Giok Nio
DI BAGIAN dunia yang lain, nun di pusat Kota Helsinki, ibu kota Finlandia, sebuah hall yang
megah telah dipadati pengunjung, fans, dan wartawan. Semua mata, berpuluh mikrofon,
lampu, dan kamera dari kantor-kantor berita internasional tersorot ke wajah perempuan yang
duduk berjejer: Bellinda Hess-Hay, Nikky Wohmann, Frederika Vilsmaier, Nazwa Kahail, dan
Ninochka Stronovsky. Mereka adalah pecatur perempuan terbaik di muka bumi ini, para
grand master. Inilah event yang pernah diceritakan Nochka padaku tempo hari. Di dalam event
ini ia menargetkan dirinya untuk menjadi salah satu dari dua puluh pecatur perempuan
terbaik dunia.
Atmosfer persaingan yang memanas membungkus aroma perang dingin di antara
perempuan canggih berotak encer itu. Ketika Nikky Wohmann berkicau-kicau menjawabi
pertanyaan wartawan, Nazwa Kahail mendelak-delik padanya, masih jengkel akan kekalahan
pahitnya dari Wohmann di Kalkuta tahun lalu.
Bellinda Hess-Hay-lah pecatur perempuan dunia nomor wahid sekarang. Ia acuh tak
acuh. Jawabannya pendek-pendek. Sekaligus, sepandai apa pun ia sembunyikan, setiap orang
tahu bahwa ia gentar pada Ninochka Stronovsky. Jagoan kemarin sore itu---Stronovsky---baru
setahun masuk jajaran elite pecatur kelas dunia. Dua tahun sebelumnya, dalam pertandingan
yang disebut pengamat ESPN sebagai pertandingan paling menarik sepanjang sejarah catur
perempuan, Hess-Hay hanya menang tipis dari Stronovsky.
Dalam pada itu, di pasar ikan kampung kami, Selamot sibuk mencabuti bulu ayam.
Sejak pagi ia berceloteh tentang desas-desus yang ia dengar dari Satam, tukang dorong kereta
jeriken minyak tanah, bahwa di Jakarta ada perempuan yang berani mencalonkan diri
menjadi presiden.
“Merinding bulu tengkukku mendengarnya. Perempuan ingin menjadi presiden?
Mungkinkah itu? Hebat bukan buatan, Chip!”
Orang yang dipanggil Selamot sebagai Chip, bernama asli Syahruddin bin Salmun. Jika
orang lain marah dijuluki, Syahruddin malah meminta dengan sangat agar setiap orang
memanggilnya Chip. Senang digelari yang tidak-tidak adalah sakit gila nomor 17.
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
Syahruddin pernah bercita-cita menjadi pilot. Sayang disayang, cita-cita itu agak sedikit
sudah dikejar lantaran ia buta huruf. Ia selalu mengatakan bahwa ia gagal tes pilot pada tahap
penentuan terakhir untuk satu alasan yang masih menjadi misteri baginya. Kegagalan
menerbangkan pesawat membelokkannya ke sepeda. Sepeda lalu menjadi obsesinya yang
dicurigai semua orang sering dianggapnya sebagai pesawat terbang. Ini sakit gila nomor 13.
Syahruddin senang kebut-kebutan bersepeda. Suatu hari, di balai desa ia menonton
film CHIP (California Highway Patrol) yang ditayangkan TVRI. Mulutnya ternganga melihat
aksi Eric Estrada ngebut mengejar para begundal di jalan raya California. Sejak itu ia
mengubah sendiri namanya menjadi Chip.
Hobi ngebut naik sepeda membawa Chip pada profesi penjual kayu bakar. Waktu kecil
kami selalu menontonnya mengantar kayu bakar dengan sepeda. Ia memasang sirene yang
ditenagai aki kecil di sepedanya. Setiap meliuk, sirene melengking-lengking.
Namun, bisnis kayu bakar bernasib serupa dengan bisnis telegram di kantor pos.
keduanya punah. Sejak teknologi kompor masuk ke dapur-dapur orang Melayu, Chip
kehilangan order. Ia menghadap Giok Nio, juragan ayam di los pasar ikan, dan segera
menjadi kuli kesayangan Giok Nio. Meski ia menyandang gelar dua nomor sakit gila sekaligus,
ia lebih rajin dari orang yang paling waras sekalipun di pasar ikan. Sakit gila memang sering
membingungkan.
Giok Nio mengangkat Chip sebagai tukang jagal ayam sekaligus manajer bagi sebuah
wajan raksasa yang berisi air mendidih tempat ayam-ayam yang bernasib buruk itu dicelupkan
agar gampang dicabuti bulunya. Wajan itu di-tanggar di atas tungku yang berkobar-kobar.
Lelaki Melayu, Kopi, dan Catur
JIKA Kawan berkunjung ke kampungku, bertandang dengan perahu atau datang dengan bus,
datang sebagai turis, pengelana, pendakwah, atau utusan pemerintah untuk satu tugas nan
mulia, maka Kawan akan hinggap pertama kali di ujung pasar. Sebab di sanalah dermaga dan
di sana pula terminal---kalaupun bisa disebut terminal sebab sesenangnya perasaan merupakan
satu-satunya pedoman bagi sopir untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Lagi pula
bus itu tak ada pintunya. Namun, jangan silap mendengarku mengucapkan terminal, seakan-
akan banyak bus di sana, kenyataannya hanya satu dan tak ada pintu.
Masih ratusan meter dari pasar itu, dirimu sudah akan mendengar suara-suara, kadang
kala teriakan. Jamak, jika tadi kau sangka kegaduhan itu berasal dari banyak manusia,
rupanya tidak. Orang Melayu, orang bersarung, orang Tionghoa, dan orang Sawang, tak
pernah berhemat kata dan suara. Keduanya diberi Tuhan, maka berkicaulah, berkoarlah
sesuka hatimu, tak perlu membayar.
Sampai di ujung pasar tadi, kau akan terpana menyaksikan sejauh mata memandang,
warung kopi berderet tak putus-putus. Kemudian akan tampak olehmu sebatang tiang traffic
light.
Beberapa bulan yang lalu, kehadiran lampu lalu-lintas itu disambut dengan gembira
sebab itu pertanda kampung kami siap memasuki era modern. Namun, kini para pendatang
akan menduga telah terjadi kerusakan sebab tak ada gerakan cahaya apa pun di tiang itu.
Bukan, bukan rusak, tapi sengaja dimatikan karena warna apa pun yang menyala, tak seorang
pun mengacuhkannya. Dulu waktu lampu itu masih menyala. Jika Kawan naik sepeda motor
dan berhenti saat lampu merah, seseorang akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu
itu.
“Lampu itu tak laku, Bang. Lanjutlah.”
Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.
Maka, jangan hiraukan lampu jalan itu. Langkahkan kakimu ke warung kopi dan
temui di sana beratus-ratus pria korban PHK massal karena tambatan hidup satu-satunya yaitu
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
perusahaan timah, yang dikenal sejak zaman Belanda dengan sebutan maskapai timah, telah
khatam riwayatnya. Di warung-warung kopi itu pria-pria Melayu mengisahkan nasibnya,
membangga-banggakan jabatan terakhirnya sebelum maskapai timah gulung tikar, dan
mempertaruhkan martabatnya di atas papan catur. Lelaki Melayu dengan kopi, sisa
kebanggaan, dan catur, seperti lelaki Melayu dengan pantunnya, seperti lelaki suku bersarung
dengan sarungnya, seperti lelaki Khek dengan sempoanya.
Kalau ada kriteria semacam densitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi dalam
ukuran wilayah tertentu, kupastikan kampung kami masuk buku rekor dunia. Pun jika ada
lomba soal jarak yang sudi ditempuh orang demi segelas kopi, pemenangnya pasti pula lelaki
Melayu. Saban pagi, serombongan besar pria, seperti gerombolan migrasi di Padang
Masaimara, dari kampung-kampung yang berjarak sampai 20 kilometer, berbondong-
bondong ke pasar demi segelas kopi. Lalu, mereka pulang ke kampungnya masing-masing
untuk bekerja. Sore mereka kembali lagi ke pasar, dan pulang lagi. Adakalanya malam nanti,
pukul 9, setelah istri dan anak-anak tidur, mereka ke pasar lagi. Semuanya demi segelas kopi.
Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena rasanya
dapat berubah berdasarkan tempat. Keluhan istri soal suami yang tak mau minum kopi di
rumah---padahal bubuk kopinya sama seperti di warung kopi---adalah keluhan turun-
temurun. Alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak kopi di
warung.
Peristiwa ini dialami Mustahaq Davidson---Kawan tentu masih ingat mengapa namanya
antik begitu. Jabatan terakhirnya di maskapai timah adalah kepala regu juru pompa semprot;
jabatan sekarang: juru sound system Masjid Al-Hikmah. Ia berkisah bahwa istrinya diam-diam
membeli kopi di warung kopi langganannya, dibungkusnya dengan plastik dan dibawanya
pulang, lalu dihidangkannya untuk Mustahaq. Setelah meminumnya, sehirup saja, Mustahaq
berkemas-kemas mau berangkat. Istrinya, yang terkenal galak, bertanya mau ke mana.
Mustahaq, yang terkenal jujur, menjawab bahwa ia mau ke warung kopi, karena kopi di
rumah tak seenak di warung kopi.
“Melayanglah panci ke kepala awak,” kata Mustahaq apa adanya, disambut ledak tawa
seisi warung kopi.