Giok Nio & Lelaki Melayu, Kopi, dan Catur

1056 Words
Giok Nio DI BAGIAN dunia yang lain, nun di pusat Kota Helsinki, ibu kota Finlandia, sebuah hall yang megah telah dipadati pengunjung, fans, dan wartawan. Semua mata, berpuluh mikrofon, lampu, dan kamera dari kantor-kantor berita internasional tersorot ke wajah perempuan yang duduk berjejer: Bellinda Hess-Hay, Nikky Wohmann, Frederika Vilsmaier, Nazwa Kahail, dan Ninochka Stronovsky. Mereka adalah pecatur perempuan terbaik di muka bumi ini, para grand master. Inilah event yang pernah diceritakan Nochka padaku tempo hari. Di dalam event ini ia menargetkan dirinya untuk menjadi salah satu dari dua puluh pecatur perempuan terbaik dunia. Atmosfer persaingan yang memanas membungkus aroma perang dingin di antara perempuan canggih berotak encer itu. Ketika Nikky Wohmann berkicau-kicau menjawabi pertanyaan wartawan, Nazwa Kahail mendelak-delik padanya, masih jengkel akan kekalahan pahitnya dari Wohmann di Kalkuta tahun lalu. Bellinda Hess-Hay-lah pecatur perempuan dunia nomor wahid sekarang. Ia acuh tak acuh. Jawabannya pendek-pendek. Sekaligus, sepandai apa pun ia sembunyikan, setiap orang tahu bahwa ia gentar pada Ninochka Stronovsky. Jagoan kemarin sore itu---Stronovsky---baru setahun masuk jajaran elite pecatur kelas dunia. Dua tahun sebelumnya, dalam pertandingan yang disebut pengamat ESPN sebagai pertandingan paling menarik sepanjang sejarah catur perempuan, Hess-Hay hanya menang tipis dari Stronovsky. Dalam pada itu, di pasar ikan kampung kami, Selamot sibuk mencabuti bulu ayam. Sejak pagi ia berceloteh tentang desas-desus yang ia dengar dari Satam, tukang dorong kereta jeriken minyak tanah, bahwa di Jakarta ada perempuan yang berani mencalonkan diri menjadi presiden. “Merinding bulu tengkukku mendengarnya. Perempuan ingin menjadi presiden? Mungkinkah itu? Hebat bukan buatan, Chip!” Orang yang dipanggil Selamot sebagai Chip, bernama asli Syahruddin bin Salmun. Jika orang lain marah dijuluki, Syahruddin malah meminta dengan sangat agar setiap orang memanggilnya Chip. Senang digelari yang tidak-tidak adalah sakit gila nomor 17. Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata Syahruddin pernah bercita-cita menjadi pilot. Sayang disayang, cita-cita itu agak sedikit sudah dikejar lantaran ia buta huruf. Ia selalu mengatakan bahwa ia gagal tes pilot pada tahap penentuan terakhir untuk satu alasan yang masih menjadi misteri baginya. Kegagalan menerbangkan pesawat membelokkannya ke sepeda. Sepeda lalu menjadi obsesinya yang dicurigai semua orang sering dianggapnya sebagai pesawat terbang. Ini sakit gila nomor 13. Syahruddin senang kebut-kebutan bersepeda. Suatu hari, di balai desa ia menonton film CHIP (California Highway Patrol) yang ditayangkan TVRI. Mulutnya ternganga melihat aksi Eric Estrada ngebut mengejar para begundal di jalan raya California. Sejak itu ia mengubah sendiri namanya menjadi Chip. Hobi ngebut naik sepeda membawa Chip pada profesi penjual kayu bakar. Waktu kecil kami selalu menontonnya mengantar kayu bakar dengan sepeda. Ia memasang sirene yang ditenagai aki kecil di sepedanya. Setiap meliuk, sirene melengking-lengking. Namun, bisnis kayu bakar bernasib serupa dengan bisnis telegram di kantor pos. keduanya punah. Sejak teknologi kompor masuk ke dapur-dapur orang Melayu, Chip kehilangan order. Ia menghadap Giok Nio, juragan ayam di los pasar ikan, dan segera menjadi kuli kesayangan Giok Nio. Meski ia menyandang gelar dua nomor sakit gila sekaligus, ia lebih rajin dari orang yang paling waras sekalipun di pasar ikan. Sakit gila memang sering membingungkan. Giok Nio mengangkat Chip sebagai tukang jagal ayam sekaligus manajer bagi sebuah wajan raksasa yang berisi air mendidih tempat ayam-ayam yang bernasib buruk itu dicelupkan agar gampang dicabuti bulunya. Wajan itu di-tanggar di atas tungku yang berkobar-kobar. Lelaki Melayu, Kopi, dan Catur JIKA Kawan berkunjung ke kampungku, bertandang dengan perahu atau datang dengan bus, datang sebagai turis, pengelana, pendakwah, atau utusan pemerintah untuk satu tugas nan mulia, maka Kawan akan hinggap pertama kali di ujung pasar. Sebab di sanalah dermaga dan di sana pula terminal---kalaupun bisa disebut terminal sebab sesenangnya perasaan merupakan satu-satunya pedoman bagi sopir untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Lagi pula bus itu tak ada pintunya. Namun, jangan silap mendengarku mengucapkan terminal, seakan- akan banyak bus di sana, kenyataannya hanya satu dan tak ada pintu. Masih ratusan meter dari pasar itu, dirimu sudah akan mendengar suara-suara, kadang kala teriakan. Jamak, jika tadi kau sangka kegaduhan itu berasal dari banyak manusia, rupanya tidak. Orang Melayu, orang bersarung, orang Tionghoa, dan orang Sawang, tak pernah berhemat kata dan suara. Keduanya diberi Tuhan, maka berkicaulah, berkoarlah sesuka hatimu, tak perlu membayar. Sampai di ujung pasar tadi, kau akan terpana menyaksikan sejauh mata memandang, warung kopi berderet tak putus-putus. Kemudian akan tampak olehmu sebatang tiang traffic light. Beberapa bulan yang lalu, kehadiran lampu lalu-lintas itu disambut dengan gembira sebab itu pertanda kampung kami siap memasuki era modern. Namun, kini para pendatang akan menduga telah terjadi kerusakan sebab tak ada gerakan cahaya apa pun di tiang itu. Bukan, bukan rusak, tapi sengaja dimatikan karena warna apa pun yang menyala, tak seorang pun mengacuhkannya. Dulu waktu lampu itu masih menyala. Jika Kawan naik sepeda motor dan berhenti saat lampu merah, seseorang akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu itu. “Lampu itu tak laku, Bang. Lanjutlah.” Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil. Maka, jangan hiraukan lampu jalan itu. Langkahkan kakimu ke warung kopi dan temui di sana beratus-ratus pria korban PHK massal karena tambatan hidup satu-satunya yaitu Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata perusahaan timah, yang dikenal sejak zaman Belanda dengan sebutan maskapai timah, telah khatam riwayatnya. Di warung-warung kopi itu pria-pria Melayu mengisahkan nasibnya, membangga-banggakan jabatan terakhirnya sebelum maskapai timah gulung tikar, dan mempertaruhkan martabatnya di atas papan catur. Lelaki Melayu dengan kopi, sisa kebanggaan, dan catur, seperti lelaki Melayu dengan pantunnya, seperti lelaki suku bersarung dengan sarungnya, seperti lelaki Khek dengan sempoanya. Kalau ada kriteria semacam densitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu, kupastikan kampung kami masuk buku rekor dunia. Pun jika ada lomba soal jarak yang sudi ditempuh orang demi segelas kopi, pemenangnya pasti pula lelaki Melayu. Saban pagi, serombongan besar pria, seperti gerombolan migrasi di Padang Masaimara, dari kampung-kampung yang berjarak sampai 20 kilometer, berbondong- bondong ke pasar demi segelas kopi. Lalu, mereka pulang ke kampungnya masing-masing untuk bekerja. Sore mereka kembali lagi ke pasar, dan pulang lagi. Adakalanya malam nanti, pukul 9, setelah istri dan anak-anak tidur, mereka ke pasar lagi. Semuanya demi segelas kopi. Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Keluhan istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah---padahal bubuk kopinya sama seperti di warung kopi---adalah keluhan turun- temurun. Alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak kopi di warung. Peristiwa ini dialami Mustahaq Davidson---Kawan tentu masih ingat mengapa namanya antik begitu. Jabatan terakhirnya di maskapai timah adalah kepala regu juru pompa semprot; jabatan sekarang: juru sound system Masjid Al-Hikmah. Ia berkisah bahwa istrinya diam-diam membeli kopi di warung kopi langganannya, dibungkusnya dengan plastik dan dibawanya pulang, lalu dihidangkannya untuk Mustahaq. Setelah meminumnya, sehirup saja, Mustahaq berkemas-kemas mau berangkat. Istrinya, yang terkenal galak, bertanya mau ke mana. Mustahaq, yang terkenal jujur, menjawab bahwa ia mau ke warung kopi, karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi. “Melayanglah panci ke kepala awak,” kata Mustahaq apa adanya, disambut ledak tawa seisi warung kopi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD