Pelangkah
JIKA ada orang yang paling disayangi oleh Ania, Lana, dan Ulma di dunia ini, mereka adalah
ibu dan kakak sulung mereka. Pernah seorang guru bercerita padaku. Katanya ia bertanya
pada Ania, siapakah pahlawan yang paling ia kagumi. Ania kecil menjawab tanpa ragu bahwa
pahlawannya adalah Syalimah---ibunya---dan Enong---kakak sulungnya.
“Ibu dan Kak Enong lebih hebat dari pahlawan manapun.”
Saat Lana menginjak kelas empat SD, seperti Ania dulu, sang guru bertanya hal serupa.
Jawaban Lana mirip jawaban Ania. Adapun si bungsu, Ulma, lebih kagum lagi pada ibu dan
kakaknya.
Semuanya karena sepanjang hidup ketiga gadis kecil kakak-beradik itu telah
menyaksikan bagaimana ibu dan Enong berjuang untuk mereka. Enong bekerja keras menjadi
pendulang timah sejak usianya baru 14 tahun. Ia berusaha sedapat-dapatnya memenuhi apa
yang diperlukan ketiga adiknya dari seorang ayah. Dibelikannya mereka baju Lebaran,
diurusnya jika sakit dan ia menangis setiap kali mengambil rapor adik-adiknya. Sebab, saat
menandatangani rapor yang seharusnya ditandatangani ayahnya itu, ia rindu pada ayahnya.
Ania dengan cepat tumbuh remaja. Perlahan-lahan ia mengerti pengorbanan Enong
dan merasa kasihan. Ia minta berhenti sekolah karena ingin membantu. Enong melarangnya.
Suatu ketika, Enong Mengajak Ania ke sebuah toko di Tanjong Pandan. Ia membelikan adik
pangkuannya itu baju yang bagus.
“Lebaran masih lama. Mengapa Kakak membelikanku baju?”
Enong tersenyum.
“Karena aku ingin kau tetap merasa engkau cantik.” Enong berlalu. Ania menangis di
dalam toko itu sampai tersedak-sedak.
Setelah tamat SMA, Ania berkenalan dengan seorang guru. Kian hari, hubungan itu
kian dekat. Ania tak mau mengenalkan pemuda itu pada ibu dan kakaknya, terutama karena
ingin menjaga perasaan kakaknya. Tahu-tahu guru SD itu menerima surat keputusan
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
penempatan di pulau terkecil. Ia ingin menikahi Ania. Ania menolak. Ia tak mau melangkahi
Enong. Enong berbicara dengan orang tua guru itu.
Pada malam pernikahan Ania, aku terpana melihat ketulusan yang ditunjukkan
seorang kakak. Dengan bersimbah air mata, Ania menyerahkan sehelai baju Muslimah pada
Enong sebagai Pelangkah. Ia memohon maaf sampai tersuruk-suruk ke dalam pelukan
kakaknya itu.
“Janganlah cemaskan Kakak, ni. Kakak akan baik-baik saja.”
Bersusah payah Enong membujuk Ania. Tubuhnya yang kekar seperti lelaki karena
bertahun-tahun mendulang timah merengkuh tubuh adiknya. Tangannya yang kasar
membelai-belai rambutnya. Sungguh sebuah pemandangan memilukan yang akan melekat
lama dalam kenanganku. Betapa besar hati perempuan itu.
Usai pernikahan itu, setelah sanak saudara pulang, Syalimah bercerita kepada anak-
anaknya tentang sebuah benda yang sejak berbelas tahun silam teronggok di sudut ruang
tengah rumah mereka. Anak-anak tahu bahwa benda yang ditutupi terpal itu adalah sepeda,
namun mereka selalu sungkan membicarakannya. Syalimah meminta Enong membuka terpal
dan tampaklah sepeda Sim King made in RRC yang masih berkilap. Syalimah berkisah tentang
Zamzami, ayah mereka.
“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda,
ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa
perempuan sampai mati.”
Syalimah seperti tak sanggup melanjutkan ceritanya.
“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku.”
Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling
berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan
kopi itu adalah cinta di dalam gelas.
Sang Penguasa Pasar
DI MATAKU, ia tampak seperti pemberontak Germania yang takluk diperangi tentara
Praetorian dalam film-film klasik Romawi. Ia terluka. Sabetan machete melintang di bawah
ketiaknya. Luka yang dalam dan panjang membuatnya tak dapat menegakkan tubuh dengan
sempurna.
Jika ia mengangkat wajah, menyorot dua bola mata yang keruh. Alisnya serupa bulan
sabit, tatapannya ingin menelan. Kedua mata itu berbicara lebih lancang dari mulutnya,
namun menyimpan rahasia yang dalam, seperti ada cinta yang juga terluka, hidup yang tersia-
sia, dan dendam yang membara.
Rambutnya gondrong, tebal digulung angin laut beraroma garam, tak dapat lagi disisir
karena telah kaku. Badannya yang besar dan tegap seakan menguasai seluruh warung.
Penampilannya semakin ganjil karena bahunya timpang. Konon karena ketika kecil ia
membanting tulang seperti b***k belian di bawah perintah pamannya yang kejam. Dari
pamannya itulah ia mendapat semua keburukan dalam hidupnya, yang kemudian
membawanya menjadi orang yang paling ditakuti di pasar pagi---termasuk kawasan seputar
kantor pegadaian sampai ke Jalan Sersan Munir. Adapun wilayah depan puskesmas sampai
kantor pos berada di bawah kuasa Daud si muka codet.
Tato penjara, centang-perenang di kedua lengannya. Tato di tangan kanan, seperti
almanak, menampakkan hari-hari agung yang ia lalui di balik kurungan. Yang terbaru, masih
bulan lalu, angka 7 terukir di situ. Pasti ia telah mendekam 7 hari, berikut nomor pasal yang ia
telikung: 170, tak lain pasal soal ketertiban umum.
Setiap orang yang masuk ke warung kopi dan berpapasan dengannya, menjauh. Yang
tak sempat menjauh, menunduk hormat. Yang melihatnya dari jauh berbalik badan. Yang
jauh darinya, tak tahu-menahu apa yang terjadi di warung kopi, karena mereka jauh.
Ia duduk sendiri. Tak ditemani siapa pun kecuali seekor burung merpati yang tak
henti dielus-elusnya. Jaraknya dariku terpisah tiga meja kopi.
Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata
Seorang begundal lain masuk ke warung, mengambil posisi dekat meja kasir. Ia
jangkung dan kurus. Matanya jahat. Ia disusul seorang lain yang berbadan tegap. Berbahu
landai dan bertangan panjang macam gorila. Kedua orang itu dan sang penguasa pasar
dengan cermat menempatkan diri pada posisi untuk mengepungku. Pengunjung warung
menyingkir, takut terlibat atau menjadi saksi dari sebuah huru-hara. Aku mulai merasa,
mengapa begitu bodohnya aku sampai berurusan dengan kaum bramacorah ini.
Dari ketiganya, aku hanya kenal orang yang terakhir masuk ke warung. Benu,
namanya. Ia mantan kuli pelabuhan yang menjadi petinju kelas bantam. Di gelanggang kota
madya, aku pernah melihat keganasannya. Karena kepalanya terlalu sering kena tumbuk,
Benu menjadi tuli, gagap, dan sedikit gila. Tapi, pukulannya sendiri, jangan sembarang. Beras
200 kilogram digantung bergoyang seperti penyanyi dangdut jika dihantamnya.
Orang-orang memperhatikanku. Siapa pun membayangkan pasti sebentar lagi terjadi
keributan. Hiruk pikuk pasar pagi terjebak di dalam satu sekat waktu yang berdetak
melambat. Aku menaksir situasi, ke arah mana akan kabur menyelamatkan diri.
Sang penguasa pasar menatapku. Terus terang aku takut. Tiba-tiba ia menghempaskan
gelas kopinya lalu bangkit, dan aku terkejut tak kepalang, karena seketika itu pula hancurlah
seluruh kesan seram tentang dirinya. Sebab tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari meja
kopi. Pasti hanya sekitar 90 sentimeter saja. Ketika duduk ia memang tampak sangat besar.
Sekarang aku paham mengapa orang-orang menjulukinya Preman Cebol!
Ia berjalan terseok-seok menghampiriku. Senyumnya lebar, ramah, dan senang sekali.
Matanya yang tadi seram menjadi sangat jenaka jika ia tersenyum. Ia telah menguasai seni
menakuti orang. Dikeluarkannya sebuah amplop dari saku celana rombeng gaya koboinya.
“Boi, tolong sampaikan ini pada Detektif M. Nur.”
Lalu ia berbisik.
“Bilang padanya, Ratna Mutu Manikam manis, pintar, dan baik-baik saja. Bilang juga,
operasi belalang sembah telah berlangsung. Diagram catur Matarom ada di tanganku!”
Adapun di situ, nun di situ, Ratna Mutu Manikam, burung merpati yang bermata genit
itu, menggerung-gerung riang karena dipuja-puji tuannya.