Bab 4 : GETIH MAWAR

1151 Words
Senja mulai membentang di langit. Penghujung hari hampir tiba. 7 orang di sana terus menyusuri hutan yang berselimut kabut dengan hati-hati. Selangkah demi selangkah. Langkah berirama yang meninggalkan jejak kaki di jalan setapak. Sembari terus menyusuri hutan, beberapa diantara mereka membuka suara untuk memecah keheningan. Adalah Abil yang bertanya kepada Pak Tomo dengan kalimat, "Pak, emangnya buat masuk desa harus lewat jalan ini? Gak ada jalan lain?" bukan maksud memprotes, pertanyaan Abil barusan hanya sekedar keingintahuannya semata. Tanpa berlama-lama, Pak Tomo langsung menjawab, "Iya mas. Cuma ini jalan satu-satunya. Kalau mau keluar masuk desa ya cuma ini jalannya. Selain jalan ini, ndak ada jalan lain. Semuanya jurang." Mendengar fakta barusan, Abil merespons dengan mengangguk-anggukan kepala. Dengan maksud ingin membuat suasana mencair, Abil kini lebih sering melempar pertanyaan kepada Pak Tomo maupun kedua rekan Pak Tomo yang lain selama di perjalanan. Memang hanya sebatas pertanyaan basa-basi semata. Tapi dengan percakapan diantara mereka, Abil berharap bisa menjalin ikatan yang lebih kuat dengan ketiga orang itu. Dan di sepanjang perjalanan yang tersisa, sepertinya mereka mulai bisa akrab satu sama lain. Setelah sekian jauh menyusuri hutan, kini di ujung sana sudah terlihat gapura dengan disain sederhana yang akan menyambut kedatangan mereka. Sesaat lagi, mereka akan sampai di depan gerbang desa. Ketika semakin mendekati gapura yang terlihat kusam dan kuno itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian melihat pemakaman yang tidak jauh dari sana. Pemakaman terbengkalai yang seakan-akan tidak pernah lagi ada orang yang mau menziarahinya. Pemakaman yang justru terlihat mengerikan dengan banyaknya tanaman liar yang menyelimuti. Gapura yang kusam, kuno dan sedikit rusak. Lalu pemakaman terbengkalai yang membuat bulu kuduk merinding saat melihatnya. Juga hutan lebat yang berkabut, serta panorama yang sedang terbungkus oleh langit petang yang cahayanya kian memudar. Tentu suasana saat ini membuat ke-empat mahasiswa itu merasakan hawa berbeda. Tempat dimana mereka berpijak kini, seakan membuat mereka merasa berada di alam lain. Tapi, suasana mencekam ternyata belumlah selesai. Sesaat mereka sampai di dekat gapura, Pak Tomo menyuruh para mahasiswa itu untuk berhenti. Dengan menghormati permintaannya, Abil, Estu, Hagia dan Dian pun menuruti. Kini ke empat mahasiswa itu sedang berdiri di dekat kumpulan bunga mawar yang tumbuh liar di sana. Dan di kala mereka berempat berdiri mematung, Pak Tomo mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya, lalu berkata, "Sekarang, lukai jari kalian. Lalu teteskan darah kalian ke atas bunga mawar ini." Titah Pak Tomo sembari menyodorkan pisau kecil. Sontak, kalimat Pak Tomo barusan membuat para mahasiswa ini mengernyitkan dahi. Tanpa mampu berkata-kata, Abil, Estu, Hagia dan Dian hanya bisa melirik satu sama lain dengan raut wajah keheranan. Mereka heran dengan permintaan Pak Tomo yang janggal. Dan jelas, banyak hal yang sedang terlintas di benak mereka untuk ditanyakan. Tapi belum sempat ada yang memprotes atau sekedar mengajukan pertanyaan, Pak Tomo kembali berkata, "Ayo mas, mbak, ndak apa-apa. Ini cuma adat desa aja. Kalo ada orang luar mau masuk desa, memang seperti ini adatnya." Tak yakin dengan adat yang dianggapnya nyeleneh tersebut, Dian langsung melempar pertanyaan kepada Pak Tomo dengan berkata, "Kalau boleh tau, fungsinya buat apa ya pak?" Tanya Dian dengan wajah yang heran. Pak Tomo pun langsung menjelaskan, "Ini adalah warisan leluhur kami. Leluhur kami menyebutnya getih mawar. Leluhur kami bilang, adat ini berguna buat memberikan perlindungan kepada orang luar yang mau masuk ke desa." Jawaban Pak Tomo barusan masih dianggap kurang logis. Dengan cepat, kini Hagia gantian menimpal dengan bertanya, "Jadi maksudnya, desa Abimantrana itu berbahaya gitu pak?" Pertanyaan Hagia barusan membuat Pak Tomo sedikit mengerjap. Tapi dengan tenang, Pak Tomo pun menjelaskan dengan bertutur, "Ndak. Bukan itu maksudnya. Maksudnya begini mbak. Getih mawar itu semacam adat supaya energi di desa kami menyelimuti kalian. Supaya leluhur kami mengenal kalian. Supaya kalian bisa betah. Maklum mbak, namanya juga desa pelosok. Pasti banyak adat kami yang aneh bagi orang luar." Tutur Pak Tomo sembari tertawa kecil. Lalu Pak Tomo pun melanjutkan seraya berkata, "Getih mawar ini harus kalian jalani kalau mau masuk desa. Kalau kalian ndak sanggup, saya persilahkan untuk pulang." Tegas Pak Tomo mengakhirinya kalimatnya. Setelah Pak Tomo menjabarkan dengan jelas adat yang bernama Getih mawar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian meminta waktu sebentar kepada Pak Tomo. Mereka meperdebatkan soal ini secara internal. Hagia dan Dian jelas enggan untuk melakukannya, meski itu sebuah adat sekalipun. Dan perdebatan ini akhirnya membuat Abil sendiri merasa bimbang. Abil merasa enggan menjalankan adat, tapi di sisi lain, mau tidak mau mereka harus melakukannya agar rencana KKN ini berjalan lancar. Dengan meminta sedikit waktu lebih kepada Pak Tomo, mereka terus memperdebatkan hal ini. Tapi saat Abil, Hagia dan Dian berdebat, tetiba saja mereka melihat Estu melangkahkan kakinya, maju menghampiri Pak Tomo. Lalu Estu meminta pisau itu dari Pak Tomo dan mulai melukai ujung jari kelingking kirinya. Kemudian, bunga mawar di sana mulai basah dengan tetes darah yang jatuh dari jari kelingking Estu. Apa yang dilakukan Estu barusan jelas membuat Abil, Hagia dan Dian terkejut. Mereka yang sebelumnya berdebat, kini tidak bisa berkata-kata. Mereka heran dengan tingkah Estu yang dengan santai mau melakukan adat janggal itu. Tapi setelah Estu melakukan adat Getih mawar, pikiran Abil kini tidak lagi menjadi bimbang. Tidak peduli dengan sanggahan Hagia dan Dian, kini Abil mulai melangkahkan kakinya menghampiri Estu. Abil meminta pisau kecil itu darinya, lalu mulai menyayat jari kelingking kirinya dengan cepat. Kini, darah Abil mulai menetes membasahi bunga-bunga mawar di sana. Abil yang baru saja melakukan Getih mawar mulai mencoba menasehati Hagia dan Dian agar mau melakukannya juga. Ada sedikit gesekan yang terjadi. Tapi dengan terus membujuk mereka berulang-ulang, akhirnya Hagia pun mengalah. Asumsi logis yang keluar dari mulut Abil membuat Hagia akhirnya luluh. Kini, Hagia siap melakukan Getih mawar. Tapi saat hagia ingin melangkah menghampiri Abil, pergelangan tangannya sempat ditahan oleh Dian. Dian menggenggam tangan Hagia dengan cukup kuat. Secara simbolis, Dian bermaksud menghentikan Hagia. Dian ingin Hagia tidak melakukan Getih mawar. Bahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dian berharap semua temannya mau memikirkan rencana KKN ini ulang. Raut wajahnya yang meringis semakin menyiratkan bahwa Dian sedang ketakutan. Mengerti maksud Dian, Hagia balik menggenggam tangannya. Hagia mencoba menenangkan teman baiknya itu sembari berkata, "Gapapa. Lo tenang aja. Ini cuma adat doang kok. Lagian kita udah di sini. Gak mungkin kan kita batalin KKN nya." Tutur Hagia dengan lembut. Getih mawar adalah adat yang mau tidak mau harus dilakukan agar bisa memasuki desa. Meski dari lubuk hatinya yang paling dalam, jujur Dian merasa tak sanggup menjalani adat itu. Tapi demi teman-temannya, Dian berusaha termotivasi agar bisa mengalahkan dirinya sendiri. Setelah meminta waktu beberapa saat, Dian pun menarik nafas panjang lalu membuka matanya. Meski sorot matanya menyiratkan bahwa ia merasa enggan, tapi pada akhirnya Dian pun menurut. Kini, Hagia dan Dian mulai menyayat ujung jari mereka secara bergantian. Tetes darah keduanya mulai jatuh basahi bunga-bunga mawar di sana. Dan setelah menjalani getih mawar, para mahasiswa itu pun, mulai memasuki desa. BERSAMBUNG. Note : Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah : Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast) https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD