[ 10 ] Summit Attack!

1478 Words
Rombongan Mapala UPKI, tanpa Sinta, dan Anto. Terus melanjutkan perjalanan melewati batas vegetasi, atau batas tumbuhnya tumbuhan. Setelah beberapa waktu akhirnya mereka tiba di Cemoro Tunggal, yang merupakan kaki dari Puncak Semeru. Selagi mereka beristirahat seraya mengatur napas sebelum kembali berjalan, Tanto memberikan sedikit wejangan lagi.              “Kawan-kawan, sebentar lagi kita akan menjejakkan kaki di Puncak Gunung Tertinggi di Pulau Jawa ini. Demi keselamatan kita bersama, saya kembali mengingatkan. Tanah yang akan kita pijak nantinya, terdiri dari debu vulkanik, dan batuan gunung. Konturnya tidak padat dan rawan longsor. Jadi, saya minta kalian semua waspada terhadap bebatuan, karena bisa mengakibatkan malapetaka ketika kita atau orang lain berpijak di atasnya. Untuk kalian yang merasa tidak sanggup untuk melewatinya maka saya sarankan untuk tinggal di sini. Percayalah, Puncak Semeru tidaklah mudah untuk ditaklukkan.”   “Sudah sampai sini mosok mundur, Mas. Jangan nakutin gitu, ah!” seloroh Ragil. “Bukan menakuti, Gil. Ini semua demi keselamatan bersama. Lebih baik mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” sahut Zaki menyambung pembicaraan sambil menatap semua anggotanya. “Bagaimana?  Apakah ada yang ingin tinggal saja?” tanya Tanto. Mata setiap anggota satu sama lain saling beradu memandang. Awalnya dengan tatapan penuh keraguan. Lalu beberapa mulai mengalihkan pandangan, menatap kokohnya Gunung yang berada di depan mata itu, sungguh sangat menantang. Mereka sebetulnya tak memerlukan waktu lama untuk berpikir, selang beberapa detik kemudian satu persatu mengeraskan rahang, dan mengangguk-angguk mantap. “Kami akan naik terus, Mas, Kak.” Gilang pun berkata tegas, yang lain pun mengiakan, tak terkecuali Indri. Menatap sunrise dari puncak tertinggi di Pulau Jawa ini, adalah impian para pendaki. Baik yang masih hidup maupun juga bagi mereka yang telah terkubur bersama gunung ini. Oleh karena itu, mereka meyakinkan diri, bahwa pantang menyerah sebelum kalah. Setelah memantapkan diri, dan rombongan. Tanto, kembali memimpin untuk summit attack.  Mereka pun mulai berjalan naik. Namun, benar kata Tanto, Semeru tidak semudah itu untuk tunduk. Di awal perjalanan, hingga pertengahan, mereka dipaksa jalan merunduk, karena terjalnya jalur pendakian. Jalur itu tidak memungkinkan bagi pendaki untuk berdiri tegak, setengahnya lagi diisi dengan merangkak bahkan merayap, mencoba berpijak pada tanah terpadat sebisa mungkin. Berusaha agar tidak salah dalam memijakkan kaki, agar tapak yang ditinggalkan tidak sampai menciptakan hamburan debu vulkanik bagi kawan di bawah. Segera saja, wajah mereka tidak lagi cerah, sebab bedak debu sudah menyelimuti hampir seluruh bagian wajah, rambut, dan pakaian. Tiba-tiba, semuanya terlihat tampak menua akibat debu yang membuat hitamnya rambut kini berubah warna menjadi abu-abu. Gunung Semeru, mengajarkan kepada mereka untuk mencintai alam lebih, dan lebih lagi. Membuat kita semakin mengasah, rasa toleransi terhadap sesama makhluk, memperdalam takwa pada Sang Maha Esa, yang telah menciptakan alam beserta isinya, dan membuat juga menyadarkan bahwa manusia hanyalah butiran debu yang akan luruh, dan terbang terbawa angin bila tak mengimani-Nya.   Akhirnya, perjalanan berat sejak Pos Arcopodo yang memakan waktu lima jam, terbayar sudah. Ketika satu persatu anggota rombongan sampai di Puncak. Retno yang di dorong naik oleh Ragil dan Tanto, adalah anggota pertama yang menginjakkan kakinya di Puncak, disambut langsung oleh semburat mentari yang baru saja menampakkan diri. “Sunrise …  Ya Allah sunrise guys, sunrise di Semeru. Cepet temen-temen! Semangat!” Ia berteriak heboh penuh sukacita, sambil membantu Tanto, menarik lengan Ragil yang menggapai-gapai. Seraya terus berteriak menyemangati kawan-kawannya, berurai-urai air matanya terjatuh di pipi yang menghitam akibat debu. Lalu kemudian, dibantu Ragil dan Tanto, ia menarik lengan Tika, berikutnya Gilang, lalu Indri, dan Zaki. Gadis itu sungguh tidak ingin, kawan-kawannya melewati momen indah yang sebentar lagi akan terbentuk sempurna. Setelah semua naik, Zaki memimpin untuk sujud syukur. Pecahlah tangis para perempuan, mereka berpelukan erat, tampak sesenggukan tak kuat menahan haru. Sedang para pria hanya bisa tersenyum bangga, sambil mengusap titik kecil di sudut mata, saling menepuk bahu satu sama lain. Lalu berjalan ke tengah puncak, dan menancapkan bendera MAPALA UPKI, dilanjutkan berfoto bersama.  Mereka tidak bisa berlama-lama di puncak, harus segera turun. Namun, masih menyempatkan diri, untuk duduk bersama menikmati pemandangan alam sekitar Jawa Timur, yang sangat indah. Masyaallah, Subhanallah, Laailahaillallah ….   ***   Gubuk itu berada di tengah hutan yang sunyi, tertutup rimbunnya pepohonan. Di sisi kanannya terdapat sungai kecil berair jernih, sedang di sisi kirinya terdapat tebing, di mana pondok tersebut tersebut menyandarkan pondasi kayunya. Suara di sekitar gubuk hanya desau angin dan nyanyian burung, yang menyambut pagi. Dari dalam gubuk, terdengar suara-suara orang berbincang. Di dalamnya, duduk saling berhadapan di atas bale-bale bambu. Seorang pemuda nan gagah, yaitu Arjuna, dan tentu saja dua Dewa Penjaga Semeru, Jaga dan Cipta. “Jadi, kau sudah menerima keputusan ayahmu, Arjuna?” Jaga bertanya. “Ya, tentu saja. Memang apa lagi yang bisa aku lakukan sebagai penerus Kerajaan Sukma Hilang, selain mengambil alih kekuasaannya kelak.” Arjuna menjawab. “Pernikahan itu, hanya tinggal menghitung hari, purnama biru akan segera muncul. Itu satu-satunya kesempatan bagimu, jika tidak ingin menunggu titisan berikutnya 3 tahun lagi.” Giliran Cipta berkomentar. “Namun, … Gadis itu sepertinya memilki kekasih.” Jaga berkomentar. “Ohh, pria kurus yang selalu memegang tangannya itu?” Cipta menanggapinya sambil menoleh pada Arjuna yang tampak geram. “Dia milikku, sudah digariskan begitu. Maka tidak ada yang bisa mengelak, kecuali kematian menghadangnya,” tukas Arjuna. Ia sendiri belum pernah bertemu dengan gadis calon pengantinnya. Namun, hatinya tak rela jika satu-satunya gadis yang sejak awal dilahirkan menjadi miliknya didekati pria lain. “Ya, benar. Sudah menjadi takdir titisan Amarawati. Hanya saja, aku masih bingung. Lalu, mengapa manusia kerdil, selalu ada disekelilingnya, kau tahu, mereka adalah anak buah Sabdo Palon, yang membenci ayahmu ketika ia memutuskan untuk moksa,” sahut Jaga. “Mau apa dia mendekati gadis itu?” tanya Cipta. “Hanya ada dua kemungkinan, menemukan ayahku, dan kembali menguasai Negeri Sukma Hilang. Itu sebabnya Ayah moksa bersama seluruh kerajaan dan rakyatnya, dia ingin menghindari Sabdo Palon yang dibutakan kekuasaan, saat Majapahit hendak runtuh.” Arjuna berkata. Telah lama ia mempelajari sejarah negerinya. “Ya, hanya saja. Ayahmu terpaksa harus merelakan ketiga istrinya, agar terus hidup, dan membentuk kerajaan masing-masing di sekitar Jawa Timur. Sehingga kerajaannya sendiri hampir tidak dapat bertahan tanpa penerus, meski dapat hidup abadi,” sambung Jaga. “Pengorbanan ayahmu tidaklah kecil Arjuna, ia harus melindungi negerinya, meski tau seluruh negeri tidak lagi dapat beranak-pinak, mereka hanya dapat memiliki keturunan jika berhubungan dengan manusia, tetapi itu berarti melanggar aturan semesta.” “Belum lagi serangan dari manusia-manusia rakus, yang ingin menguasainya. Ayahmu pun menyegel negerinya, sehingga tidak ada satu pun manusia yang bisa keluar masuk sembarangan.” “Sampai, akhirnya titisan Amarawati muncul 30 tahun lalu, Ratu Widyadari—ibumu. Melalui hal yang sama seperti Indri sekarang untukmu, Arjuna.” “Memiliki Negara, dan rakyat yang mortal, bisa dibilang sebagai anugerah juga kutukan. Brawijaya terpaksa menyendiri begitu lama. Pertemuan dengan Widyadari bagai air pelepas dahaga baginya, juga negerinya. Maka akhirnya, kini negeri itu memiliki kau sebagai pangeran.” Jaga dan Cipta bergantian mengungkapkan rahasia Negeri Sukma Hilang, negeri yang tidak pernah tercatat dalam sejarah, tak terdapat dalam peta, juga tak terdeteksi google map. “Ya, dan aku menerima takdir itu, demi mempertahankan negeri ini.” Sang pangeran mengeraskan rahang penuh tekad.   ***   Di puncak, rasanya waktu cepat sekali berlalu. Mereka harus segera turun sebelum asap beracun keluar dari dalam kawah.  Meski berat hati semua tunduk pada peraturan agar turun sebelum jam sepuluh pagi. “Berhati-hatilah, kita harus berjalan dalam kelompok, saat turun nanti, karena salah-salah kalian bisa masuk ke blank 75 tanpa sadar.” Tanto kembali mengingatkan mereka sebelum turun. “Blank 75 itu apaan, Mas?”  Ragil bertanya. “Area terlarang, yang jika memasukinya kau tak akan selamat. Sebab ada jurang yang sekali kalian jatuh, maka kemungkinan selamat sama dengan nol,” jawab Tanto wajahnya muram. Teringat beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. “Bukannya ada tim pencari orang hilang, Mas?” tanya Ragil lagi. “Iya, memang ada. Bisa jadi juga kalian masih hidup, tapi para penyelamat tak akan mampu mencari kalian hingga ke sana. Itu sebabnya keselamatan kalian sama dengan nol,” terang Tanto. Mereka yang mendengar bergidik ngeri, mau tak mau mengangguk patuh.   Waktu naik dan waktu pulang, entah mengapa rasanya selalu lebih cepat saat kembali. Tak terasa mereka sudah sampai di dekat area Arcopodo. Indri mengamati pemandangan sekitar, berusaha mencari-cari arca yang sebelumnya dilihat, tetapi rasanya arca tersebut seperti menghilang begitu saja. “Tolong-tolong!” Tanto menghentikan langkah, sedang yang lain pun otomatis berhenti. Laki-laki itu mendengar suara perempuan merintih di dekat situ. “Kenapa, Mas?” tanya Zaki. “Sebentar, aku seperti mendengar suara ada yang minta tolong. Tunggu, aku akan mengeceknya. Kalian tunggu disini.” “Apakah kalian ada yang mendengarnya juga?” tanya Zaki pada yang lain. “Enggak. Gue malah denger suara cacing perut Retno yang kelaperan,” seloroh Ragil. “Tapi … aku juga dengar. Arahnya dari sana.” Tunjuk Indri, ke arah di mana Tanto berbelok ke semak-semak.   = = = = = = = = = = = = = = = =  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD