Pelangkah & Penguasa Pasar

1031 Words
Pelangkah JIKA ada orang yang paling disayangi oleh Ania, Lana, dan Ulma di dunia ini, mereka adalah ibu dan kakak sulung mereka. Pernah seorang guru bercerita padaku. Katanya ia bertanya pada Ania, siapakah pahlawan yang paling ia kagumi. Ania kecil menjawab tanpa ragu bahwa pahlawannya adalah Syalimah---ibunya---dan Enong---kakak sulungnya. “Ibu dan Kak Enong lebih hebat dari pahlawan manapun.” Saat Lana menginjak kelas empat SD, seperti Ania dulu, sang guru bertanya hal serupa. Jawaban Lana mirip jawaban Ania. Adapun si bungsu, Ulma, lebih kagum lagi pada ibu dan kakaknya. Semuanya karena sepanjang hidup ketiga gadis kecil kakak-beradik itu telah menyaksikan bagaimana ibu dan Enong berjuang untuk mereka. Enong bekerja keras menjadi pendulang timah sejak usianya baru 14 tahun. Ia berusaha sedapat-dapatnya memenuhi apa yang diperlukan ketiga adiknya dari seorang ayah. Dibelikannya mereka baju Lebaran, diurusnya jika sakit dan ia menangis setiap kali mengambil rapor adik-adiknya. Sebab, saat menandatangani rapor yang seharusnya ditandatangani ayahnya itu, ia rindu pada ayahnya. Ania dengan cepat tumbuh remaja. Perlahan-lahan ia mengerti pengorbanan Enong dan merasa kasihan. Ia minta berhenti sekolah karena ingin membantu. Enong melarangnya. Suatu ketika, Enong Mengajak Ania ke sebuah toko di Tanjong Pandan. Ia membelikan adik pangkuannya itu baju yang bagus. “Lebaran masih lama. Mengapa Kakak membelikanku baju?” Enong tersenyum. “Karena aku ingin kau tetap merasa engkau cantik.” Enong berlalu. Ania menangis di dalam toko itu sampai tersedak-sedak. Setelah tamat SMA, Ania berkenalan dengan seorang guru. Kian hari, hubungan itu kian dekat. Ania tak mau mengenalkan pemuda itu pada ibu dan kakaknya, terutama karena ingin menjaga perasaan kakaknya. Tahu-tahu guru SD itu menerima surat keputusan Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata penempatan di pulau terkecil. Ia ingin menikahi Ania. Ania menolak. Ia tak mau melangkahi Enong. Enong berbicara dengan orang tua guru itu. Pada malam pernikahan Ania, aku terpana melihat ketulusan yang ditunjukkan seorang kakak. Dengan bersimbah air mata, Ania menyerahkan sehelai baju Muslimah pada Enong sebagai Pelangkah. Ia memohon maaf sampai tersuruk-suruk ke dalam pelukan kakaknya itu. “Janganlah cemaskan Kakak, ni. Kakak akan baik-baik saja.” Bersusah payah Enong membujuk Ania. Tubuhnya yang kekar seperti lelaki karena bertahun-tahun mendulang timah merengkuh tubuh adiknya. Tangannya yang kasar membelai-belai rambutnya. Sungguh sebuah pemandangan memilukan yang akan melekat lama dalam kenanganku. Betapa besar hati perempuan itu. Usai pernikahan itu, setelah sanak saudara pulang, Syalimah bercerita kepada anak- anaknya tentang sebuah benda yang sejak berbelas tahun silam teronggok di sudut ruang tengah rumah mereka. Anak-anak tahu bahwa benda yang ditutupi terpal itu adalah sepeda, namun mereka selalu sungkan membicarakannya. Syalimah meminta Enong membuka terpal dan tampaklah sepeda Sim King made in RRC yang masih berkilap. Syalimah berkisah tentang Zamzami, ayah mereka. “Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati.” Syalimah seperti tak sanggup melanjutkan ceritanya. “Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku.” Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas. Sang Penguasa Pasar DI MATAKU, ia tampak seperti pemberontak Germania yang takluk diperangi tentara Praetorian dalam film-film klasik Romawi. Ia terluka. Sabetan machete melintang di bawah ketiaknya. Luka yang dalam dan panjang membuatnya tak dapat menegakkan tubuh dengan sempurna. Jika ia mengangkat wajah, menyorot dua bola mata yang keruh. Alisnya serupa bulan sabit, tatapannya ingin menelan. Kedua mata itu berbicara lebih lancang dari mulutnya, namun menyimpan rahasia yang dalam, seperti ada cinta yang juga terluka, hidup yang tersia- sia, dan dendam yang membara. Rambutnya gondrong, tebal digulung angin laut beraroma garam, tak dapat lagi disisir karena telah kaku. Badannya yang besar dan tegap seakan menguasai seluruh warung. Penampilannya semakin ganjil karena bahunya timpang. Konon karena ketika kecil ia membanting tulang seperti b***k belian di bawah perintah pamannya yang kejam. Dari pamannya itulah ia mendapat semua keburukan dalam hidupnya, yang kemudian membawanya menjadi orang yang paling ditakuti di pasar pagi---termasuk kawasan seputar kantor pegadaian sampai ke Jalan Sersan Munir. Adapun wilayah depan puskesmas sampai kantor pos berada di bawah kuasa Daud si muka codet. Tato penjara, centang-perenang di kedua lengannya. Tato di tangan kanan, seperti almanak, menampakkan hari-hari agung yang ia lalui di balik kurungan. Yang terbaru, masih bulan lalu, angka 7 terukir di situ. Pasti ia telah mendekam 7 hari, berikut nomor pasal yang ia telikung: 170, tak lain pasal soal ketertiban umum. Setiap orang yang masuk ke warung kopi dan berpapasan dengannya, menjauh. Yang tak sempat menjauh, menunduk hormat. Yang melihatnya dari jauh berbalik badan. Yang jauh darinya, tak tahu-menahu apa yang terjadi di warung kopi, karena mereka jauh. Ia duduk sendiri. Tak ditemani siapa pun kecuali seekor burung merpati yang tak henti dielus-elusnya. Jaraknya dariku terpisah tiga meja kopi. Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku Andrea Hirata Seorang begundal lain masuk ke warung, mengambil posisi dekat meja kasir. Ia jangkung dan kurus. Matanya jahat. Ia disusul seorang lain yang berbadan tegap. Berbahu landai dan bertangan panjang macam gorila. Kedua orang itu dan sang penguasa pasar dengan cermat menempatkan diri pada posisi untuk mengepungku. Pengunjung warung menyingkir, takut terlibat atau menjadi saksi dari sebuah huru-hara. Aku mulai merasa, mengapa begitu bodohnya aku sampai berurusan dengan kaum bramacorah ini. Dari ketiganya, aku hanya kenal orang yang terakhir masuk ke warung. Benu, namanya. Ia mantan kuli pelabuhan yang menjadi petinju kelas bantam. Di gelanggang kota madya, aku pernah melihat keganasannya. Karena kepalanya terlalu sering kena tumbuk, Benu menjadi tuli, gagap, dan sedikit gila. Tapi, pukulannya sendiri, jangan sembarang. Beras 200 kilogram digantung bergoyang seperti penyanyi dangdut jika dihantamnya. Orang-orang memperhatikanku. Siapa pun membayangkan pasti sebentar lagi terjadi keributan. Hiruk pikuk pasar pagi terjebak di dalam satu sekat waktu yang berdetak melambat. Aku menaksir situasi, ke arah mana akan kabur menyelamatkan diri. Sang penguasa pasar menatapku. Terus terang aku takut. Tiba-tiba ia menghempaskan gelas kopinya lalu bangkit, dan aku terkejut tak kepalang, karena seketika itu pula hancurlah seluruh kesan seram tentang dirinya. Sebab tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari meja kopi. Pasti hanya sekitar 90 sentimeter saja. Ketika duduk ia memang tampak sangat besar. Sekarang aku paham mengapa orang-orang menjulukinya Preman Cebol! Ia berjalan terseok-seok menghampiriku. Senyumnya lebar, ramah, dan senang sekali. Matanya yang tadi seram menjadi sangat jenaka jika ia tersenyum. Ia telah menguasai seni menakuti orang. Dikeluarkannya sebuah amplop dari saku celana rombeng gaya koboinya. “Boi, tolong sampaikan ini pada Detektif M. Nur.” Lalu ia berbisik. “Bilang padanya, Ratna Mutu Manikam manis, pintar, dan baik-baik saja. Bilang juga, operasi belalang sembah telah berlangsung. Diagram catur Matarom ada di tanganku!” Adapun di situ, nun di situ, Ratna Mutu Manikam, burung merpati yang bermata genit itu, menggerung-gerung riang karena dipuja-puji tuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD