Airin, ya?" tanya mama seraya melirik dari kaca spion tengah. Airin mengangguk pelan dan tersenyum. "Benar, Tante. Senang banget bisa ketemu sama Tante hari ini." Mama Manda tertawa ramah. "Tante juga senang bisa ketemu sama kamu." Air muka Airin mendadak berubah. "Tapi, kan, gara-gara Airin, Manda jadi sering di-bully. Memangnya Tante nggak marah?" Suasana sempat hening dan canggung sejenak. Namun, mama Manda tidak membiarkannya terlalu lama. "Karena Manda santai aja, ya kenapa Tante harus sewot, 'kan? Manda ini anaknya kuat, jadi, kamu nggak perlu khawatir, ya," jelas mama Manda. "Tapi, tetap aja Airin merasa nggak enak, Tante." Ucapan yang keluar dari mulut Airin terdengar penuh penyesalan. Sejujurnya, dia merasa tak pantas bertatap muka dengan mama Manda karena dia adalah penyebab dari suramnya masa sekolah Manda. "Tante ini psikolog, Rin. Tante yang paling paham, kalau Manda justru lebih senang di-bully daripada nama kamu yang jelek di sekolah. Lagian Tante rajin ngecek kondisi kejiwaan Manda and she's always fine." "Bener, Rin." Manda akhirnya ikut dalam pembicaraan. "Aku beneran nggak masalah, kok. Kalau memang aku nggak nyaman, pasti dari dulu aku udah pindah sekolah. Aku sekolah di situ emang buat cari ilmu, jadi, nggak peduli sama perlakuan orang lain." Airin tak pernah tak bersyukur sejak ditolong oleh Manda dulu. Dia merasa beruntung bisa mengenal Manda walaupun tak bisa dekat dengannya. Dia merasa menyesal juga karena tidak menjaga hubungan baik dengan Manda. Harusnya dia masa bodo saja dengan para siswa lain, tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. "Ayo, mampir dulu, Rin. Nanti Tante anterin pulang," ajak mama Manda. Airin mengangguk kikuk, tetapi tetap menerima tawaran mama Manda. "Baik, Tante." Ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Manda dan Airin dikejutkan dengan teriakan dari dalam rumah. "Congratulations!" Suara terompet kertas pun menambah keseruan dari kejutan yang disiapkan oleh murid-murid kursus Manda. Mama yang sudah tahu mengenai kejutan ini pun bertepuk tangan. "Selamat, ya, Kak Manda!" ucap mereka berbarengan. Setelah melihat kehadiran Airin, mereka pun melanjutkan, "Selamat juga buat Kak Airin!" Airin masih terpaku dengan sesuatu yang tak terduga ini. Ryan kemudian maju dan memberikan sebuah buket bunga segar kepada Manda. "Selamat lulus, Manda. Semoga ilmu yang kamu dapat selama SMA bermanfaat. Aku doakan yang terbaik buat kamu selalu." Manda terharu. Tak sadar dia menangis, membuat orang-orang panik. "Loh, kenapa nangis?" tanya Ryan yang merasa telah melakukan kesalahan. Manda menggeleng. "Aku senang banget. Beneran nggak nyangka ada yang ngasih aku hadiah kelulusan. Makasih, ya, buat kalian semua." Semuanya merasa lega dan tersenyum. Mereka kemudian menghampiri Manda dan memberikannya pelukan. Ucapan-ucapan selamat terdengar berkali-kali di telinga Manda. Dia benar-benar merasa bahagia. "Udah, Kak, jangan sedih lagi. Kami semua sayang sama Kakak. Aku udah dengar kejadian di sekolah tadi dari temen-temen yang datang ke sana. Kakak nggak usah peduliin omongan mereka karena kami semua di sini tau orang seperti apa Kakak sebenarnya," pujuk Lisa. Dia memberikan sebuah boneka beruang besar untuk Manda. "Ini, buat nemenin Kakak tidur." Manda tertawa di antara tangisnya. "Makasih, Lisa." Dia kemudian memeluk juniornya itu. Anak kelas satu yang lain pun bergantian memberikan hadiah untuk Manda. Gadis itu menerimanya dengan sukacita. "Maaf, Kak Airin. Kami nggak tau Kakak mau datang, jadi, nggak ada yang nyiapin hadiah buat Kakak," ucap Lisa. Airin menggeleng, lalu tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Aku juga udah dapat banyak tadi di sekolah." Lisa celingak-celinguk. "Kakak taruh di mana? Kok, aku nggak lihat." "Niko yang bawa pulang," jawab Airin. "Oh, iya! Tadi aku juga dapat kabar kalau Kakak udah jadian sama Kak Niko. Wah, dobel selamat, ya, Kak!" ucap Lisa. Airin tertawa. Anak kelas satu yang lain pun memberikan selamat. Hari itu benar-benar hari kelulusan terbaik yang pernah Manda dan Airin alami. … Masa kuliah Manda berbanding terbalik 180 derajat dengan saat SMA dulu. Dia menemukan banyak sekali teman-teman yang baik. Tidak hanya yang tinggal sekota, dari perantauan juga. Dia dan teman-temannya sangat suka berkumpul di kos salah satu teman yang merupakan anak perantauan. Tak hanya teman, Ryan pun menjadi penyemangat utamanya. Pemuda yang masih berstatus siswa SMA itu sangat sering mengantar-jemput Manda ke kampus atau ke kos teman Manda. Hal ini membuat gosip beredar di kampus. Si cantik Manda berpacaran dengan anak SMA. "Itu beneran pacarmu? Bukan adeknya?" "Bukan. Emang pacaran sama bocil dia." "Lah, sayang banget, nggak, sih? Maksudnya, kan, di kampus ini banyak cowok cakep. Dari yang seangkatan sampai yang senioran. Beberapa dari mereka juga naksir sama Manda, 'kan? Masa lebih milih pacaran sama anak-anak, sih?" "Tau, tuh! Kayak nggak ada yang lebih dewasa aja." Manda menghela napas saat salah satu teman kuliahnya menyampaikan ucapan orang-orang tersebut padanya. Dia kemudian geleng-geleng. Di mana-mana yang namanya gosip memang sangat meresahkan. "Mereka, tuh, nggak tau apa-apa soal Ryan," kata Manda. "Jangan kasih tau, Nda. Yang ada ntar malah mereka nikung. Cewek-cewek jaman sekarang, mah, suka merebut pasangan orang." Manda tertawa. Betul juga. Buat apa Manda menjelaskan ke orang-orang tentang Ryan? Belum tahu saja mereka sesetia apa Ryan sebagai seorang laki-laki. Suatu hari, anak kampus dibuat kaget dengan kehadiran Ryan yang menjemput Manda memakai pakaian kasual. Semuanya terkejut akan ketampanan dan kegagahan Ryan. Tak ada satu pun yang menyangka bahwa orang yang mereka lihat saat ini adalah siswa SMA. Tak hanya mahasiswi baru, para mahasiswi senior pun terpukau melihat Ryan. Mereka menjilat ludah sendiri. Saat berpakaian kasual seperti ini, Ryan terlihat lebih dewasa dari kebanyakan mahasiswa senior di kampus ini. Sepertinya penilaian mereka terhadap selera Manda salah besar. "Udah siap kuliahnya?" tanya Ryan yang tidak memedulikan tatapan kagum orang-orang padanya. Manda yang tidak sadar akan kehadiran Ryan cukup kaget mendengar suaranya. "Loh, kamu, kok, nggak kasih tau udah jalan?" Ryan tersenyum, membuat para gadis klepek-klepek tanpa bisa dikendalikan. "Kejutan." Manda tersenyum dan memukul pelan d**a Ryan. "Ayok, jalan," ajak Ryan. "Ayok!" Manda meraih tangan Ryan yang terulur lalu berjalan dengan berpegangan tangan dan diperhatikan oleh semua orang yang ada di sana. Senyum gadis itu merekah lebar saat Ryan menatapnya. Langkah mereka meninggalkan jejak-jejak iri yang tak tampak, tetapi bisa dirasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD