Temaram lampu jalan menemani perjalanan pulang pemuda dengan sepeda motornya. Sepimya jalanan membuat Revan semakin memacu laju sepeda motornya. Angin malam yang dingin menyapa kasar kulit tangannya yang tak memakai jaket. Revan lupa untuk menggunakan mobilnya hari ini, ia juga melupakan jadwal meminum obatnya. Sepertinya hari ini belum cukup berat, sampai Revan merasakan sakit di perutnya. Ia memang belum memakan apapun sejak pagi hari. Perutnya hanya diisikan kopi di kafe sore hari tadi. Pemuda ini kehilangan nafsunya, ia juga kehilangan semangat untuk menjalani hari. Kalau saja Sarah tidak memaksa Revan untuk pulang dan meminum obat, Revan pasti akan setia menjaga Reval sampai adiknya terbangun. Ia tidak perduli dengan keadaannya sendiri, lagipula yang membuat Reval tidak sadarkan dir

