Pagi hari dimeja makan, semua sudah berkumpul, papa, dan ketiga anakku
"pagi mah, pah, pagi sayang" sambil ku kecup kepala ketiga anakku.
"pagi juga sayang, bagaimana tidurmu?" tanya papa
"yah begitulah pah" jawabku santai.
hening
setelah selesai sarapan, aku di antar papa dan mama pulang, seperti yang semalam sudah papa sampaikan. papa ingin bertemu dengan mas hamdan.
hamdan
entah kenapa, aku selalu di penuhi amarah setiap kali ada hal yg membuatku pusing.
aku pun sadar, jika aku selalu menyakiti hati istriku, dan selalu kasar terhadap anakku pula.
kemarin, aku telah melukai hati istriku lagi. rasa bersalah pun muncul setelah melihat istriku pergi dari rumah.
tok tok tok
ketukan pintu itu membangunkan lamunanku.
segera ku bukakan pintu.
"papa?" kuraih tangan papa mertuaku, lalu kusalami dengan takzim
"silahkan masuk pah"
"hamdan, papa tidak ingin berbasa basi dengan mu" seketika jantungku berdegup kencang mendengar mertuaku to the point seperti ini
"ini masalah" gumamku dalam hati
"hamdan, icha sudah menceritakan semuanya pada papa dan mama" aku langsung tertunduk, "apakah benar kamu sering melampiaskan amarahmu terhadap icha dan cucu-cucuku?" tanya papa, dan aku hanya bisa mengangguk pelan,
"seumur hidup papa membesarkan icha, papa dan mama tidak pernah membentak dan memarahi icha, sedangkan kamu, berani membentak dan memarahi icha tanpa ia melakukan kesalahan?" nada bicara beliau masih pelan tapi penuh penekanan
"maaf pah, aku khilaf" ucapku
"khilaf kau bilang? 8 tahun icha berumah tangga dengan mu, menderita karena perlakuanmu, menahannya sendiri demi menutupi aibmu dihadapan kami. dan kau bilang khilaf?"
deg
"ya tuhan, raut wajah papa memerah, kumohon jangan sampai papa memisahkan kami, aku tak sanggup jika itu terjadi" gumamku dalam hati
"aku minta maaf pah, aku takkan mengulanginya lagi, aku menyesal" sesalku
"lalu bagaimana cara kami agar percaya kalau kau akan berubah?" tanya mertuaku
"aku akan mencoba mena--" belum sempat melanjutkan papa langsung memotong ucapanku
"mencoba? kalau gagal?"
aku melirik istriku, kulihat ia hanya tertunduk,
"baiklah, aku serahkan semuanya pada icha, dia yg akan menjalani maka keputusan ada di tangannya" putus mertuaku
setelah mengucapkan itu papa, pamit pulang.
dan tinggalah aku berdua dengan istriku, saling berhadapan tanpa ada yg memulai percakapan.
"mas"
"icha"
ucap kami berbarengan
"kamu dulu mas" susul icha
"maafkan mas yang selalu melukai hati mu, mas tak bermaksud begitu, mas hanya emosi sesaat, kamu kan tau aku gimana" ucapku
"tidak bermaksud mas bilang? selama 8 tahun aku sabar mas menahan perih di hati, sudah tak pernah cukup memenuhi kebutuhan, tak pernah mau membantuku mengurus anak-anak, dan selalu melampiaskan amarahmu kepadaku, lalu dengan mudahnya kau bilang tak bermaksud? ck, aku mencintaimu tulus mas, tak pernah aku menuntutmu macam2, tapi kau tak pernah berubah, aku lelah mas,"
diam. ya hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tak mau istriku semakin marah, yang akan berakibat fatal nantinya.
"kenapa diam mas?" tanya istriku
"apa yang harus aku jawab kalau semuanya sudah kau beberkan, aku memang salah, maafkan mas ya sayang" rayuku, yang biasanya bisa meluluhkan hatinya, tapi tak ada jawaban
hening
"aku minta pisah mas" ucap istriku tiba-tiba
"tidak sayang, jangan bicara seperti itu, aku tak bisa tanpamu" jujurku
"hah? tak salah mas bicara seperti itu? tak bisa tanpa aku? ooh yaa, karna jika tidak ada aku, tidak ada yg bisa jadi pelampiasanmu bukan? tak ada yg bisa jadi pembantu abadimu, tak ada___" emosinya langsung memuncak, dan pastinya takkan ku biarkan iya melanjutkan ucapannya aku langsung memeluknya, ku rapalkan ucapan maaf berkali2, mohon ampun dari istriku atas luka yg ku torehkan
" maaf kan aku sayang, maaf, mas janji takkan mengulanginya lagi, beri mas kesempatan sekali lagi" mohonku sungguh-sungguh
"aku lelah mas, aku mau istirahat, permisi"
hanya di tinggal ke kamar saja begini rasanya, bagaimana jika dia memilih berpisah dariku.
oh tuhan, aku harus bagai mana?