Dua hari berlalu setelah pembicaraannya bersama Zidan waktu itu, Arsyah sampai hari ini memikirkan apa yang di katakan oleh Zidan. Sejujurnya selama ini dia tak pernah terlibat dalam hal apapun yang berhubungan dengan perempuan.
Menurut Arsyah, jika berurusan dengan perempuan itu membuat kepalanya pusing. Sama seperti ibunya yang selalu membuat dia pusing hanya karena masalah sepele, misal memakai pakaian yang mana untuk ke acara pernikahan anak temannya, dari satu lemari yang berisi pakaian, ibunya selalu bilang tak memiliki pakaian untuk di gunakan pada acara tertentu, dan Arsyah meski terlihat pendiam dan sabar, dia juga bisa kesal.
Dan sekarang dia harus berurusan dengan namanya perempuan, lagipula dia juga tak tahu gadis seperti apa Agatha yang di katakan oleh Zidan.
Agatha, sekali lagi nama itu tampak tak asing. Arsyah sadar jika nama pemenang ketiga kemarin adalah Agatha juga, kenapa dia merasa dua orang bernama Agatha itu adalah satu orang yang sama.
Apakah ini hanya perasaanya saja?
Tidak mungkin seperti itu kan?
Soal kepindahannya di semester nanti ke sekolah yang ternyata sekolah kakaknya, Elvan. Kedua orang tua Arsyah malah setuju karena bisa memantau di satu sekolah yang sama antara Elvan dan Arsyah nantinya.
Arsyah pikir ini juga ada rayuan dari Zidan, siapa lagi yang selalu berhasil mengambil hati orang tuanya apalagi ibu mereka. Mau tak mau Arsyah pun akan melakukan hal itu, pindah dan berada di lingkungan yang baru. Lingkungan lama saja dia masih susah untuk adaptasi apalagi lingkungan baru, kenapa Zidan membuat dia berada di posisi seperti ini.
**
"Jadi lo bakalan pindah sekolah di semester baru nanti?" tanya Alka yang di angguki oleh Arsyah.
Kali ini mereka sedang berada di sebuah cafe, ada Arsyah, Alka dan juga Algi. Mereka memang selalu menghabiskan waktu bertiga terutama di cafe seperti ini, bukan untuk membuang uang karena nongkrong di cafe, tetapi tempat ini memang milik mereka, hasil tabungan ketiganya yang kemudian ingin menjalani bisnis meski masih sekolah.
Tak ada yang tahu tentang bisnis kecil yang telah lama di rintis oleh mereka bertiga, lagipula mereka juga tak ingin ada orang yang tahu termasuk dengan orang tua dan keluarga mereka sendiri.
Mereka ingin mengelola dan merintis bisnis kafe ini dengan kerja sama bertiga meski memang modal awal yang mereka pakai juga uang jajan dari orang tua mereka tetapi tetap saja mengumpulkan modal itu lumayan memakan waktu.
"Kalau kaya gitu sih, mendingan kita sekalian pindah aja. Lagian gak asyik banget nanti gue cuma berdua sama ini anak," ucap Alka sambil melirik Algi yang saat ini sedang bermain game.
Algi yang merasa di perhatikan mematikan gamenya dan menatap balik Alka yang terseyum mengejek.
"Gue juga ogah berdua sama lo!"
"Nah kalau gitu gampang, tinggal pindah aja kita," ucap Alka lagi.
"Gimana?" tanya Algi, kali ini memandang ke arah Arsyah.
"Ya terserah kalian aja."
"Cocok!" seru Alka dan Algi bersamaan.
**
Hari ini Zidan menghubungi Agatha dan mengatakan akan menjemput gadis itu di rumahnya. Zidan ingin berbicara berdua dengan Agatha untuk mengatakan tentang dirinya yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Zidan tahu dia dan Agatha tak memiliki hubungan apapun selain teman saja, tetapi karena dia juga merasakan bagaimana perasaan Agatha padanya, akhirnya Zidan ingin Agatha tahu tentang hal ini.
Zidan akan mengatakan kepada Agatha kalau dia akan kuliah di Jepang, Zidan juga ingin Agatha tak terus menerus mengharapkan dirinya.
Karena bagaimana pun perasaan Zidan pada Agatha tak akan pernah berubah dan Zidan tahu selama ini dia sudah salah, memberikan harapan kepada Agatha dengan memberikan perhatian lebih pada gadis itu. Zidan merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.
Tetapi perasaan memang tak bisa di atur dan sudah lama hatinya di miliki oleh gadis lain. Seseorang yang saat ini berada di negeri sakura, itu mengapa Zidan ingin sekali melanjutkan kuliahnya di sana karena Zidan ingin mengejar cinta pertamanya.
Ya cinta pertama, seorang gadis yang saat masa SMP dekat dengan dia namun gadis itu pergi begitu saja sampai akhirnya Zidan menemukan keberadaan gadis yang dia cinta, saat ini berada di Jepang.
"Kita mau ke mana?" tanya Agatha setelah keluar rumah dan menghampiri Zidan yang menunggunya di depan rumah.
Agatha sudah meminta ijin pada kedua orang tuanya, termasuk pada Rian juga. Pergi sebentar dengan Zidan dan beruntung bagi Agatha karena Rian memberikan ijin meski dengan catatan tidak boleh lebih dari tiga jam. Mau tak mau Agatha pun setuju dengan permintaan kakaknya itu.
"Deket sini aja, aku ada hal yang mau di omongin sama kamu," ucap Zidan.
"Oke, kak Rian juga bilang jangan lebih dari tiga jam," keluh Agatha membuat Zidan terkekeh. Sudah bisa di tebak oleh Zidan karena Rian memang begitu.
Akhirnya mereka memilih untuk berjalan kaki karena tujuan mereka hanya pergi ke taman dan lokasi taman tak jauh dari rumah Agatha. Sepanjang jalan Agatha terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan Zidan katakan kepadanya karena tak seperti biasa dan terlihat begitu penting. Entah kenapa perasaan Agatha juga tak enak, membuat dia semakin penasaran saja dengan apa yang akan di katakan Zidan.
Tak lama mereka sudah sampai di taman, kali ini tampak sepi. Zidan mengajak Agatha duduk di kursi dekat pohon yang rimbun. Sebenarnya sedari tadi Zidan juga berpikir bagaimana cara menyampaikan semua kepada Agatha.
"Jadi ada apa kak?" tanya Agatha setelah mereka cukup lama terdiam.
"Sebentar lagi aku lulus, rencana aku kuliah juga karena dapat beasiswa." ucap Zidan membuat Agatha mengangguk merespon perkataannya.
"Bagus dong, apalagi kakak dapet beasiswa. Agatha juga mau dapet beasiswa karena berprestasi."
"Kamu juga pasti bisa," ucap Zidan tersenyum.
"Terus kakak kuliah di mana? Kayanya seru deh kalau bisa satu kampus nanti, terus ketemu di kampus sering gitu dari pada sekarang yang jarang ketemu," cerocos Agatha.
"Aku kuliah ke Jepang, Ta."
Agatha terdiam. Jepang? Dia salah dengar kan?
"Ta," panggil Zidan.
Agatha menatap Zidan dengan tatapan sendu. Rasanya seperti hampa, Agatha tak tahu harus senang, marah, sedih atau kecewa. Agatha juga tak bisa melarang Zidan akan melanjutkan pendidikan ke mana.
Siapa Agatha untuk Zidan?
Agatha hanya teman Zidan tak lebih kan.
Zidan melihat Agatha yang diam namun setelahnya gadis itu tersenyum kecil, dia tahu Agatha begitu terkejut dan merasa kecewa dengan apa yang Agatha dengar.
"Selamat ya kak, kak Zidan hebat bisa dapet beasiswa ke Jepang. Agatha ikut seneng dan semoga persiapannya lancar sampai berangkat nanti," ucap Agatha mencoba untuk tersenyum meski dia ingin sekali menangis.
Agatha merasa dia satu langkah lagi bisa semakin dekat dengan Zidan dan mungkin bisa menjadi kekasih Zidan. Tetapi nyatanya, Agatha dan Zidan malah akan menjauh, mungkin semakin menjauh karena sebuah jarak di antara mereka. Belum lagi Agatha tak pernah tahu bagaimana perasaan Zidan padanya sampai detik ini.
Apakah Agatha hanya cinta sendirian?
"Makasih, Ta. Kamu juga tetap semangat soalnya udah mau kelas tiga terus kuliah. Dua tahun gak akan terasa, tahu-tahu nanti jadi mahasiswa."
Agatha mengangguk, "Iya aku juga akan semangat biar bisa kuliah di kampus impian aku, walau gak ke luar negeri."
Tanpa diduga Zidan menarik Agatha ke dalam pelukannya membuat gadis itu menegang. Tetapi kemudian membalas pelukan Zidan dengan begitu erat.
"Aku sayang kamu, Ta. Kamu itu udah kaya adik cewek buat aku. Selalu denger cerita aku, keluh kesah aku, kamu juga selalu ada buat aku. Makasih ya buat semuanya," ucap Zidan masih memeluk Agatha.
Agatha lagi-lagi terdiam. Begitu tertampar dengan perkataan Zidan. Adik? Jadi selama ini di mata Zidan dia hanyalah seorang adik perempuan saja, bahkan rasa sayang pun hanya sebatas itu. Bukan perasaan seperti dirinya pada Zidan, rasa menyayangi antara perempuan dan laki-laki.
Selama ini dia benar-benar jatuh cinta sendirian?
**
Patah hati sebelum sempat memiliki.